Postingan

Menampilkan postingan dengan label PUISI

Puisi Menuju Novel Pertamaku 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: Doa yang Berbunga di Langit

Doa yang Berbunga di Langit Kita adalah dua musim yang diajarkan langit untuk tidak saling memiliki hujan. Engkau menjelma fajar yang setiap pagi menyapaku tanpa suara, sedang aku hanyalah embun yang memilih menguap sebelum sempat dipungut cahaya. Maka kita belajar bahwa rindu tak selalu meminta alamat pulang. Pernah suatu kali aku menyulam namamu dengan benang-benang tasbih. Bukan pada selembar surat, melainkan pada sajadah yang setiap malam menghafal getar dahiku. Sebab ada cinta yang terlalu suci untuk dititipkan kepada manusia. Maka kusimpan ia di telapak langit, agar hanya Allah yang mengetahui harum mekarnya. Waktu kemudian menjelma sungai. Ia membawa kita ke muara yang berbeda. Engkau menjadi teduh di jendela rumahmu. Aku menjadi lampu di beranda rumahku. Kita sama-sama menyalakan bahagia bagi orang-orang yang Allah amanahkan. Sementara rindu... tetap menjadi burung migrasi yang hanya pulang ke arah doa. Lalu tujuh ribu tiga ratus lima hari berlalu seperti daun-daun trembesi yan...

Bermunajat Mesra

Tak ada yang lebih didamba Dari bermunajat mesra dengan Sang Pencipta Melantunkan segenap asa dan setangkup rasa Berpeluk cinta walau tanpa kata Tak ada yang lebih didamba Dari bercanda tawa dengan sesama Bercerita tentang langit atau laut beserta ombaknya Mensyukuri setiap desiran pasir yang berlarian menuju karang Tak ada yang lebih didamba Dari berkata suka pada alam semesta Yang dengan kebijaksanaanNya membawa manusia pada takdir yang Maha Sempurna Tak ada yang lebih didamba Dari kedekatan kening dengan sujudnya Tak perlu dengan retorika Air mata telah menjadi derai indahNya Lalu, Adakah yang lebih didamba? Dari seorang hamba yang mencintai dan dicintai olehNya? Allah Azza Wajalla. Allah, aku begitu mencintaimu @kenulinnuha

Ternyata Rindu

Ternyata rindu... Rindu wajah sang Ibu yang haru Atau senyum sang ayah yang takkan pernah ragu Aku tau, Rindu ini takkan bisa membiru Karena rinduku serupa langit biru Seindah pertemuan kala itu Ternyata rindu... Pada perbincangan mesra malam itu Kepada Allah Sang Maha Rindu Aku tau, Allah begitu mencintaiku Maka hikmah itu berlaku Ternyata rindu... Pada kisah terdahulu Seperti Ayyub yang berpeluk erat dengan RabbNya meski sakit begitu parau Seperti Yusuf yang tabah pada bertubi-tubi cobaan hidup Seperti Hajar yang rela berpeluh demi barakah zam-zam terpancar Ternyata rindu... Pada cinta yang menggetarkan itu Pada cinta yang menguatkan itu Pada cinta yang paling semesta itu Cinta Allah... Dan tanpa cintaNya, aku serupa debu Rindu, @kenulinnuha

Di Balik Lensa

Gambar
Terkadang detik terlampau lama untuk ditunggu Presisi rasanya tidak lagi menjadi candu Kepekaan terhadap warna menjadi nyata Bukan objek pelipur lara namun jiwa yang selalu merdeka Setiap lensa memiliki cerita Ia membidik dengan sempurna Jika focus adalah tujuan Maka buat apa menjadi durja Kosong, terkadang ilusi mengalahkan logika Begitu pula aku yang sedang merana Entah karena dinding bebatuan di sekat itu Atau mungkin ketidaktahuanku yang semakin merajalela Lensa tersenyum padaku Hei! Apa yang hendak kau bidik? Diam adalah membisu, seperti hari ini aku tidak berseru Diam! Aku sedang berkontemplasi dengan sepia Rasanya sendu namun berpadu Bidiklah hal yang baik! Hei! Lensa tak bernyawa namun ia patuh pada sang tuan Dikembalikannya focus seperti semula Ternyata aku hanya sekedar perupa Yang mengetahui bahwa keindahan itu ada Namun sepi sendiri tak bersuara Lensa menjadikanku semakin gempita Aku tau! Tidakkah aku harus membidik hal yang baik saja? Seper...

