Novel 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: BAB 6 -- Kota yang Diguyur Hujan, Hati yang Belajar Menjaga

BAB 6

Kota yang Diguyur Hujan, Hati yang Belajar Menjaga

"Kadang Allah tidak mengirim seseorang untuk berjalan persis di samping kita. Kadang Dia hanya mengirim seseorang untuk memastikan kita tidak menyerah di tengah jalan."

Solo menyambut pagi dengan langit yang membentang bagai kain kelabu yang memudar. Gerimis turun sejak usai Subuh, tipis namun tekun, seperti doa-doa sunyi yang enggan pulang sebelum mengetuk pintu langit.

Halaman kampus tempat berlangsungnya Lomba Karya Tulis Ekonomi Islam Tingkat Nasional mulai dipenuhi mahasiswa dari berbagai universitas. Sebagian sibuk memeriksa kembali slide presentasi dengan bibir yang komat-kamit mengulang kalimat terakhir. Sebagian lain memejamkan mata, menggenggam tasbih kecil atau merapatkan kedua tangan, mencoba menambatkan keberanian di tengah debar yang sulit dijinakkan.

Di sudut aula yang remang, Nika duduk seorang diri.

Di pangkuannya terletak sebuah map biru yang sudut-sudutnya mulai melengkung. Jemarinya meremas map itu pelan, bukan karena takut berkasnya tercecer, melainkan karena sedang berusaha menenangkan sesuatu yang berdenyut asing di balik rusuknya. Ada kehangatan yang lembut menjalar perlahan, seperti bara kecil yang tetap menyala meski hujan turun tanpa henti.

Nika belum berani memberi nama pada getaran itu.

Ia hanya tahu, setiap kali satu nama melintas dalam ingatan, dadanya dipenuhi ketenangan yang tak pernah mampu ia jelaskan.

"Ya Allah..." bisiknya lirih.

Kelopak matanya terpejam.

"Jika hari ini bukan tentang kemenangan, setidaknya jadikan hari ini sebagai jalan agar aku lebih ridha kepada-Mu. Apa pun yang Engkau tetapkan, jangan biarkan hatiku kehilangan syukur."


Malam sebelumnya.

Ratusan kilometer dari Solo.

Lampu utama sekretariat BEM baru saja dipadamkan. Hanya cahaya dari ruang administrasi yang masih menyala redup. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam ketika salah seorang pengurus memanggil dari balik meja.

"Sa, besok jadi berangkat ke Solo?"

Asa yang sedang mengancingkan jaketnya mengangguk pelan.

"Jadi."

"Naik bus malam?"

Asa menggeleng.

"Motor."

Ruangan seketika sunyi.

Beberapa pengurus saling berpandangan.

"Motor? Asa, ini musim hujan. Jaraknya jauh sekali."

Asa hanya tersenyum kecil.

"Insya Allah aman."

"Memangnya sepenting itu harus hadir langsung?"

Pertanyaan itu membuat Asa terdiam.

Tangannya berhenti merapikan tali ransel.

Pandangan lelaki itu mengarah ke jendela sekretariat yang dipenuhi titik-titik hujan. Di luar sana, malam mulai turun sepenuhnya, membungkus jalanan dengan dingin yang panjang.

"Ada seseorang yang sedang membawa mimpinya sendirian di kota orang," ucap Asa akhirnya.

Seorang pengurus mengangkat alis.

"Nika?"

Asa hanya tersenyum tipis. Tidak membenarkan. Tidak pula menyangkal.

"Kadang," lanjutnya pelan, "orang yang sedang berjuang di garis depan tidak membutuhkan seseorang untuk mengambil alih perjuangannya. Ia hanya perlu tahu bahwa, di suatu tempat, ada hati yang percaya ia akan mampu melewatinya."

Ruangan kembali hening.

Tak ada lagi yang bertanya.

Mereka mengenal Asa sebagai lelaki yang tidak pernah banyak menjelaskan alasan di balik setiap langkahnya. Jika malam itu ia memilih menembus hujan menuju Solo, berarti ada sesuatu yang menurutnya layak diperjuangkan.

Dan di dalam dada Asa sendiri, ada doa yang terus berulang tanpa diketahui siapa pun.

