Postingan

Menampilkan postingan dengan label UNTUK BAPAK

Untuk Bapak [Part 5]

“Ayah adalah yang teristimewa di dunia sebab dari keringatnya ia memberi tapak untuk melangkah.” My father gave me the greatest gift anyone could give another person, he believed in me. Bapak begitu percaya bahwa setiap anak-anaknya akan tumbuh menjadi orang baik yang mencintai Allah dan RasulNya. Dan Bapak, beliau orang tua terbaik yang pernah kumiliki dalam hidup. Aku tidak pernah sekalipun melihat Bapak mengeluh, beliau selalu sederhana memandang persoalan hidup. Walaupun terkadang aku tidak tau apa yang sedang beliau pikirkan dan rasakan. Aku hanya bisa menerka saja. Gerimis tidak berhenti, aku sengaja tidak memakai jas hujan. Aku biarkan derai-derai hujan menerpa wajahku, kupejamkan mata dan kuresapi tiap bulir yang menetes dari langit. Aku, anak paling bahagia. Bapak selalu ingin mengantarku kerja, menjemputku, mengantarkanku kemanapun kumau. Bapak selalu berkata: "Kamu belum punya suami, jadi Bapak yang akan antar. Kamu ga boleh naik kendaraan sendiri, harus...

Untuk Bapak (Part 4)

“To a father growing old nothing is dearer than a daughter.” — Euripides Bapak, engkau tentu tau. Apa hal yang paling membahagiakan bagiku saat ini? Bisa menjadi yang engkau banggakan, engkau cintai sepenuh hati dan engkau doakan sepanjang kehidupan. Terima kasih tak pernah letih memperjuangkan ananda, anak perempuanmu. Terima kasih telah begitu dalam mencintaiku, meskipun terkadang ananda tidak paham. Bapak, tentu engkau mengerti bahwa terkadang ketika kita berharap, kenyataannya tidak selalu sejalan. Ananda tau engkau adalah seniman handal yang dicintai banyak orang, budayawan sukses yang dihormati banyak orang, pelukis hebat yang dirindukan karyanya serta penyair santun yang luar biasa puisinya. Ananda bangga memiliki Bapak yang mulia pekerjaannya. Terima kasih pula telah mengajari ananda dan adik-adik mengenai arti kehidupan melalui seni dan sastra yang mungkin tidak didapatkan oleh anak lainnya. Terima kasih Pak telah menjadi suami Ibu yang luar biasa, terima kasih tel...

Menikmati Rasa Dengan Puisi

Assalammualaykum ikhwah fillah, Alhamdullilah Happy Saturday .. Romantis ya menikmati gerimis di pagi hari bersama segala doa yang dilantunkan? Begitu juga dengan pagi saya bersama keluarga, begitu romantis. Ditemani secangkir teh dan mendoan hangat buatan ibu. Seakan kebahagiaan itu tak lekang oleh waktu, ia masuk ke dalam rasa bernama Cinta :). Pagi ini Bapak tiba-tiba mengajak kami berdiskusi tentang puisi, masuk ke dalam frase-frase imajinasi. Bapak memang pintar membuat kami anak-anaknya takjub terhadap sastra dan seni. Benar-benar masuk ke dalam darah dan menancap dalam hati. "Puisi itu cinta, ia tidak sekedar ekspresi tapi impresi. Impresi itu inner, Ken. Keluarnya dari hati. Contohnya aja Niken, Niken itu dalam diamnya ketika sedang membaca atau menulis lebih impresif, seperti magnet. Puisi seperti itu, ditulis dengan impresi, melalui hati. Kita tidak mungkin menerjemahkan bahasa puisi ke dalam sekedar logika atau kata-kata. Puisi lebih dari itu, seperti Niken k...