Tarian Kata

Engkau tau mengapa aku tidak begitu mementingkan perkara dunia? Karena aku tau dunia itu melalaikan, ia bisa hilang tak berbekas tidak bisa terpatri dalam jiwa. Engkau tau bahwa akhlak mulia menentukan segalanya? Karena akhlak adalah atap dan dinding yang menyempurnakan pondasi kuat keimanan. Engkau tau bahwa mencintai Allah adalah cara terbaik untuk menghadapi dunia? Karena cintaNya menguatkan hati, menumbuhkan semangat beramal dan berdayaguna bagi sesama. Engkau tau mengapa materi tidaklah bisa menggantikan takwa? Karena harta bukanlah faktor asasi kebahagiaan apalagi sekedar materi fana belaka. Ketakwaan adalah kemegahan tak terhingga. Engkau tau bahwa kebaikan itu menggetarkan jiwa? Meskipun itu sederhana? Karena kebaikan pengokoh nurani, penggenggam asa dan pembangkit semangat. Engkau tau mengapa aku begitu yakin pada takdir dan pertolonganNya? Karena Allah berjanji. Senantiasa menjadi penguat diri, tak pernah menyakiti bahkan melukai. Maka ketika tarian...

Jiwa Pejuang

Engkau adalah jiwa yang sedang kuperjuangkan Dalam pekat malam kulantunkan doa sepanjang harapan sunyi meratap sendu dalam bait-bait puisi kalbu Engkau yang dalam setiap nafas kurindu Dapatkah ku eja dalam kata setiap kalimat cinta Yang berasal dari kisah para pujangga Mengharu biru mengisi hati nan merdu Engkau adalah jiwa yang sedang kuperjuangkan Meski lirih kubersimpuh dalam setiap sujudku Melangitkan asa mengetuk Sang Maha Bijaksana Aku tetap akan berjuang Seperti selayaknya jiwa para pejuang Yang tangguh nan gagah Bak prajurit tak gentar di medan laga Engkau adalah jiwa yang sedang kuperjuangkan Berdesir kala hati berucap sendu Masihkah hatimu bergetar kala Kalimat Allah dilantunkan Kalam IllahiNya begitu syahdu Terasa hangat dan lembut di dalam jiwa Seperti ketika matahari menghangatkan bumi Menghangatkan nurani Engkau adalah jiwa yang sedang kuperjuangkan Selamat bertemu dalam setiap detik kebaikan Bersama lantunan doa yang mustajab Dalam ikatan a...

Jika Cinta Sebab KarenaNya

jika cinta sebab karenaNya maka cinta itu abadi dalam jiwa seperti ibu yang rela mengandung payah mencintai anaknya segenap raga dengan cinta nomor satu di dunia jika cinta sebab karenaNya maka nasehat ini baik pengharapannya seperti ayah yang rela berpeluh mengakar kuat ototnya demi perinduk nasi tetap penuh jika cinta sebab karenaNya maka nasehat ini besar kekuatannya seperti kakak yang rela mengalah menjadi teladan terbaik adik tercintanya jika cinta sebab karenaNya maka jiwa ini tunduk pada AturanNya seperti seorang mujahid yang rela berjuang karena syuhada adalah miliknya maka, jika cinta sebab karenaNya bersabarlah wahai hati meskipun air mata telah tumpah meski hati tersayat lidah jika, cinta sebab karenaNya surga akan menjadi perindunya @kenulinnuha

Aku Berpuisi

Dalam nadi aku berpuisi Alangkah bahagianya para pujangga Berselimut lara saja ia bahagia Tak ubahnya seperti laron kecil menemukan cahaya Dalam getir aku berpuisi Alangkah bahagianya para penyair Bergemuruh duka saja ia tertawa Tak ubahnya seperti karang yang berderma dengan ombak Dalam bahagia pun aku berpuisi Seperti denting piano yang kudengar pagi itu Bahkan resonansinya sampai ke dasar hati Seperti puisi hari ini Berbicara tanpa harus merubah makna Bermakna tanpa harus merubah kata Selamat Hari Puisi, 21 Maret 2017 +Ken Ulinnuha  

Siapa Yang Kau Maksud?

