Postingan

Mimpi itu Kian Dekat

Aku ingin jadi penulis... A good writer, you know that? Kau tau mimpiku sedari kecil ini kan? Mimpi yang tak mungkin kalah oleh waktu. Sungguh, aku akan memperjuangkannya. Benar-benar berjuang!.
Selepas mengikuti workshop aku akan mulai menulis kembali. Menulis novel "Melukis Pelangi" yang terhenti begitu sangat lama. Entah, apa yang sebenarnya membuatku berhenti begitu lama untuk meneruskannya. Mungkin pekerjaan yang menyibukkan atau suasana hati yang tidak mendukung?. Ah, lagi-lagi itu alasan klise. Aku selalu mengikuti kata hati, dan beberapa bulan ini sungguh hatiku sedang beradaptasi. Berbagai ujian dan cobaan datang mendera, Allah sedang teramat cinta. Ingin begitu dekat dengan hambaNya.
Aku tau derai air mata tidaklah cukup menghapus segenap rasa. Hanya kepada Allah lah aku berserah. Hanya kepadaNya lah jiwa ini memohon. Luka belum juga mengering Allah tambah lagi dengan pilu yang ngilu. Pasrah adalah jawaban terbaik dari segala kegelisahan. Ridho adalah sikap yang seh…

Apakabar Calon Pendampingku? Part V

Assalammualaikum, calon imam dunia akhiratku, apakabar hatimu saat ini? Masihkah bersabar pada penantianmu? Sungguh, sabar adalah hal yang baik. Melatih kesabaran engkau dapat berpuasa atau bersedekah. Inti dari kesabaran adalah cinta. Kepada RabbMu Yang Maha Bijaksana.
Akhi, engkau tau? Menjadi seorang istri dan seorang ibu membutuhkan ilmu. Dan aku sedang mempelajari dengan sungguh-sungguh. Apakah engkau sedang juga belajar agar kelak menjadi seorang suami dan ayah yang baik?.
Akhi, berdoalah dalam harap kepada Allah.Karena Allah yang kelak mempersatukan kita, dalan ikatan suci nan sakral bernama pernikahan. Janji untuk senantiasa beribadah dan mengumpulkan bekal kelak untuk menghadapNya. Bersama denganmu yang entah siapa, insya Allah berkah hingga surgaNya.
Calon imam dunia akhiratku, tetaplah istiqomah dengan amalmu yang luar biasa. Tetaplah berzikir dengan segenap hatimu yang bijaksana. Tenanglah, Allah Maha Mengasihi, Allah mengetahui bagaimana dan dengan cara bagaimana kita akan b…

Merekah Cinta, Merenda RidhoNya

"Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah."(QS. Al Baqarah: 165). Siapa yang paling kalian cintai? yang pertama dan utama dalam hati? yang menjadi alasan dari semua alasan, yang menjadi rujukan pertama dalam setiap episode kehidupan? Siapa? Apakah dirimu sendiri? Orangtua? atau keluarga? Atau bahkan pasangan hidup?. Pertanyaan ini tentu tidak mudah dijawab. laksana senyum simpul yang tak tau maknanya, sulit rasanya mengurai setiap perasaan cinta. Ia serupa buih di tengah lautan, tak nampak memang namun ada. Atau seperti cahaya mengkilat keemasan dari sinar matahari terang. Terasa cahaya itu hadir, namun tak tau dari arah mana datangnya.
Terkadang manusia menerjemahkan cinta hanya dari satu fragmen saja, berwarna jingga katanya. Padahal, bukankah cinta tak memiliki warna? Ia seperti sepia, lembut tapi mesra. Tidak mungkin bisa diterjemahkan hanya dari satu warna saja. Cinta hadir bukan dari mata atau hanya sekedar tawa. Atau hanya sekedar pertemuan, p…