"Ya Allah... jangan biarkan ia merasa sendirian esok hari."

Malam semakin larut.

Motor tua berwarna hitam itu mulai meninggalkan kota, membelah jalan antarprovinsi yang basah oleh hujan.

Di hadapannya terbentang perjalanan panjang.

Di dalam dadanya hanya ada satu tujuan sederhana.

Menjadi saksi bagi seseorang yang sedang memperjuangkan mimpinya.

Malam semakin larut.

Lampu-lampu kota perlahan tertinggal di belakang. Jalan raya yang semula ramai mulai lengang, hanya sesekali disusul truk-truk besar yang melintas dengan suara mesin yang berat. Angin malam menerpa wajah Asa dari balik kaca helm, membawa hawa dingin yang semakin menusuk.

Beberapa kilometer pertama dilaluinya dengan tenang.

Namun langit yang sejak tadi menahan diri akhirnya runtuh. Butiran hujan turun semakin rapat, memukul aspal, dedaunan, dan visor helmnya hingga pandangan menjadi buram. Asa menepi sejenak untuk mengenakan jas hujan, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Tak lama kemudian, air mulai merembes dari bagian lengan jas hujan yang telah usang. Kemeja birunya perlahan menjadi lembap. Sepatunya pun terasa semakin berat setiap kali menginjak pedal perseneling.

Ia hanya menarik napas panjang.

"Alhamdulillah 'ala kulli hal."

Jalanan mulai menanjak dan berkelok. Di sebuah tikungan yang dipenuhi pasir halus sisa proyek perbaikan jalan, roda belakang motornya tiba-tiba kehilangan cengkeraman.

Motor bergeser ke samping.

Setang bergetar hebat.

Refleks, Asa menarik kopling dan menahan keseimbangan sekuat tenaga. Motor itu akhirnya berhenti dalam posisi miring di bahu jalan.

Beberapa detik ia hanya terdiam.

Suara hujan menjadi satu-satunya bunyi yang memenuhi malam.

Napasnya memburu di balik helm. Dadanya naik turun lebih cepat daripada biasanya.

Perlahan ia memejamkan mata.

"Astaghfirullah... astaghfirullah... astaghfirullah..."

Bukan rasa takut yang menguasainya, melainkan kesadaran betapa rapuhnya seorang manusia ketika Allah menghendaki sesuatu terjadi hanya dalam hitungan detik.

Setelah memastikan dirinya tidak mengalami luka yang berarti, ia menegakkan kembali motornya. Pada siku kanan, terasa sedikit perih. Barangkali sempat bergesekan dengan aspal ketika menahan tubuhnya agar tidak benar-benar terjatuh.

Ia tidak memeriksanya lebih lama.

Perjalanan masih jauh.

Beberapa puluh kilometer kemudian, hujan justru semakin deras.

Di kejauhan tampak sebuah masjid kecil yang lampunya masih menyala. Asa memutuskan berhenti.

Serambi masjid itu lengang. Hanya terdengar suara rintik hujan yang memantul di atas atap seng. Seorang marbot sepuh yang sedang menyapu lantai memandangnya dengan senyum ramah.

"Jauh, Nak?"

Asa mengangguk sambil melepas helm.

"Insya Allah ke Solo, Pak."

"Sendirian?"

"Iya."

Marbot itu tersenyum kecil, lalu menuangkan segelas teh hangat dari termos yang berada di dekat mimbar.

"Minumlah dulu. Badanmu menggigil."

Asa menerima gelas itu dengan kedua tangan.

"Jazakumullahu khairan, Pak."

Kehangatan teh perlahan mengusir dingin yang sejak tadi merayapi tubuhnya.

"Urusan pekerjaan?" tanya sang marbot.

Asa terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Bukan, Pak."

"Lalu?"

Asa memandang hujan yang masih turun.

"Saya hanya ingin menemani seseorang yang sedang berjuang."

Marbot itu tidak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk pelan, seolah memahami bahwa tidak semua perjalanan yang jauh dimulai karena sebuah kewajiban. Ada yang ditempuh karena kasih sayang yang dijaga agar tetap berada dalam ridha Allah.