Kau bilang nyali itu ekstrimis Padahal kau tidak yakin dengan AyatNya Kau bilang tidak perlu jauh-jauh berdoa Padahal kau ragu pada FirmanNya Siapa yang kau maksud ekstrimis? Dan suaramu begitu lantang membela Sedangkan Ibu dan Ayahmu tak gentar bersujud Bahkan kau mengantarkan mereka ke Saudi Arabia Berziarah ke Makam Rasullulah SAW Siapa yang kau maksud ekstrimis? Apakah kami diam jika penista merajalela Oh tidak mungkin... Kami berada di garda terdepan Jelas... Silahkan kau mencela kami beribu kali Silahkan kau memfitnah kami berjuta kali Namun jika keyakinan terusik Tidak mungkin kami diam Diam adalah kekosongan nurani Sedangkan karyamu itu buah dari karunia Sang Maha Esa Pikiran dan Hatimu itu milikNya Buat apa kau selalu menawar aturanNya Buat apa? Apa yang membuatmu begitu yakin pada mereka? Yang begitu sibuk memfitnah dan mencela? Apa yang membuatmu begitu sombong pada kinerja manusia? Kinerja saja tidak cukup membuat masyarakat bergelar "M...

KAU KAH ITU?

Tidakkah engkau tau, bahwa cinta hadir karena rasa? Cinta bukan hadir karena mata apalagi sekedar kata Bukan... Bahkan jika engkau dihimpit pilu Kau tetap saja cinta Tidakkah engkau tau, bahwa cinta hadir karena iman? Cinta bukan hadir karena harta apalagi sekedar manja Bukan... Bahkan jika engkau berselimut lara Kau tetap saja cinta Tidakkah engkau tau, bahwa cinta hadir karena takwa? Cinta bukan hadir karena pesona apalagi sekedar tawa Bukan... Bahkan jika engkau bermandikan duka Kau tetap saja cinta Cinta datang dari dalam nuranimu yang nyata Bukan dari paksaan ego apalagi hanya angan belaka Cinta datang dari dalam jiwamu yang merdeka Bukan dari penjara keangkuhan apalagi hanya materi saja Inilah cinta yang membuncah dalam dada Kau kah itu? Yang hatinya berdegup kencang tatkala zikir-zikir merdu dilantunkan? Yang matanya menangis tatkala takbir dikumandangkan? Kau kah itu? Yang berbaris rapi di garda terdepan untuk menegakkan kalimat tinggiNya? Kau kah itu? Yang mencintai Allah d...

Akulah Buih Itu

Mungkin, akulah buih itu Selemah-lemahnya iman Yang hanya bisa berdoa ketika melihat kemungkaran Aku bukan patriotik yang lantang nan gagah Aku gamang dan kalut serta takut dan tak berdaya Mungkin, akulah buih itu Yang berderai air mata Ketika keyakinan ku diusik sedemikian rupa Ketika pewaris kitab suci ku dinista sedemikian hina Mungkin, akulah buih itu Yang diam dan marah dalam jiwa Ketika seluruh dunia justru tertawa Melihat fitnah dan cela seperti bom molotov Tak berhenti di medan laga Mungkin akulah buih itu Yang tersungkur dalam kepedihan Ketika media berbicara penuh muslihat Ketika kepalsuan justru menjadi dewa Mungkin akulah buih itu Yang masih saja berdoa Tak henti melantunkan ratapan Kepada Sang Maha Esa Untuk Negeriku Tercinta Indonesia, Janganlah engkau menjadi durja Hanya karena membela kebathilan Demi kepentingan dan kekuasaan Akulah buih itu, Yang masih diam seribu bahasa Walau renjana menguasai hatiku Aku tetap pada asmaNya @kenulinnuha Semarang, 2017

Cinta Untuk Negeri

I Bergetar hati ini, bergetar jiwa ini Shaf shaf rapi merapat diri Sekalipun kaki dan jemari letih tak berarti . Teguh iman ini bukan untuk dicaci Bukan pula egoisme pribadi Ini hanya cinta yang membuncah dalam dada kami Ini hanya kasih yang menggelora dalam jiwa kami . II Doa-doa melangit tak terhenti Zikir dilantunkan sepanjang hari Bukan karena politik atau semacamnya Ini lebih dari seruan nurani . Kami bergerak bukan karena paksa Ini sungguh bukti cinta kami . III Jika cinta bisa menjadikan cuka menjadi madu Maka madu ini manis diemban rindu Rindu bertemu dengan para mujahid Jika cinta bisa mengubah api menjadi air Maka air ini penyejuk tak terhingga . Hati kami bersatu Bukan karena marah atau benci Bukan juga karena emosi Ini karena cinta Cinta kami pada negeri tercinta ini . Desember 2016 @kenulinnuha

