Palimpsest
Palimpsest Barangkali hati adalah palimpsest. Setiap musim datang membawa ejaannya sendiri. Ia menulis, menghapus, lalu menulis kembali seolah segala sesuatu dapat dimulai dari halaman yang bersih. Namun hati bukan kertas. Ia menyimpan apa yang tak lagi terbaca, merawat apa yang tak lagi disebut. Di bawah kalimat-kalimat baru, selalu ada sebuah aksara yang bertahan dengan kesunyian seorang batu. Aku telah menempuh begitu banyak mata angin. Menyaksikan dedaunan berganti warna, mendengar laut mengucapkan namanya dalam bahasa yang tak pernah kupahami, dan melihat waktu mengajari setiap luka cara menyebut dirinya sebagai "masa lalu." Akan tetapi, ada sesuatu yang tak pernah benar-benar menjadi lampau. Ia tidak mengetuk. Ia tidak meminta dikenang. Ia hanya hadir seperti aroma kayu tua di sebuah perpustakaan sunyi— tak terlihat, namun mengubah seluruh udara menjadi ingatan. Barangkali memang demikian cara beberapa hal bertahan. Bukan dengan menolak waktu, melainkan d...