Sebelum kembali mengenakan helm, Asa berdiri menghadap kiblat.

Ia mengangkat kedua tangan.

"Ya Allah, jika perjalanan ini membawa kebaikan, sampaikanlah hamba dengan selamat. Jadikan langkah ini sebagai penjaga semangat, bukan sebab hadirnya riya. Dan jika tidak ada kebaikan di dalamnya, cukupkan niat ini sebagai amal yang Engkau terima."

Ia mengusap wajahnya perlahan.

Hujan mulai mengecil.

Mesin motor kembali menyala, memecah sunyi dini hari.

Di bawah langit yang masih kelabu, Asa kembali melaju menuju Solo, tanpa mengetahui bahwa di kota tujuan itu, ada seseorang yang juga sedang memohon ketenangan kepada Tuhan yang sama.


Pukul delapan kurang lima menit.

Aula utama mulai dipenuhi suara langkah kaki, bisik-bisik peserta, serta denting mikrofon yang sedang diuji panitia. Layar proyektor menampilkan logo lomba, sementara para dewan juri telah duduk di meja panjang di bagian depan ruangan.

Nika menarik napas panjang.

Jemarinya yang dingin saling menggenggam di atas map biru yang sedari tadi tak pernah lepas dari pelukannya. Ia membaca istigfar dalam hati, berulang-ulang, seolah setiap lafaz menjadi simpul yang mengikat kembali keberaniannya agar tidak tercerai oleh gugup.

"Hasbunallahu wa ni'mal wakil..."

Ia mengulanginya pelan.

Lalu mengangkat wajahnya.

"Selamat pagi, para finalis. Presentasi akan dimulai lima menit lagi."

Suara panitia terdengar dari pengeras suara.

Para peserta mulai mengambil tempat masing-masing.

Nika ikut berdiri, lalu berjalan menuju kursi yang telah diberi nomor peserta sebelas.

Entah mengapa, pagi itu hatinya terasa berbeda.

Bukan hanya gugup.

Ada perasaan ganjil yang sulit dijelaskan. Seolah seseorang sedang mendoakannya dari tempat yang tidak ia ketahui. Seolah Allah sedang mengirimkan ketenangan melalui cara yang tak mampu ia lihat.

Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri.

"Jangan aneh-aneh, Nika. Fokus."

Namun perasaan itu tak juga pergi.


Di luar aula.

Sebuah motor tua berhenti perlahan di area parkir kampus.

Asa mematikan mesin, lalu mengembuskan napas panjang.

Untuk beberapa saat ia hanya duduk diam.

Perjalanan semalaman akhirnya selesai.

Ketika menurunkan kaki dari motor, lutut kanannya terasa sedikit nyeri. Ia meringis tipis, lalu menepuk-nepuk celananya yang masih menyisakan bercak lumpur.

"Alhamdulillah..."

Satu kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

Ia menatap langit.

Gerimis tinggal menyisakan titik-titik kecil yang jatuh perlahan dari dedaunan.

"Asal Engkau ridha, ya Allah..."

Setelah merapikan kemeja yang kusut dan menyampirkan ransel di bahunya, Asa berjalan menuju gedung aula.

Ia datang bukan sebagai peserta.

Bukan pula sebagai tamu kehormatan.

Ia hanya ingin menjadi saksi bagi perjuangan seseorang.

Dan itu sudah lebih dari cukup.


Di dalam aula, presentasi peserta pertama telah dimulai.

Asa membuka pintu kaca dengan hati-hati agar tidak mengganggu jalannya acara.

Angin pagi yang lembap ikut menyelinap masuk.

Beberapa peserta menoleh sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian ke depan.

Di barisan tengah, Nika ikut menoleh tanpa benar-benar berharap melihat siapa pun.

Mula-mula ia hanya melihat siluet seorang lelaki yang berdiri membelakangi cahaya dari luar.

Lelaki itu melepas helm hitam yang sedari tadi digenggamnya.

Kemudian melangkah satu langkah ke depan.

Wajah teduh itu menjadi jelas.

Napas Nika seketika tertahan.

Asa.