Keputusan Penting

I Aku memutuskan untuk berhenti Seperti komidi putar yang berhenti Seperti ketika lampu merah menyala Seperti kapal diujung dermaga Seperti pesawat yang mendarat Lampu-lampu seakan gulita Kabur dan tak terlihat II Bukan karena menyerah Menyerah adalah kekalahan yang mengenaskan Bukan karena tak ingin Ketidakinginan adalah kemalasan yang membosankan Terkadang manusia diciptakan untuk bersabar Terkadang manusia diciptakan untuk memilih Mana yang lebih baik Mana yang mendekatkan padaNya III Aku memutuskan untuk menyelesaikannya Seperti pembuat roti yang selesai menaruh garnis Seperti pelukis yang meletakkan kuasnya Seperti dokter yang selesai dengan diagnosanya Lagi, Lampu-lampu tidak berkelip kembali Bahkan jantung tidak berdegup kencang lagi Aku telah mengambil keputusan penting Prinsip tidak terkalahkan Bahkan dengan nurani November 2016 @kenulinnuha

M.A.H.A.B.B.A.T.U.L.L.A.H

I hati milik Allah, kau lantunkan subuh itu berdecak kagum meraba dinginnya embun hati milik Allah, kau ucapkan subuh itu dalam setiap ayat-ayat berpadu kalamNya terasa hangat dalam jiwa kalamNya terasa sejuk menghiasi nada setiap huruf alif, ba, ta, tsa bernilai sepuluh setiap ayat Allah, Muhammad, bernilai tak terhingga bergetar bibir ini tergugu sendu bergetar batin ini mengeja satu per satu II aku cinta pada Quran, kau lantunkan pagi itu menghapalnya seperti melihat bunga-bunga bermekaran wangi, indah dan tak pernah bosan aku cinta pada Rasullulah, kau azzamkan pagi itu shalawat kepadanya seperti detak yang tak terhenti terus berdetak, berdering hingga memacu lebih cepat aku cinta pada Allah, kau tancapkan dalam-dalam pagi itu sholatku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah tercekat lidah itu seperti bertandu tangis yang mengharu pagi itu hanya satu Aku sungguh mencintai Allahku November 2016

T.E.R.P.A.N.A

I lebih mudah mencari kayu di hutan daripada mencari jarum dalam tumpukan jerami lebih mudah menggapai debu-debu di langit kamar daripada menggapai lautan mimpi aku kira langit lebih luas daripada bumi aku kira lautan lebih dalam daripada parit di dekat rumah II aku seperti terpana pada setiap lembar daun yang jatuh dari rantingnya bergelayut manja pada dahan di sampingnya sejenak bertasbih lirih berzikir tidak juga terhenti walau badai menghujam aku seperti terpana pada setiap awan yang bergerak perlahan seperti melukis diri dengan senyum riang sejenak menengadahkan diri rela beradu dengan petir yang menyambar tidak juga terhenti walau titik-titik air membanjiri III aku mencari bahagia dalam setiap pena yang kutulis dengan air mata cinta yang kubaca dengan getir jiwa aku terpaku pada sajak-sajak kemarin sore yang pernah disulam dengan hati bahagia walau benang tak juga terangkai walau jarum tertancap dalam tabir yang sama senja kala itu menyapa bahwa h...

E.M.P.A.T.I

I yang hilang dari masyarakat kita saat ini adalah empati, kepedulian yang saling menghargai, menempatkan diri menjadi pribadi yang penuh dedikasi. yang hilang dari masyarakat kita saat ini adalah empati, bukan menuntut agar engkau memahami aku, mengedepankan ego, atau paling superior sendiri. II yang hilang dari masyarakat kita saat ini adalah empati, bergerak bukan diam, beraksi bukan memaki, dan memiliki solusi bukan pendiksi. yang hilang dari masyarakat kita saat ini adalah empati, empati rasanya hilang dan tak berarti mulai berganti dengan materi atau justru hedonisme pribadi III apakah budaya saling menolong telah terkikis? apakah napas bahu membahu telah tersapu habis? apakah peduli sudah menjadi apatis? yang kita butuhkan sebenarnya adalah empati.. ia hadir dalam setiap nurani fitrah sejati Ia hadir dalam setiap darah pewaris negeri. November 2016