Untuk Bapak [Part 3]

Gambar
Bapak, terima kasih telah meluangkan waktu yang banyak untuk mengobrol dengan Niken malam ini. Walau rasanya sepi tanpa Dek Bre, Dek Arya juga Dek Zahid. Dek Sasa sedang asik dengan ibu, Niken jadi punya waktu mengobrol dengan Bapak :). Jujur, entah perasaan apa yang sedang Niken rasakan. Tapi Niken rindu pada kebersamaan bersama Adik-adik. Lengkap. Bercanda dan saling melempar ejekan. Jujur, Niken kehilangan teman berdiskusi soal sejarah dan alam. Biasanya Dek Bre setiap malam selalu diskusi dengan Niken. Tentang buku yang baru dia baca atau pengalamannya ketika pulang dari hiking. Bapak, Niken juga rindu dengan Dek Arya. Dia suka sekali menyanyi. Memberikan rekaman cover lagu nya pada Niken. Apakabar ya adek-adek sekarang? Niken bangga menjadi kakak mereka. Mereka semua sukses sesuai impiannya masing-masing. Tentu Bapak bangga bukan?. Anak-anak Bapak Ibu semuanya sukses, seperti harapan Bapak dan Ibu. Walau Bapak selalu mengatakan "Bapak berharap Niken jadi dosen". T...

Untuk Bapak [Part 2]

Gambar
Saya selalu bahagia melihat Bapak akur dengan anak gadisnya, pergi bersama, pantas saja Bapak jadi cinta pertamamu ya Ken.. (Pakdhe Atmo) Bapak, terima kasih telah mengenalkan Niken pada sahabat-sahabat Bapak. Sahabat Bapak yang juga mencintai seni. Sampai2 mereka hapal kapan Niken berulang tahun. Mengucapkan selamat dan memberi kado. Terima kasih telah menceritakan banyak hal baik tentang Niken kepada sahabat-sahabat Bapak, sehingga setiap Bapak mengundang mereka ke rumah yang ditanyakan pertama kali pasti Niken. "Niken mana Niken?". Niken paling suka berdiskusi tentang sastra dengan Bapak. Karena Bapak tau lebih banyak hakikat sastra daripada Niken. Atau sesekali diskusi ringan tentang pilkada (ini menurut kami diskusi ringan). Karena bisa sambil tertawa riang. Kalau sastra atau seni, pasti lebih serius, karena dibicarakan dengan rasa, pake hati, bukan pakai otak. Walaupun Niken sama sekali tidak bisa melukis, tapi Niken hapal sekali goresan sketsa yang Bapak bu...

Untuk Bapak [Part 1]

Gambar
Bapak, terima kasih telah menjadi ayah nomor satu sedunia untuk Niken dan adik-adik, terima kasih telah mencurahkan segenap perasaan cinta dan kasih sayang, terima kasih telah menjadi cinta pertama bagi Niken dan adik-adik. Bapak, ijinkan Niken mengutarakan segala cinta melalui tulisan... Semoga Bapak berkenan membaca :). Terkadang, menjadi anak seniman itu dilematis. Karena mungkin Niken yang harus lebih banyak memahami Bapak yang sibuk berkarya. Asik dengan palet dan cat minyak, mengoleskannya dalam kanvas, penuh warna yang bermakna. Atau bergumam berlatih teater atau puisi yang akan dipentaskan. Juga begadang hingga larut malam membuat tulisan-tulisan sastra. Terkadang, Niken rindu bertatap mesra dan mengobrol sambil tertawa bahagia bersama Bapak. Namun dibalik kesibukan Bapak yang teramat sangat itu, Bapak masih sempat menanyakan kabar secara detail kepada Ibu. Dan baru-baru ini Niken baru tau kalau Bapak suka sekali bercerita tentang kami kepada sahabat-sahabat Bapak. N...

Mengenang Masa Itu: Bapak Terharu

Subhanallah.. Saya baru ingat bahwa dulu Bapak pernah reuni bersama ke 3 sahabat karibnya. Dalam sebuah acara yang mengharu biru, dalam sebuah acara peluncuran buku kumpulan cerpen bapak yang berjudul Tunas. Di halaman prolog penulis, Bapak menulis tentang saya, Anak pertama yang lulus cumlaude. Tetesan air mata perlahan membasahi pipi saya. Ada semacam keharuan pada saat itu. Begini ya rasanya berada dalam lingkaran seni dan budaya, bernapaskan islam dan cinta untukNya. Rasanya seperti ada desiran halus di hati. Saya teringat pada waktu itu, Bapak menangis ketika acara yang cukup spektakuler itu digelar. Baru pertama kali seumur hidup melihat Bapak menangis haru ketika Pakdhe Emha membacakan ayat favorite Bapak, QS. Annur: 35 Cahaya diatas Cahaya. Seluruh penonton yang hadir tenggelam dalam keharuan. Bapak selalu sederhana. Memakai baju dan sarung putih. Paling bersahaja. Mendekap sahabat-sahabat karibnya dengan penuh cinta. Saya tiba-tiba teringat masa itu. Saat dimana seluru...