Kemeja birunya tampak sedikit lembap. Ujung celananya masih menyimpan bercak lumpur yang belum sempat mengering. Rambutnya berantakan diterpa angin perjalanan panjang.

Namun senyum itu...

Senyum yang selalu berhasil membuat hatinya tenang.

Asa tidak melambaikan tangan.

Tidak pula memanggil namanya.

Ia hanya mengangkat ibu jarinya perlahan.

Sederhana.

Nyaris tak terlihat oleh siapa pun.

Namun bagi Nika, isyarat kecil itu terasa seperti kalimat yang begitu jelas.

"Tenang, Dek. Kamu tidak sendiri."

Ada sesuatu yang menghangat di sudut matanya.

Cepat-cepat ia menundukkan kepala, menarik napas panjang agar air mata itu tidak benar-benar jatuh.

Saat itulah suara panitia memecah keheningan.

"Nomor peserta sebelas, Saudari Nika Ulima Farchah. Dipersilakan bersiap."

Nika berdiri.

Map biru itu kini tak lagi terasa seberat sebelumnya.

Sebelum melangkah menuju mimbar, ia menoleh sekali lagi.

Asa menganggukkan kepala pelan.

Tanpa kata.

Tanpa tepuk tangan.

Tanpa sorotan siapa pun.

Namun bagi Nika, anggukan kecil itu terasa seperti doa yang sedang berjalan bersamanya menuju podium.

Ia membalas dengan senyum tipis.

Lalu melangkah mantap.

Hari itu, untuk pertama kalinya, ia merasa keberanian tidak selalu lahir karena keyakinan pada diri sendiri.

Kadang, keberanian tumbuh karena Allah mengizinkan kita mengetahui bahwa di suatu tempat, ada seseorang yang ikut mengetuk pintu langit agar langkah kita dimudahkan.

Nika menutup kalimat terakhir presentasinya dengan suara yang mantap.

"...demikian pemaparan yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian Bapak dan Ibu dewan juri. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

Ruangan hening sejenak.

Tak lama kemudian, salah seorang juri berkacamata meletakkan pulpennya di atas meja.

"Baik. Terima kasih atas presentasinya. Saya memiliki beberapa pertanyaan."

Nika mengangguk hormat.

"Silakan, Bapak."

Juri pertama membuka lembar penilaian.

"Anda mengusulkan model pemberdayaan berbasis wakaf produktif bagi pelaku UMKM. Menurut Anda, apa tantangan terbesar ketika konsep ideal itu diterapkan di masyarakat?"

Pertanyaan itu cukup panjang.

Beberapa peserta yang duduk di bangku penonton saling berpandangan. Mereka tahu, pertanyaan seperti itu sering kali menjadi penentu.

Nika menarik napas perlahan.

Pandangannya sempat bergeser ke arah belakang aula.

Asa masih berdiri di tempatnya.

Tatapan lelaki itu tetap tenang.

Tidak memberi jawaban.

Tidak pula memberi isyarat.

Hanya sebuah keteduhan yang membuat Nika kembali mengingat doa yang dipanjatkannya selepas Subuh.

Ia tersenyum tipis.

"Lembaga boleh memiliki sistem yang baik, Pak. Namun keberhasilannya tetap bergantung pada kepercayaan masyarakat. Karena itu, menurut saya, tantangan terbesarnya bukan sekadar mengumpulkan dana wakaf, melainkan membangun amanah. Ketika amanah dijaga, partisipasi akan tumbuh dengan sendirinya."

Juri itu mengangguk perlahan.

"Menarik."

Juri kedua kemudian mengambil giliran.

"Bagaimana jika program yang Anda usulkan justru gagal meningkatkan kesejahteraan penerima manfaat?"

Nika tidak langsung menjawab.

Beberapa detik ia menundukkan kepala, menyusun kalimat di dalam benaknya.

"Lalu," lanjut juri itu, "bagaimana indikator keberhasilannya?"

Suasana aula kembali sunyi.

Nika mengangkat wajahnya.

"Menurut saya, keberhasilan tidak boleh hanya diukur dari bertambahnya pendapatan."

Ia berhenti sejenak.