Ruang Imaji

Aku seperti kerani dalam ruang imaji yang berdegup kencang dikala malam menjelang. Aku seperti lebah yang tersengat bunga di taman, jauh dari kemarin aku sebenarnya sedang melanglang. Aku seperti mercusuar dalam pelabuhan jiwa dikala mata tak seharusnya iri pada hati. Mungkin hati lebih mula menangkap radar ketimbang mata yang hanya bisa menimbang. Aku seperti air dalam kaktus berduri, selalu bersembunyi lebih parau. Aku bukan daun jati yang tegak berdiri, menopang segala semilir rindu yang bersemayam dalam kalbu. Aku seperti mengais-ngais lembaran sunyi, sepi kubuat sendiri. Aku bukan matahari yang rela menunggu datangnya pagi. Karena riak ini hanya aku yang berpuisi.

Yang Kuingat Hanya Satu

"Kamu uda lama ga nulis, Ken?" tanya Bapak suatu sore. Aku hanya terdiam dan tersenyum. "Menulislah Ken, kalau tidak bisa banyak tulislah puisi yang lebih ringan, bermain kata-kata bisa menentramkan hati". Yang Kuingat Hanya Satu   Terkadang aku lupa  bahwa matahari berwarna jingga Atau merah menyala  seperti kelopak bunga di depan rumah   Terkadang bahasa lisan  tidak bisa menerjemahkan bahasa hati  siapa yang lebih tau Bahwa nurani adalah rahasia Illahi?   Terkadang aku lupa bahwa mimpi bisa larut dalam sunyi  siapa kira jika seluruh jemari meminta pada Illahi? Berderap langkah pun seperti misteri, b inar-binar cahaya tak lebihnya sepi Terkadang aku lupa bahwa langit berwarna biru t api bisa jadi laut yang berwarna biru, satu fase bisa merubah arti  bukankah langit bisa saja berwarna gelap jika malam menjelang?  Atau berwarna kuning saat matahari terbit?   Terkadang aku lupa bahwa rumput berwarna hijau Atau co...

Melangitkan Doa Mengetuk Sang Maha Esa

Gambar
Doaku semoga Aku tak terlambat Memberi yang terbaik dari hidupku Semoga Engkau terima semua ibadahku Masukkanlah diriku untuk kekal di Surga-Mu -Ali Sastra- Jika doa bisa mengubah takdir, maka lebih baik berdoa dalam kesunyian, memekat lara yang sudah terlanjur menancap. Jika doa bisa merubah keadaan, maka lebih baik berdoa dengan santun, melantunkan segala perasaan yang sudah berdebur menjadi satu. Jika doa bisa meruntuhkan kemungkaran, maka lebih baik berdoa dalam heningnya malam, bermunajat pada Rabb yang Maha Segala. Jika doa bisa melembutkan hati yang keras, maka lebih baik berdoa dalam setiap kesempatan, memperbaiki hati yang kelak hanya tertuju padaNya. Jika doa bisa menambah kecintaan, maka lebih baik berdoa dalam lapis-lapis air mata pertaubatan, agar yang utama dalam setiap hati manusia adalah Allah Azza wa jalla.

KENAPA DIAM?

Kenapa Diam Ketika Presiden datang ke kotamu dan jalan yang mau dilewati rombongan presiden dibersihkan dari pedagang kakilima kenapa kau diam saja Bahkan entah kenapa saat melewati desa dengan jalan di kiri-kanan sawah dan kerbau petani dilarang membawa cangkul Apa yang salah pada sawah, kerbau, petani dan cangkul: bukankah petani bekerja menanam padi untuk memberi makan mereka, meski pun keluarga petani rela makan sehari sekali atau hanya singkong Dan benarkah kau diam saja saat di satu desa presiden membagi beberapa ekor sapi yang hakikatnya hanya untuk beberapa warga sementara orang-orang desa dilanda kemiskinan Dan ada kabar tentang mahasiswa yang melakukan aksi menolak kedatangan Presiden tapi para aparat membuat barikade perang Bahkan dikabarkan seorang mahasiswa terluka kepalanya berdarah karena dibenturkan ke truk Apakah mereka tidak berpikir bahwa mereka juga mempunyai isteri dan anak di rumah Kenapa kau diam saja atas semua kejadian itu kemana hati nurani yang pernah kau te...