Postingan

Merubah Dunia Dengan Kata

"Apabila seseorang telah meyakini bahwa kematian akan menghentikannya dari beramal, pasti ia akan mengerjakan sesuatu yang pahalanya mengalir pasca kematiannya. Ia akan : Mewakafkan tanah, menanamkan tanaman, menggali sumur, mengusahakan keturunan yg akan mengingat Allah sepeninggalnya, atau menulis buku"
-Ibnu Al-Jauzi-

Mempersiapkan bekal terbaik untuk akhirat bukanlah hal yang sepele. Perlu banyak ikhtiar, komitmen yang kuat kepada Allah untuk terus berbuat kebaikan serta berusaha berjuang untuk kemaslahatan ummat. Salah satu yang menjadi ikhtiarku adalah "Menulis Buku". Menulis buku yang kelak dapat menjadi inspirasi banyak manusia untuk berbuat baik, berupaya baik dan tak lelah menebar kasih sayang. 
Menulis adalah mengekspresikan karya melalui bahasa pena, itulah setidaknya yang dapat meredakanku dari pikiran, imaji dan doa yang terus menerus tak henti kulantunkan untuk bangsa ini. Kesibukan pekerjaan tak lantas membuatku berhenti berkarya, bahwa menulis adalah …

Cinta Di Ujung Senja

“Pada akhirnya senja hanya semakin menjauh. Namun ia tak pernah sanggup melenyapkan cinta yang paling diam dari pandangan mata, apalagi hati. Lalu aku hanya menunggunya saat magrib tiba.” Perkara cinta memang tidak selayaknya kita batasi hanya dari mata turun ke hati atau dari lisan kemudian bermuara menjadi sikap. Bukan. Tidakkah cinta tidak mengenal batas? Ia bergelayut mesra masuk ke dalam ruang-ruang hati. Berdesir indah dalam nurani, seperti senja yang merindukan langit tatkala matahari hendak meninggalkan bumi. Begitu megah mendefinisikan cinta yang merona dalam wajah-wajah sunyi, serupa warna jingga cahaya matahari di sore hari.
Barangkali hati lebih dulu mengetahui rasa daripada mata, kadang aku iri dengan hati ia lebih cepat menangkap sinyal bahagia ketimbang mata yang seringkali menimbang terlampau lama. Begitukah cinta bermertamofosa menjadi bait-bait rindu meski perjumpaan tidak selamanya. Satu hal yang sungguh menghanyutkan hati, bahwa cinta itu sesungguhnya menumbuhkan se…

Di Balik Lensa: Menuju Karya Pertama

"Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan..." ~HR. Muslim~
Setiap manusia memiliki dimensi imajinya tersendiri, bagian manakah yang paling mendekatkan pada Illahi? Rasanya jika diakui sungguh apa yang menurut kita indah bisa jadi tidak bagi Sang Pencipta atau sebaliknya yang menurut kita biasa saja barangkali sangat indah dihadapanNya.
Seringkali kita terbuai dengan hal yang sifatnya fana, padahal sungguh selayaknya kita sadari bahwa dunia tidak lain hanyalah sendau gurau dan permainan dan akhirat sebenar-benar tempat kembali. Kita terkadang lupa bahwa setiap detik yang dilalui adalah perjalanan menuju kepadaNya. Bukankah setiap dari kita sesungguhnya sedang melakukan perjalanan? Perjalanan hati menuju kepadaNya, Allah Yang Maha Mencintai.
Hari ini banyak sekali hikmah yang Allah sampaikan dengan sangat lembut dan mesra kepada saya, bahwa keindahan letaknya bukan di pelupuk mata namun dekat dengan hati. Tanpa disadari Allah sampaikan itu lekat sekali, hingga setiap…

Bersikap Biasa

Setiap dari kita memiliki rahasia, menyembunyikannya dari orang lain bahkan dengan diri kita sendiri. Mencoba untuk mengikhlaskan, mencoba untuk berdamai dengan waktu. Mencoba untuk melupakan. Barangkali kita sedang berproses menuju kesana.
Terkadang mudah bagi orang untuk menceritakan hal baik, kebahagiaan, kenikmatan bahkan prestasi namun untuk kesedihan, kedukaan bahkan penderitaan kebanyakan dari kita adalah diam. Menyembunyikan segala rasa dan pasrah terhadap segala takdirNya. Itu kita, yang secara fitrah tidak ingin terlihat lemah dan tak berdaya di hadapan khalayak.
Barangkali ada baiknya jika kita berusaha untuk bersikap biasa di hadapan orang lain. Ketika bahagia tidak terlalu mengikuti euforia, ketika bersedih tidak terlampau menyesakkan. Karena sejatinya perasaan kita hanya Allah yang tau, hanya Allah yang mengetahui secara detail bagaimana hati dan pikiran kita. Maka, bersikap biasa, tidak berlebihan dan tau porsi adalah sikap yang cukup bijaksana.
Terkadang pula kita tidak m…

