Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2026

Novel 7.305 Hari Menjaga Asa dalam Doa: BAB 1 -- Saat Doa Bergemuruh Di Langit

Saat Doa Bergemuruh Di Langit  "Barangkali Allah tidak pernah benar-benar memisahkan dua hati yang saling menjaga. Dia hanya menanam jarak agar rindu belajar menjadi sabar, lalu sabar belajar menjadi cahaya." Hari itu hujan turun pelan. Bukan hujan yang jatuh seperti amarah langit, melainkan seperti seseorang yang sedang belajar menangis tanpa suara tetesnya halus, rapi, nyaris sopan, seolah bumi pun harus diberi waktu untuk menerima duka yang turun dari atas. Di pelataran sebuah masjid tua, seorang perempuan berdiri memeluk map berwarna biru tua. Kerudung krem yang dikenakannya beberapa kali terangkat angin, lalu jatuh kembali ke bahunya seperti ombak kecil yang tak pernah benar-benar pergi dari pantai. Usianya empat puluh tahun. Di sela hijabnya, beberapa helai rambut putih mulai tampak—seperti serpihan salju yang tersesat di musim yang terlalu lama menunggu. Di jemarinya masih melingkar cincin yang sudah lama kehilangan pasangan untuk digenggam. Lingkar kecil itu terasa se...

Novel 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: Ambang Kisah

Gambar
  PROLOG "Ada cinta yang memilih bersujud begitu lama, hingga ketika ia berdiri, Allah telah lebih dahulu mengubahnya menjadi doa yang dikabulkan." Konon, ada doa yang tidak pernah selesai diucapkan. Bukan karena lisannya kehabisan kata. Melainkan karena langit belum selesai menulis jawabannya. Orang-orang sering mengira bahwa cinta selalu dikenali dari seberapa berani ia diucapkan. Padahal, ada cinta yang justru tumbuh paling subur di tempat yang tidak pernah terdengar oleh manusia. Di antara desir tasbih yang diputar perlahan. Di sela air mata yang jatuh tanpa saksi. Di penghujung tahajud ketika dunia masih begitu sunyi,   Sementara langit sibuk mencatat nama-nama yang disebut dengan penuh harap. Barangkali begitulah cara Allah menjaga sebagian hati. Bukan dengan mempercepat pertemuan. Bukan pula dengan mengabulkan seluruh keinginan. Melainkan dengan membiarkan waktu mengikis segala yang fana, hingga yang tersisa hanyalah doa. Sebab doa tidak pernah tergesa. Ia tahu jal...

Puisi Menuju Novel Pertamaku 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: Doa yang Berbunga di Langit

Doa yang Berbunga di Langit Kita adalah dua musim yang diajarkan langit untuk tidak saling memiliki hujan. Engkau menjelma fajar yang setiap pagi menyapaku tanpa suara, sedang aku hanyalah embun yang memilih menguap sebelum sempat dipungut cahaya. Maka kita belajar bahwa rindu tak selalu meminta alamat pulang. Pernah suatu kali aku menyulam namamu dengan benang-benang tasbih. Bukan pada selembar surat, melainkan pada sajadah yang setiap malam menghafal getar dahiku. Sebab ada cinta yang terlalu suci untuk dititipkan kepada manusia. Maka kusimpan ia di telapak langit, agar hanya Allah yang mengetahui harum mekarnya. Waktu kemudian menjelma sungai. Ia membawa kita ke muara yang berbeda. Engkau menjadi teduh di jendela rumahmu. Aku menjadi lampu di beranda rumahku. Kita sama-sama menyalakan bahagia bagi orang-orang yang Allah amanahkan. Sementara rindu... tetap menjadi burung migrasi yang hanya pulang ke arah doa. Lalu tujuh ribu tiga ratus lima hari berlalu seperti daun-daun trembesi yan...