Postingan

Novel 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Dada: BAB 5 -- Ayat-Ayat yang Disimpan dalam Sunyi

BAB 5: Ayat-Ayat yang Disimpan dalam Sunyi "Ada orang yang Allah tumbuhkan bukan di taman yang ramai, melainkan di ruang-ruang sepi. Agar ia belajar, bahwa cahaya paling jernih sering kali lahir dari luka yang dirawat dengan sabar." Sejak malam ketika tangan ayahnya berubah menjadi badai, Asa seperti pohon yang dipaksa belajar berdiri tanpa tempat berteduh. Malam itu juga, dengan rahang yang masih menyimpan kebas dan ransel yang bernoda tanah basah, Asa mengemas beberapa lembar pakaiannya. Ia memilih melangkah keluar dari rumah. Bukan untuk lari, dan sama sekali bukan karena membenci ayahnya. Ia tahu, ada beasiswa penuh yang harus diselamatkan, ada impian almarhumah ibunya yang harus diselesaikan tepat waktu. Namun, ada luka yang terlalu bising jika harus terus ditinggali di ruangan yang sama. Asa menyewa sebuah kamar kos sempit di ujung gang dekat kampus. Dindingnya tipis, catnya mulai mengelupas, dan jendelanya yang berderit menghadap ke arah jalan setapak. Di sana, malam-m...

Novel 7305 Menjaga Asa Dalam Doa: BAB 4 -- Jangan Takut Pada Lara

BAB 4: Jangan Takut Pada Lara "Ada luka yang tak pernah ingin tampil di permukaan. Ia memilih mengendap di antara jeda-jeda kalimat yang tak selesai, bersembunyi di balik senyum yang terburu-buru. Namun bahkan luka paling sunyi pun, diam-diam berharap ditemukan oleh seseorang yang tidak terburu-buru menghakimi." Sore itu, langit di atas kampus menggantung rendah. Awan kelabu bergerak lambat, seolah enggan melapangkan jalan bagi malam. Cahaya matahari jatuh pudar di antara sela-sela daun trembesi, meninggalkan garis-garis bayangan yang memanjang di atas tanah basah. Di depan gerbang utama, Asa berdiri menggenggam tali ranselnya. Angin sore menepis pelan ujung kemejanya. Ia menatap lurus ke arah jalan raya, pada deretan kendaraan yang merambat pelan. Ada firasat yang berdesir halus di dadanya—firasat yang, untuk kali ini saja, ia berharap sangat keliru. Sebuah sepeda motor tua berhenti tepat di pinggir trotoar. Seorang lelaki paruh baya turun perlahan. Kemeja linennya yang puda...

Novel 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: BAB 3 -- Bangku Yang Selalu Menunggu

BAB 3 Bangku yang Selalu Menunggu "Ada tempat yang dibangun dari semen dan batu. Ada pula tempat yang dibangun dari perjumpaan. Yang kedua, biasanya lebih sulit ditinggalkan." Tidak ada yang istimewa dari bangku itu. Panjangnya bahkan tak sampai tiga meter. Permukaannya mulai diselimuti lumut tipis setiap musim hujan datang, dan di sisi kanannya akar trembesi tua perlahan mendorong tanah, membuat semen di bawahnya retak seperti garis-garis usia pada wajah orang yang terlalu lama menunggu. Namun justru karena kesederhanaannya itulah bangku itu seperti tahu cara menjadi rumah bagi lelah. Setiap sore, ia selalu terisi. Kadang oleh mahasiswa yang sedang menatap proposalnya dengan mata kosong. Kadang oleh mereka yang baru saja kalah dalam debat, lomba, atau hidup. Kadang oleh seseorang yang hanya ingin duduk tanpa harus menjelaskan apa-apa kepada siapa pun. Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, waktu mulai belajar berjalan lebih pelan bagi Asa dan Nika. Hari-hari sebagai Presiden...

