Postingan

Novel 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: BAB 3 -- Bangku Yang Selalu Menunggu

BAB 3 Bangku yang Selalu Menunggu "Ada tempat yang dibangun dari semen dan batu. Ada pula tempat yang dibangun dari perjumpaan. Yang kedua, biasanya lebih sulit ditinggalkan." Tidak ada yang istimewa dari bangku itu. Panjangnya bahkan tak sampai tiga meter. Permukaannya mulai diselimuti lumut tipis setiap musim hujan datang, dan di sisi kanannya akar trembesi tua perlahan mendorong tanah, membuat semen di bawahnya retak seperti garis-garis usia pada wajah orang yang terlalu lama menunggu. Namun justru karena kesederhanaannya itulah bangku itu seperti tahu cara menjadi rumah bagi lelah. Setiap sore, ia selalu terisi. Kadang oleh mahasiswa yang sedang menatap proposalnya dengan mata kosong. Kadang oleh mereka yang baru saja kalah dalam debat, lomba, atau hidup. Kadang oleh seseorang yang hanya ingin duduk tanpa harus menjelaskan apa-apa kepada siapa pun. Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, waktu mulai belajar berjalan lebih pelan bagi Asa dan Nika. Hari-hari sebagai Presiden...

Novel 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: BAB 2 -- Hujan yang Datang Terlalu Pagi

  BAB 2 Hujan yang Datang Terlalu Pagi "Barangkali pertemuan bukan tentang siapa yang pertama datang. Melainkan siapa yang diam-diam mengubah cara kita memandang dunia." Tahun 2007. Kampus selalu memiliki bau yang sama setiap awal semester. Bau buku-buku baru yang masih menyimpan wangi kertas. Bau cat tembok yang mulai mengelupas, seperti waktu yang diam-diam mengikis segalanya. Bau rumput yang basah oleh embun pagi. Dan bau mimpi-mimpi muda yang masih rapuh, belum tahu akan dibawa angin ke mana. Asa Farid Ramadhan datang paling pagi. Jam di pergelangan tangannya bahkan belum menunjukkan pukul tujuh ketika ia sudah membuka pintu sekretariat BEM. Ruangan itu masih sepi, seperti dada yang belum sempat diisi suara. Di atas meja, proposal kegiatan menumpuk seperti gunung kecil yang menunggu didaki. Sebuah papan tulis dipenuhi daftar pekerjaan yang belum selesai. Di sudut ruangan, sajadah masih terlipat rapi, menjadi saksi malam-malam panjang yang pernah dihabiskan di sana, malam ...

Novel 7.305 Hari Menjaga Asa dalam Doa: BAB 1 -- Saat Doa Bergemuruh Di Langit

Saat Doa Bergemuruh Di Langit  "Barangkali Allah tidak pernah benar-benar memisahkan dua hati yang saling menjaga. Dia hanya menanam jarak agar rindu belajar menjadi sabar, lalu sabar belajar menjadi cahaya." Hari itu hujan turun pelan. Bukan hujan yang jatuh seperti amarah langit, melainkan seperti seseorang yang sedang belajar menangis tanpa suara tetesnya halus, rapi, nyaris sopan, seolah bumi pun harus diberi waktu untuk menerima duka yang turun dari atas. Di pelataran sebuah masjid tua, seorang perempuan berdiri memeluk map berwarna biru tua. Kerudung krem yang dikenakannya beberapa kali terangkat angin, lalu jatuh kembali ke bahunya seperti ombak kecil yang tak pernah benar-benar pergi dari pantai. Usianya empat puluh tahun. Di sela hijabnya, beberapa helai rambut putih mulai tampak—seperti serpihan salju yang tersesat di musim yang terlalu lama menunggu. Di jemarinya masih melingkar cincin yang sudah lama kehilangan pasangan untuk digenggam. Lingkar kecil itu terasa se...