Di Balik Lensa

Gambar
Terkadang detik terlampau lama untuk ditunggu
Presisi rasanya tidak lagi menjadi candu
Kepekaan terhadap warna menjadi nyata
Bukan objek pelipur lara namun jiwa yang selalu merdeka

Setiap lensa memiliki cerita
Ia membidik dengan sempurna
Jika focus adalah tujuan
Maka buat apa menjadi durja

Kosong, terkadang ilusi mengalahkan logika
Begitu pula aku yang sedang merana
Entah karena dinding bebatuan di sekat itu
Atau mungkin ketidaktahuanku yang semakin merajalela

Lensa tersenyum padaku
Hei! Apa yang hendak kau bidik?
Diam adalah membisu, seperti hari ini aku tidak berseru
Diam!
Aku sedang berkontemplasi dengan sepia
Rasanya sendu namun berpadu

Bidiklah hal yang baik! Hei!
Lensa tak bernyawa namun ia patuh pada sang tuan
Dikembalikannya focus seperti semula
Ternyata aku hanya sekedar perupa
Yang mengetahui bahwa keindahan itu ada
Namun sepi sendiri tak bersuara

Lensa menjadikanku semakin gempita
Aku tau!
Tidakkah aku harus membidik hal yang baik saja?
Seperti layaknya sang juru foto yang baik nan bersahaja
Bukan amb…

Untuk Bapak (Part 4)

“To a father growing old nothing is dearer than a daughter.” — EuripidesBapak, engkau tentu tau. Apa hal yang paling membahagiakan bagiku saat ini? Bisa menjadi yang engkau banggakan, engkau cintai sepenuh hati dan engkau doakan sepanjang kehidupan. Terima kasih tak pernah letih memperjuangkan ananda, anak perempuanmu. Terima kasih telah begitu dalam mencintaiku, meskipun terkadang ananda tidak paham.
Bapak, tentu engkau mengerti bahwa terkadang ketika kita berharap, kenyataannya tidak selalu sejalan. Ananda tau engkau adalah seniman handal yang dicintai banyak orang, budayawan sukses yang dihormati banyak orang, pelukis hebat yang dirindukan karyanya serta penyair santun yang luar biasa puisinya. Ananda bangga memiliki Bapak yang mulia pekerjaannya. Terima kasih pula telah mengajari ananda dan adik-adik mengenai arti kehidupan melalui seni dan sastra yang mungkin tidak didapatkan oleh anak lainnya.
Terima kasih Pak telah menjadi suami Ibu yang luar biasa, terima kasih telah banyak berp…

KITA

Kita barangkali sedang bermimpi, berjalan dalam labirin-labirin yang entah dimana ujungnya. Berputar-putar tak tentu arah. Kita sedang berlari memutar waktu, yang sering terlupakan akibat terlena oleh dunia. Kita tidak sadar betul bahwa dunia hanyalah sendau gurau dan akhirat tempat sebenar-benarnya.
Kita sejatinya makhluk kecil dengan seribu problematika yang hanya bisa mengiba tatkala ujian datang. Kita sebenarnya hanya makhluk bernyawa yang Allah cipta untuk menyembah dan patuh kepadaNya. Kita hanyalah manusia dari pencipta Yang Maha Segala, Allah Azza Wa Jalla.
Kita tidak lain adalah jiwa-jiwa kesepian yang terundung duka saat nyawa diambil oleh Sang Maha Esa namun bekal menghadapNya tidaklah cukup. Kita yang terlalu berharap pada kilau dunia dan tidak sadar bahwa dunia sejatinya penuh kepalsuan, fana dan permainan.
Kita ini tidak lebih dari manusia biasa yang cobaannya tidak jauh dari keimanan dan ketaqwaan. Allah memilih siapa yang paling baik dari kita. Siapa yang paling sempurna …