Puisi Menuju Novel Pertamaku 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: Doa yang Berbunga di Langit
Doa yang Berbunga di Langit Kita adalah dua musim yang diajarkan langit untuk tidak saling memiliki hujan. Engkau menjelma fajar yang setiap pagi menyapaku tanpa suara, sedang aku hanyalah embun yang memilih menguap sebelum sempat dipungut cahaya. Maka kita belajar bahwa rindu tak selalu meminta alamat pulang. Pernah suatu kali aku menyulam namamu dengan benang-benang tasbih. Bukan pada selembar surat, melainkan pada sajadah yang setiap malam menghafal getar dahiku. Sebab ada cinta yang terlalu suci untuk dititipkan kepada manusia. Maka kusimpan ia di telapak langit, agar hanya Allah yang mengetahui harum mekarnya. Waktu kemudian menjelma sungai. Ia membawa kita ke muara yang berbeda. Engkau menjadi teduh di jendela rumahmu. Aku menjadi lampu di beranda rumahku. Kita sama-sama menyalakan bahagia bagi orang-orang yang Allah amanahkan. Sementara rindu... tetap menjadi burung migrasi yang hanya pulang ke arah doa. Lalu tujuh ribu tiga ratus lima hari berlalu seperti daun-daun trembesi yan...