Belajar dari Persahabatan Bapak: 4-E

Gambar
"Nak, Bapak ingin dikenang sebagai budayawan yang karyanya bermanfaat" "Bapak sudah banyak berkarya, bahkan di usia senja" "Bapak pengen bikin Serial 4-E" "Ide Bagus Pak, Niken tunggu.. Pasti banyak yang nungguin juga" "Nanti ya, setelah tulisan Rendra selesai" "Siap Big Boss :)" Kagum. itulah yang hanya bisa saya katakan. Bapak benar-benar seniman yang mencintai Allah dengan teramat sangat. Berkarya sejak kecil hingga di usia senja. Entah, baru kali ini Bapak bercerita panjang lebar tentang sahabat-sahabat sejatinya. Maybe, karena dulu bapak jarang sekali di rumah, berkelana mengelilingi Indonesia. Menyampaikan seni dan budaya yang sangat dicintainya. Hari ini bapak bercerita tentang ke 4 sahabatnya yang baru saya ketahui detailnya. Ya, disebut 4-E, sahabat yang tak lekang oleh jaman, Emha Ainun Najib, Ebiet G Ade, EH. Kartanegara dan Eko Tunas, Bapak saya. Bapak begitu mencintai seni, Bapak sering bilang kalo Isla...

Share Tulisan Bapak: Mengenang WS.Rendra [Part 2]

Saya melihat Rendra sejak saya SD, 1965-an, di Tegal kota kelahiran saya. Ingatan saya, saat itu di antara banyak tamu ayah saya ada yang di mata kanak-kanak saya cukup mengesankan. Berkaos putih, pantalon putih, sepatu cat putih, dengan ransel tentara di punggung, wajah dan senyumnya begitu simpatik. Sebagai petugas membawakan minuman untuk tamu, saya hapal, tamu yang satu ini lebih suka minum air putih. Seingat saya, beberapa kali beliau datang dan menginap di rumah kami, kalau tidak dari Yogya mau ke Jakarta ya dari Jakarta mau pulang ke Yogya.  Terutama, yang saya ingat betul, saat Ikatan Seniman Muda “Tunas” Tegal mementaskan drama. Lakonnya “Tanda Silang” karya Eugene O Neil, saduran Rendra. Sutradara WS Adhitama, nama keren ayah saya, Wuryanto. Pemainnya antaralain Parto Tegal, Iman Sumarto, Watu Sujiono, dan Susilowati. Dipentaskan di Gedung Gris Tegal, yang kemudian menjadi Gedung Wanita, dan sekarang Gedung Kesenian Tegal.  Ada cerita menarik saat latihan l...

Share Tulisan Bapak: Mengenang WS.Rendra

Lulus SMA 1976, saya minta kepada ayah saya untuk kuliah di Yogya. Atas seabreg faktor keturunan, saya bingung mau kuliah apa. Betapa tidak, darah seni kakek saya dan ayah saya menurun semua kepada saya. Kakek saya, Soegarbo, adalah juru gambar dan pemain Wayang Orang “Ngesti Moeljo” Tegal 1945-an. Ayah saya, Wuryanto, seorang pelukis, cerpenis, sutradara drama, dan wartawan. Nama penanya banyak: WS Adhitama, Atto S Ananda, Bagas Bayung, Kang Siwur. Sebagai jurnalis, ayah saya pernah menerbitkan koran Tegal “Banteng Loreng” yang berkantor di rumah kami. Demikian, karena nilai menggambar di rapor 9, sementara nilai pelajaran lain 5 atau 6, saya memutuskan masuk Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI). Oleh ayah saya, saya dititipkan di Sanggarbambu, pimpinan Soenarto Pr sahabat ayah saya. Sanggarbambu pernah berpameran di Tegal, 1960-an, dan ayah saya penyelenggaranya. Ayah saya juga meminta kepada saya untuk bertemu Rendra sahabatnya juga, seperti yang terungkap dalam tulisan ...