Novel 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: BAB 2 -- Hujan yang Datang Terlalu Pagi

  BAB 2 Hujan yang Datang Terlalu Pagi "Barangkali pertemuan bukan tentang siapa yang pertama datang. Melainkan siapa yang diam-diam mengubah cara kita memandang dunia." Tahun 2007. Kampus selalu memiliki bau yang sama setiap awal semester. Bau buku-buku baru yang masih menyimpan wangi kertas. Bau cat tembok yang mulai mengelupas, seperti waktu yang diam-diam mengikis segalanya. Bau rumput yang basah oleh embun pagi. Dan bau mimpi-mimpi muda yang masih rapuh, belum tahu akan dibawa angin ke mana. Asa Farid Ramadhan datang paling pagi. Jam di pergelangan tangannya bahkan belum menunjukkan pukul tujuh ketika ia sudah membuka pintu sekretariat BEM. Ruangan itu masih sepi, seperti dada yang belum sempat diisi suara. Di atas meja, proposal kegiatan menumpuk seperti gunung kecil yang menunggu didaki. Sebuah papan tulis dipenuhi daftar pekerjaan yang belum selesai. Di sudut ruangan, sajadah masih terlipat rapi, menjadi saksi malam-malam panjang yang pernah dihabiskan di sana, malam ...

Novel 7.305 Hari Menjaga Asa dalam Doa: BAB 1 -- Saat Doa Bergemuruh Di Langit

Saat Doa Bergemuruh Di Langit  "Barangkali Allah tidak pernah benar-benar memisahkan dua hati yang saling menjaga. Dia hanya menanam jarak agar rindu belajar menjadi sabar, lalu sabar belajar menjadi cahaya." Hari itu hujan turun pelan. Bukan hujan yang jatuh seperti amarah langit, melainkan seperti seseorang yang sedang belajar menangis tanpa suara tetesnya halus, rapi, nyaris sopan, seolah bumi pun harus diberi waktu untuk menerima duka yang turun dari atas. Di pelataran sebuah masjid tua, seorang perempuan berdiri memeluk map berwarna biru tua. Kerudung krem yang dikenakannya beberapa kali terangkat angin, lalu jatuh kembali ke bahunya seperti ombak kecil yang tak pernah benar-benar pergi dari pantai. Usianya empat puluh tahun. Di sela hijabnya, beberapa helai rambut putih mulai tampak—seperti serpihan salju yang tersesat di musim yang terlalu lama menunggu. Di jemarinya masih melingkar cincin yang sudah lama kehilangan pasangan untuk digenggam. Lingkar kecil itu terasa se...

Novel 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: Ambang Kisah

Gambar
  PROLOG "Ada cinta yang memilih bersujud begitu lama, hingga ketika ia berdiri, Allah telah lebih dahulu mengubahnya menjadi doa yang dikabulkan." Konon, ada doa yang tidak pernah selesai diucapkan. Bukan karena lisannya kehabisan kata. Melainkan karena langit belum selesai menulis jawabannya. Orang-orang sering mengira bahwa cinta selalu dikenali dari seberapa berani ia diucapkan. Padahal, ada cinta yang justru tumbuh paling subur di tempat yang tidak pernah terdengar oleh manusia. Di antara desir tasbih yang diputar perlahan. Di sela air mata yang jatuh tanpa saksi. Di penghujung tahajud ketika dunia masih begitu sunyi,   Sementara langit sibuk mencatat nama-nama yang disebut dengan penuh harap. Barangkali begitulah cara Allah menjaga sebagian hati. Bukan dengan mempercepat pertemuan. Bukan pula dengan mengabulkan seluruh keinginan. Melainkan dengan membiarkan waktu mengikis segala yang fana, hingga yang tersisa hanyalah doa. Sebab doa tidak pernah tergesa. Ia tahu jal...

Puisi Menuju Novel Pertamaku 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: Doa yang Berbunga di Langit

Doa yang Berbunga di Langit Kita adalah dua musim yang diajarkan langit untuk tidak saling memiliki hujan. Engkau menjelma fajar yang setiap pagi menyapaku tanpa suara, sedang aku hanyalah embun yang memilih menguap sebelum sempat dipungut cahaya. Maka kita belajar bahwa rindu tak selalu meminta alamat pulang. Pernah suatu kali aku menyulam namamu dengan benang-benang tasbih. Bukan pada selembar surat, melainkan pada sajadah yang setiap malam menghafal getar dahiku. Sebab ada cinta yang terlalu suci untuk dititipkan kepada manusia. Maka kusimpan ia di telapak langit, agar hanya Allah yang mengetahui harum mekarnya. Waktu kemudian menjelma sungai. Ia membawa kita ke muara yang berbeda. Engkau menjadi teduh di jendela rumahmu. Aku menjadi lampu di beranda rumahku. Kita sama-sama menyalakan bahagia bagi orang-orang yang Allah amanahkan. Sementara rindu... tetap menjadi burung migrasi yang hanya pulang ke arah doa. Lalu tujuh ribu tiga ratus lima hari berlalu seperti daun-daun trembesi yan...