"Keberhasilan juga terlihat ketika penerima manfaat memiliki kemandirian, mampu mengambil keputusan ekonomi yang lebih baik, dan perlahan tidak lagi bergantung pada bantuan. Dalam ekonomi Islam, tujuan akhirnya bukan hanya pertumbuhan angka, tetapi terjaganya martabat manusia."

Kalimat itu membuat salah seorang juri tersenyum.

Ia menuliskan sesuatu pada lembar penilaiannya.

Sesi tanya jawab berlangsung hampir dua puluh menit.

Ada pertanyaan yang mudah.

Ada pula yang memaksa Nika berpikir beberapa saat sebelum menjawab.

Namun setiap kali keraguan mulai mengetuk hatinya, ia kembali teringat pada satu hal.

Bahwa apa pun hasilnya nanti, Allah telah mengajarkannya untuk berusaha dengan sebaik-baiknya, lalu menyerahkan sisanya kepada-Nya.

Ketika moderator akhirnya mengucapkan, "Terima kasih kepada peserta nomor sebelas," Nika mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan.

Ia menundukkan kepala sejenak.

"Alhamdulillahi rabbil 'alamin."

Dari sudut belakang aula, Asa ikut mengembuskan napas lega.

Tanpa tepuk tangan yang berlebihan.

Tanpa sorotan siapa pun.

Di dalam hatinya hanya ada satu doa yang mengalir pelan.

"Ya Allah, jika kemenangan akan mendekatkannya kepada-Mu, maka hadiahkanlah kemenangan itu. Namun jika kekalahan lebih baik bagi hatinya, maka jadikan ia tetap ridha."

Waktu berjalan lebih lambat daripada biasanya.

Para finalis kembali menempati kursi masing-masing. Sebagian mencoba mengobrol untuk mengusir tegang, sebagian lagi sibuk memperbaiki slide yang sebenarnya sudah tidak akan dipresentasikan lagi. Tawa kecil sesekali terdengar, tetapi tak mampu mengusir kegelisahan yang menggantung di udara.

Nika menatap jemarinya sendiri.

Dingin.

Ia baru menyadari telapak tangannya sedikit berkeringat.

Dalam hati ia mengulang istigfar, lalu membaca doa Nabi Musa yang sejak kecil diajarkan ayahnya.

"Rabbi syrah li shadri, wa yassir li amri..."

Doa itu tidak lagi ia panjatkan agar presentasinya dimudahkan.

Presentasi telah usai.

Kini ia memanjatkannya agar Allah menjaga hatinya, apa pun hasil yang akan diumumkan.


Di barisan paling belakang, Asa memilih tetap berdiri.

Beberapa kali panitia mempersilakannya duduk di kursi kosong, tetapi ia menolak dengan senyum sopan.

"Terima kasih, Mas. Di sini saja sudah cukup."

Dari tempat itu, ia dapat melihat seluruh ruangan.

Sesekali pandangannya jatuh kepada Nika yang duduk dengan kepala sedikit tertunduk.

Bukan wajah seorang yang sedang mengejar piala.

Melainkan wajah seorang hamba yang sedang belajar menerima takdir.

Asa tersenyum kecil.

"Masya Allah... semoga Allah menjaga hati itu."


"Baik, hadirin sekalian..."

Suara pembawa acara kembali menggema memenuhi aula.

"Setelah melalui proses penilaian yang cukup panjang, dewan juri telah menentukan para pemenang Lomba Karya Tulis Ekonomi Islam Tingkat Nasional tahun ini."

Ruangan mendadak hening.

Beberapa peserta tanpa sadar menggenggam tangan temannya.

Ada yang menunduk.

Ada yang memejamkan mata.

Nika hanya menarik napas panjang.

"Ya Allah... apa pun yang Engkau pilih, itu pasti yang terbaik."

"Juara Harapan Satu..."

Nama pertama disebut.

Bukan dirinya.

Disusul Juara Tiga.

Lalu Juara Dua.

Masih bukan dirinya.

Untuk sesaat, Nika menurunkan pandangan.

Ada sedikit rasa kecewa yang mampir di sudut hati. Sangat kecil, tetapi nyata.

Ia segera mengusapnya dengan istigfar.

"Alhamdulillah. Mungkin memang bukan rezekiku hari ini."