Satu Jam Bersama Bapak

"Islam itu sangat indah, Ken, bahkan menghargai seni dengan begitu sempurna".  Assalammualaykum ikhwah, apakabar? Ga kerasa ya countdown 55 hari lagi bulan Ramadhan? Balighna Ya Ramadhan... Semoga Allah berikan kesempatan untuk mengecup manisnya bulan Maghfirah. Well, sebenernya mau share sedikit nih tentang diskusi saya dengan Bapak yang cukup menggelitik malam ini. Actually , ga mudeng juga sebenernya. Terkadang, berdiskusi panjang lebar dengan budayawan perlu konsentrasi tingkat tinggi. Selain kecerdasan yang diperlukan, juga pemahaman dan pengertian. Karena kalo cepat menyimpulkan sesuatu, makna kata yang disampaikan justru tak berbekas, hanya angin lalu saja. Dan malam ini, ada beberapa hal yang menarik yang saya diskusikan dengan Bapak. Belakangan ini bapak jadi trending topic wartawan senior beberapa media masa, entah sudah berapa banyak wartawan yang menelepon Bapak untuk wawancara khusus terkait kasus yang sedang marak dibicarakan (Top Secret). Heran sih ...

Share Tulisan Bapak Mengenai Taman Budaya Raden Saleh

Menyoal Taman Budaya Raden Saleh Teater Arena yang Hilang PADA 1990 Bambang Sadono menulis di Suara Merdeka: TBRS Idenya Eko Tunas. Setiap mengingat kolom itu, ada perasaan kehilangan pada diri saya. Pada 1981, saya mengantar rombongan Teater RSPD Tegal untuk pentas di Pekan Raya Promosi Pembangunan (PRPP) Semarang. Saat itu PRPP diselenggarakan di THR Tegalwareng, lokasi sebelum TBRS dibangun. Ternyata Teater RSPD pentas di satu arena yang membuat saya takjub. Yakni di bagian belakang area THR Tegalwareng. Satu arena yang cukup luas, layak untuk pementasan kolosal. Untuk sampai di dataran arena itu, kami mesti melewati dua lorong berundak bawah tanah. Para penonton duduk di trap-trap  beton sekeliling teater arena yang dahsyat itu!           Dari rasa takjub itulah, pada 1983 saya menulis di Suara Merdeka: Semarang sudah saatnya Punya Taman Budaya. Dalam tulisan saya itu saya menunjuk tempat yang tepat di lokasi THR Tega...

Catatan Kecil Untuk Bapak

Gambar
Hal Yang paling saya tunggu di malam hari selepas bekerja Dan mengajar adalah mengobrol Dan berdiskusi panjang lebar dengan Bapak. Sejak kecil saya tidak dekat dengan Bapak, Bapak bekerja di luar kota. Pulang sebulan sekali bahkan beberapa bulan sekali. Jarang sekali melewatkan moment bersama Bapak. Hingga beranjak dewasa sungguh impian paling dinanti adalah ngedate bareng Bapak. Bapak memutuskan bekerja di rumah ketika saya lulus SMA. Ada rasa bahagia terbesit dalam hati. Alhamdullilah.. Finally :). Walaupun terkadang Bapak lebih sering asik dengan kanvasnya atau laptopnya untuk menulis karya sastra, saya bersyukur setidaknya Bapak dirumah. Dekat dengan keluarga. Moment paling ditunggu saya, Ibu Dan adik-adik adalah mendengar cerita Bapak. Biasanya selepas mengisi diskusi budaya Bapak bercerita dengan sangat detail kepada kami, khas seorang Seniman. Dengan ekspresi yang membahagiakan Dan penuh Semangat. Hingga terkadang kami takjub Dan tak percaya pada semua yang diutarakan Bap...