Menghargai Proses

Terkadang, manusia terlalu fokus pada tujuan sehingga melupakan proses yang justru lebih bermakna.
Allah menghargai setiap detik prosesnya bukan? Sekalipun kita dihadapkan pada jalan yang berliku, persimpangan yang membingungkan bahkan kelelahan tiada tara. Proses menuju tujuan itulah yang menempa kita menjadi pribadi yang lebih baik, menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Tak jarang sebagian dari kita merasa putus asa, tidak yakin bahkan berhenti meneruskan. Ketidaksanggupan memunculkan berbagai ragam cara, strategi atau mungkin mencari jalan ilegal. Itulah manusia. Proses membuat segalanya menjadi runyam. Namun bagi mereka yang menghargai betul makna proses, mereka akan melakukan segala macam kebaikan untuk menuju tujuan.
Jalan yang ditempuh pun beragam. Ada yang memilih memutar arah untuk sekedar menikmati perjalanan, menghirup udara segar, bertemu dengan beragam karakter manusia, mencari tempat berteduh, bahkan berhenti dari satu tempat ke tempat lainnya. Ada juga yang memilih jalan t…

Rinduku Menjelma Menjadi Puisi

Rinduku menjelma menjadi puisi
Dalam labirin sunyi aku bertanya
Akankah kutemukan cahaya jiwa disana?
Yang pendarnya masuk ke ruang kalbu
Rinduku menjelma menjadi puisi
Seperti hujan yang tak lelah menunggu pelangi
Akankah setiap derainya bergemuruh?
Seperti suara hatiku yang getar terkurung rindu
Rinduku menjelma menjadi puisi
Bahkan tawa tak juga menghentikan ku
Pada larik bahasa cinta yang kau tabur
Seperti doa dan asa yang melangit tinggi
Aku rindu
Dan rinduku menjelma menjadi puisi
Seperti malam yang rela menunggu fajar
Meski bulan purnama merona jingga
Meski bintang gemerlap di langit luas
Aku tetap rindu
Aku rindu
Dan rinduku menjelma menjadi puisi
Meski aku tak tau benar mengapa aku rindu Hanya ridhoMu yang kutunggu Dalam setiap jejak langkahku
Dan aku menunggu Seperti jiwa tertawan rindu
Dan rinduku menjelma menjadi puisi Kemudian hati berpaut pada cinta Illahi
@kenulinnuha
Juli, 2017

Hatiku Bukanlah Baja

Karena hatiku bukanlah baja yang kuat dan tahan berbagai hantaman, hatiku melainkan langit yang maha luas, dan langit juga bisa menangis. Namun aku tegar, setegar karang yang rela dihantam bertubi-tubi dengan ombak, tetap berdiri tegak meskipun payah dan terombang-ambing karam.Senja diufuk barat terasa jingga menusuk kalbu, pekerjaan menjadi seorang amil adalah cinta sekaligus rahmat. Aku bahagia menjadi bagian dari perjuangan untuk mensejahterakan papa, tidak hanya aku yang mensyukuri takdir Allah, tapi juga Bapak dan Ibuku. Kedua orang tua yang berhasil menjadikanku anak terbaik secara sosial empati menurut mereka.

Barangkali ada seutas senyum merenda dalam sanubariku, aku sungguh rindu hari-hari kemarin. Senyum itu lantas berubah syahdu, melembut mesra menjadi titik-titik nadir di bawah pelupuk mata. Mataku basah, aku sesekali menengok ke luar. Bagaimana manusia bisa serapuh ini ya? Mungkin jika manusia tidak diberi rasa tegar dan sabar ia akan mudah sekali jatuh. Seperti buah yang …

1 Ramadhan, Momentum Untuk Berubah

Love is everywhere So much peace fills up the air Ramadan month of the Quran  I feel it inside of me, strengthening my Iman
[Maher Zain, Ramadhan]
Alhamdullilah, finally Ramadhan! Bulan yang sungguh dirindukan datang. Terima Kasih Ya Rabb, telah memberikan kesempatan kami untuk merasakan kecupan manis bermunajat kepadaMu di bulan ini. Terima kasih telah memberikan kami karunia untuk merasakan betapa cintaMu sungguh amat dekat. Terima kasih telah memberikan kami anugerah berupa shiyam dan qiyam yang penuh barokah. Alhamdullilah, Alhamdullilah, Alhamdullilah.
Saatnya untuk menyusun proposal hidup setahun ke depan, dengan berusaha memperbaiki diri di hadapan Allah. Momentum terbaik untuk berubah menjadi pribadi yang lebih bertaqwa, better than before. Saatnya untuk meminta ampun atas segala kesalahan dan kekhilafan yang pernah ditorehkan baik lisan maupun perbuatan. Saatnya bangkit dari keterpurukan, saatnya untuk berubah!.
Sungguh, kebahagiaan hakiki dari seorang manusia adalah dicintai Al…