Di belakang ruangan, Asa melihat bahu Nika sedikit mengendur.

Ia tidak bergerak.

Ia hanya berdoa dalam diam.

"Ya Allah, lapangkan dadanya. Jangan biarkan hasil perlombaan menentukan nilai dirinya."

Pembawa acara membuka amplop terakhir.

Nada suaranya berubah lebih lantang.

"Dan Juara Pertama Lomba Karya Tulis Ekonomi Islam Tingkat Nasional diraih oleh..."

Jeda beberapa detik itu terasa lebih panjang daripada perjalanan semalam.

"...Saudari Nika Ulima Farchah."

Sejenak, aula seperti kehilangan suara.

Nika mengangkat wajahnya perlahan, seolah belum yakin nama yang baru saja dipanggil benar-benar miliknya.

Di kanan dan kirinya, para peserta mulai bertepuk tangan.

Seseorang menepuk pelan bahunya sambil berbisik,

"Selamat."

Barulah air mata itu jatuh.

Bukan karena merasa menjadi yang terbaik.

Melainkan karena ia menyaksikan sendiri bagaimana Allah mampu menghadiahkan sesuatu pada saat seorang hamba mulai benar-benar ikhlas terhadap apa pun ketetapan-Nya.

Dengan langkah yang masih bergetar, Nika berjalan menuju panggung.

Sebelum menaiki anak tangga, tanpa sadar ia menoleh ke arah belakang aula.

Asa masih berdiri di tempat yang sama.

Lelaki itu tidak bertepuk tangan paling keras.

Tidak pula bersorak.

Ia hanya menganggukkan kepala pelan, dengan senyum syukur yang begitu teduh.

Di balik senyum itu, bibirnya nyaris tak bergerak.

"Alhamdulillah."

Dan entah mengapa, satu kata itu terasa lebih berharga bagi Nika daripada riuh tepuk tangan yang memenuhi seluruh ruangan.

Piala itu terasa dingin di tangan Nika.

Ucapan selamat datang silih berganti. Kilatan kamera menyala beberapa kali. Senyum terukir di wajahnya, tetapi hatinya justru sibuk mencari satu orang.

Asa.

Setelah sesi dokumentasi selesai, Nika berpamitan kepada panitia dan berjalan cepat menuju halaman luar aula.

Gerimis telah berhenti.

Tanah masih basah, meninggalkan aroma khas yang mengingatkannya pada hujan pertama setelah kemarau panjang.

Matanya berkeliling.

Di dekat deretan motor, di bawah naungan pohon trembesi yang masih meneteskan sisa air hujan, Nika akhirnya melihat sosok itu.

Asa sedang merapikan jas hujannya.

Seolah-olah perjalanan semalaman, hujan, dan dingin hanyalah bagian kecil dari hari yang biasa.

"Kak Asa!"

Asa menoleh.

Lalu tersenyum.

Senyum teduh yang sejak tadi diam-diam menjadi penyangga keberanian Nika.

"Nah," katanya pelan, "Juara Satu, kan?"

Entah mengapa, kalimat sederhana itu justru membuat mata Nika kembali panas.

Ia berhenti beberapa langkah di depan Asa.

"Kakak... datang sejauh ini hanya untuk menyaksikan lomba saya?"

Asa terkekeh kecil.

"Kalau Kakak tidak datang, nanti siapa yang percaya cerita Dek Nika kalau presentasinya sangat hebat?"

Nika tertawa di sela air matanya.

Tawa yang rapuh, namun penuh kelegaan.

"Terima kasih, Kak..."

Asa menggeleng pelan.

"Jangan berterima kasih pada Kakak."

Tatapannya lembut.

"Berterima kasihlah kepada Allah. Kakak hanya kebetulan diizinkan-Nya untuk melihat bagaimana doa seorang hamba dikabulkan."

Hening turun di antara mereka.

Bukan hening yang canggung.

Melainkan hening yang dipenuhi rasa syukur.

Angin sore berembus perlahan.

Saat itulah pandangan Nika jatuh pada siku tangan Asa.

Ada luka lecet yang belum benar-benar kering.

Ujung celananya pun robek kecil di bagian lutut.