Novel 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: Ambang Kisah

Gambar
  PROLOG "Ada cinta yang memilih bersujud begitu lama, hingga ketika ia berdiri, Allah telah lebih dahulu mengubahnya menjadi doa yang dikabulkan." Konon, ada doa yang tidak pernah selesai diucapkan. Bukan karena lisannya kehabisan kata. Melainkan karena langit belum selesai menulis jawabannya. Orang-orang sering mengira bahwa cinta selalu dikenali dari seberapa berani ia diucapkan. Padahal, ada cinta yang justru tumbuh paling subur di tempat yang tidak pernah terdengar oleh manusia. Di antara desir tasbih yang diputar perlahan. Di sela air mata yang jatuh tanpa saksi. Di penghujung tahajud ketika dunia masih begitu sunyi,   Sementara langit sibuk mencatat nama-nama yang disebut dengan penuh harap. Barangkali begitulah cara Allah menjaga sebagian hati. Bukan dengan mempercepat pertemuan. Bukan pula dengan mengabulkan seluruh keinginan. Melainkan dengan membiarkan waktu mengikis segala yang fana, hingga yang tersisa hanyalah doa. Sebab doa tidak pernah tergesa. Ia tahu jal...

Puisi Menuju Novel Pertamaku 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: Doa yang Berbunga di Langit

Doa yang Berbunga di Langit Kita adalah dua musim yang diajarkan langit untuk tidak saling memiliki hujan. Engkau menjelma fajar yang setiap pagi menyapaku tanpa suara, sedang aku hanyalah embun yang memilih menguap sebelum sempat dipungut cahaya. Maka kita belajar bahwa rindu tak selalu meminta alamat pulang. Pernah suatu kali aku menyulam namamu dengan benang-benang tasbih. Bukan pada selembar surat, melainkan pada sajadah yang setiap malam menghafal getar dahiku. Sebab ada cinta yang terlalu suci untuk dititipkan kepada manusia. Maka kusimpan ia di telapak langit, agar hanya Allah yang mengetahui harum mekarnya. Waktu kemudian menjelma sungai. Ia membawa kita ke muara yang berbeda. Engkau menjadi teduh di jendela rumahmu. Aku menjadi lampu di beranda rumahku. Kita sama-sama menyalakan bahagia bagi orang-orang yang Allah amanahkan. Sementara rindu... tetap menjadi burung migrasi yang hanya pulang ke arah doa. Lalu tujuh ribu tiga ratus lima hari berlalu seperti daun-daun trembesi yan...

Overture Menuju Novel Blog Pertamaku: 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa

"Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang disembunyikan di dalam dada manusia." Ada doa yang tidak pernah berhenti, meskipun bibir telah lama diam. Ada rindu yang memilih bersujud daripada mencari jalan pulang. Ada cinta yang tidak tumbuh untuk dimiliki, melainkan untuk menjaga seseorang tetap baik-baik saja, meski dari kejauhan. Barangkali begitulah cara Allah mendidik sebagian hati. Bukan dengan mempercepat pertemuan, melainkan dengan mengajarkan kesabaran. Bukan dengan mengabulkan semua harapan saat itu juga, melainkan dengan membentuk manusia agar kelak mampu menerima jawaban-Nya dengan penuh syukur. Novel ini lahir dari keyakinan sederhana bahwa tidak semua kisah memiliki akhir yang sempat disaksikan oleh mata manusia. Sebagian berhenti di sebuah perpisahan. Sebagian selesai pada selembar doa setelah shalat malam. Sebagian lagi tetap hidup di dalam ingatan, tanpa pernah meminta untuk dimiliki. Mungkin, di antara kita pernah ada yang mengenal seseorang yang ...

Langit Merekah di Kota Mekkah

Langit mekah pagi itu begitu mesra, seperti merekah-rekah. Rasanya langit seperti mendekapku erat, berusaha untuk menenangkanku, berusaha untuk mengusap lembut setiap derai air mata yang jatuh. Aku merasakan debar yang sungguh hebat, beginikah rasanya mata menatap nanar bangunan kotak hitam di depan itu?. Ka'bah? Masya Allah... Tidakkah aku sedang bermimpi? And the story begins...  Awalnya kukira orang-orang yang bisa pergi ke Baitullah adalah orang yang mampu secara finansial. Mapan, berkarir keren dengan gaji yang fantastis. Aku tidak terlalu bermimpi untuk segera pergi ke Baitullah dengan alasan keuangan. Bagiku menjadi seorang Amil Zakat adalah karunia tiada tara yang Allah berikan kepadaku. Tidak semua orang diberi kesempatan bekerja di lembaga sosial dengan banyak sekali keberkahan. Bukan materi yang menjadi utama pencapaian namun ridho Allah semata.  Suatu hari aku dan kepala cabang di kantorku berkunjung ke rumah seorang Ustadz yang mengubah cara pand...