Nika mengernyit.

"Kak..."

Asa mengikuti arah pandang Nika.

Baru kemudian ia menyadari luka itu masih terlihat jelas.

"Oh, ini?"

Nika menatapnya lekat.

"Kakak jatuh?"

Asa tersenyum kecil, seolah itu bukan sesuatu yang penting.

"Tadi malam motor sempat tergelincir sedikit."

Sedikit.

Kata itu terasa begitu ringan.

Namun justru karena terlalu ringan, dada Nika mendadak sesak.

"Kenapa Kakak tidak cerita?"

Asa terdiam sejenak.

Lalu menjawab dengan suara yang nyaris lebih pelan daripada angin.

"Kalau Kakak cerita sebelum lomba, nanti Dek Nika malah ikut cemas."

Nika menunduk.

Air mata yang sedari tadi berusaha ditahan akhirnya jatuh lagi.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa besar bentuk kepedulian yang bisa disembunyikan seseorang tanpa meminta diketahui.

Ada orang yang rela menempuh perjalanan panjang.

Rela kehujanan.

Rela menahan sakit.

Bukan untuk dipuji.

Bukan untuk dicintai.

Hanya agar orang lain tidak merasa sendirian saat berjuang.

Dan di detik itulah, Nika memahami sesuatu.

Mengapa akhir-akhir ini setiap doa terasa membawa satu nama.

Mengapa mengingat Asa selalu membuatnya ingin menjadi pribadi yang lebih baik.

Mengapa kehadiran lelaki itu tidak pernah menjauhkannya dari Allah, justru membuatnya semakin ingin mendekat.

Nika tidak lagi melawan perasaan itu.

Jika Allah berkenan menumbuhkan rasa tersebut, maka ia hanya ingin menjaganya tetap suci.

Dengan doa.

Dengan adab.

Dengan menyerahkan takdirnya kepada Sang Pemilik Hati.

Sementara Asa memandang Nika yang sedang mengusap air matanya.

Dan untuk pertama kalinya ia menyadari, mungkin selama ini yang membuat hatinya begitu tenang bukan hanya karena Nika adalah perempuan yang baik.

Melainkan karena setiap kali melihatnya, ia selalu teringat kepada Allah.

Dan barangkali, itulah bentuk cinta yang paling ingin ia jaga.

Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir.

Tidak terlalu dekat.

Masih ada beberapa langkah yang sengaja dijaga di antara keduanya.

Sesekali angin sore menggugurkan sisa-sisa air dari daun trembesi. Gerimis telah benar-benar berhenti. Matahari yang sejak pagi bersembunyi akhirnya mengintip malu-malu dari balik awan, memantulkan cahaya ke jalanan yang masih basah.

Di samping sebuah warung kecil, Asa berhenti.

"Sudah makan siang, Dek?"

Nika menggeleng pelan.

"Belum sempat."

Asa mengeluarkan dua kupon konsumsi yang sejak pagi diselipkan panitia ke dalam map peserta.

"Tadi panitia memberi ini. Sayang kalau tidak dipakai."

Nika menerimanya sambil tersenyum.

"Kalau begitu... Kakak juga harus makan."

Asa mengangguk.

"Iya."

Mereka membeli dua kotak makan sederhana.

Lalu memilih duduk di bangku panjang yang menghadap taman kampus.

Percakapan mereka tidak banyak.

Tidak ada pujian berlebihan.

Tidak ada kalimat yang sengaja mencari perhatian.

Yang terdengar justru obrolan ringan tentang presentasi, perjalanan pulang, dan rencana menyelesaikan semester yang sebentar lagi berakhir.

Sesekali mereka tertawa.

Sesekali sama-sama terdiam.

Namun diam kali itu tidak lagi terasa asing.

Ia menjadi bahasa yang dipahami oleh dua hati yang sama-sama sedang belajar menjaga batas.


Sebelum berpisah, Nika membuka ranselnya.

Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi plester luka, antiseptik, dan obat gosok yang sedari tadi dibawanya untuk berjaga-jaga selama perjalanan lomba.

"Kak..."

Asa menoleh.

"Ini... mungkin lebih berguna buat Kakak."

Asa sempat hendak menolak.

"Ah, tidak usah. Lukanya cuma lecet."

Nika tersenyum lembut.

"Kalau begitu... anggap saja ini hadiah untuk Juara Satu."

Asa tertawa pelan.

"Hadiahnya malah buat Kakak?"

"Biar perjalanan pulangnya tetap nyaman."

Untuk beberapa detik, Asa memandang kotak kecil itu.

Bukan karena nilainya.

Melainkan karena perhatian sederhana itu terasa begitu tulus.

Ia menerimanya dengan kedua tangan.

"Jazakillahu khairan, Dek."

"Wa iyyak, Kak."

Tak ada lagi yang perlu diucapkan.

Mereka sama-sama tahu, beberapa rasa memang lebih baik dijaga dalam doa daripada tergesa-gesa diucapkan.


Menjelang Magrib.

Bus yang ditumpangi Nika perlahan meninggalkan Terminal Tirtonadi.

Dari balik jendela, ia melihat Kota Solo semakin jauh, perlahan larut bersama cahaya senja.

Piala juara terletak rapi di samping tasnya.

Namun hari itu, ada sesuatu yang terasa jauh lebih berharga daripada sebuah trofi.

Ia membuka buku catatan kecil yang selalu menemaninya ke mana pun.

Pada halaman kosong berikutnya, ia mulai menulis.

"Hari ini aku belajar bahwa Allah mampu mempertemukan dua manusia tanpa harus membiarkan mereka melampaui batas yang telah Dia tetapkan."

"Ada rasa yang tumbuh bukan karena sering bertemu, melainkan karena sering saling mendoakan."

"Ada perhatian yang tidak meminta balasan, tidak mencari pengakuan, dan tidak menjadikan dirinya pusat dari sebuah perjuangan."

"Jika suatu hari rasa ini benar-benar berlabuh pada takdir yang Engkau tuliskan, ya Allah, izinkan kami bertemu dalam keadaan yang sama-sama lebih dekat kepada-Mu daripada hari ini."

"Dan jika ternyata Engkau menuliskan jalan yang berbeda, jangan biarkan sedikit pun rasa ini mengurangi cintaku kepada-Mu."

Nika menutup buku itu perlahan.

Ia menyandarkan kepala ke kaca jendela.

Langit di luar mulai berwarna jingga keemasan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya benar-benar damai.


Beberapa kilometer di belakang bus yang membawa Nika pulang, sebuah motor tua kembali melaju membelah jalan antarkota.

Asa tersenyum kecil ketika berhenti di sebuah SPBU untuk beristirahat.

Saat membuka bagasi motornya, ia menemukan kotak kecil pemberian Nika.

Di dalamnya terselip secarik kertas.

Tulisan tangan itu sederhana.

"Semoga Allah menjaga setiap kilometer perjalanan Kak Asa, sebagaimana hari ini Kak Asa telah menjaga keberanian saya."

"Jazakallahu khairan."

Asa membaca kalimat itu dua kali.

Kemudian melipatnya kembali dengan hati-hati dan menyimpannya di sela halaman mushaf kecil yang selalu ia bawa.

Ia mendongakkan wajah ke langit malam.

"Ya Allah..."

Senyumnya mengembang pelan.

"Jagalah hati kami sebagaimana Engkau menjaga langkah kami hari ini."

Mesin motor kembali menyala.

Malam terus membentang.

Di bawah langit yang sama, dua hati melanjutkan perjalanan menuju kota yang berbeda.

Mereka belum saling memiliki.

Belum saling mengikat janji.

Namun keduanya telah belajar satu hal yang sama.

Bahwa cinta yang paling indah bukanlah cinta yang paling cepat diucapkan.

Melainkan cinta yang paling sabar dijaga hingga Allah sendiri menetapkan waktu terbaik untuk mempertemukannya.


Bersambung...

Bab 7: Buku yang Pulang Lebih Dulu

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tegar Seperti Karang dan Mutiara [Bangunlah Daerahmu!]

Surga Yang [Tak] Dirindukan

Bermunajat Mesra

Barakallah Fii Umrik Mutia :)

Would The World Be Better Without Islam? Absolutely No!