Postingan

Menampilkan postingan dengan label CERPEN

SANG FOTOGRAFER: Sebuah Perjalanan Hijrah Sang Juru Foto

Gambar
Setiap lensa memiliki cerita Ia membidik dengan sempurna Jika focus adalah tujuan Maka buat apa menjadi durja Lensa tersenyum padaku Apa yang hendak kau bidik? Aku sedang berkontemplasi dengan sepia Rasanya sendu namun berpadu Bidiklah hal yang baik! Lensa tak bernyawa namun ia patuh pada sang tuan Dikembalikannya focus seperti semula Lensa menjadikanku semakin gempita Tidakkah aku harus membidik hal yang baik saja? Seperti layaknya sang juru foto yang baik nan bersahaja Bukan ambisi mengais nurani Bukan pula ego diri membungkam sanubari Lensa kemudian menarikku Ini dia kebaikan yang seharusnya kau bidik Setiap jemari yang menengadah pada Illahi Setiap hati yang mengiba pada Sang Maha Tinggi -Untuk Ivan dan Sigit *** Jakarta, 2017: Sigit Prasetya Aku mengenal Ivan dan Wicak sejak satu dekade yang lalu, dia sama sepertiku. Penyuka metalica, rokok dan kopi. Tidak ada malam yang kami lewati tanpa mengobrol di Item Coffee , coffee shop milik Wica...

Karena Yang Mencintai Quran Yang Menyejukkan Hati

Untukmu calon imamku yang aku tidak tahu dimana kamu berada? Suatu saat bila engkau datang Tolong cintai aku karena Allah Bimbing aku, jadilah imam dalam sholatku Izinkan bakti dan taatku menyatu bersama senyum di wajah teduhmu Izinkan cinta dan rinduku terpatri kuat di dalam hati dan pikiranmu *** Suara gerimis di luar sana mengaburkan sejenak memoriku. Entah berapa banyak hal yang telah kulewati dalam hidup. Semuanya menyisakan kenangan yang terlampau sulit untuk dilupakan. Ah, melewati begitu banyak persinggahan hati tidak seharusnya kutangisi, bukankah setiap air mata terlalu berharga hanya untuk sesuatu yang bersifat tidak pasti. Terlebih lagi soal cinta, bisakah ia merona jingga saja seperti senja di sore hari atau mekar mewangi seperti bunga di pekarangan rumah?. Semarang, 2013 “Gerimis sayang, Naik taksi aja, kalau naik bis gamis indah Kakak basah loh!” , seperti biasa Mama mulai khawatir jika musim hujan datang. “Naik bis aja Ma, bisa pakai pay...

SANG ILUSTRATOR [PART 1]

Aroma pensil kayu yang kuasah dengan cutter lebih kusukai daripada aroma obat yang sering kujumpai sepanjang hidup. Warna magenta yang kuciptakan sendiri lebih kusukai daripada warna hijau kelambu di ruang praktek dokter milik Ayahku. Aku tidak butuh title untuk menjadi orang bermanfaat, aku hanya mengikuti lintasan hati dan pikiranku. Bahwa yang kukira benar dan kuyakini baik akan kuperjuangkan. Meskipun keluargaku melarang keras, melumpuhkan setiap inci impian yang terukir dalam mozaik hidupku,  aku tidak akan mundur begitu saja. *** Hujan sore ini mengaburkan segala warna-warna imajinasi dalam pikiranku. Deadline lomba karya cipta Logo “ The Future Riset and Technology ” yang diselenggarakan Presiden untuk menjaring bakat generasi muda akan ditutup satu jam lagi. Ayah berteriak lagi, sama seperti hari-hari lalu. Dalam benakku selalu terngiang kata-kata itu “You must be a doctor, Ezra!”. Ayah tidak pernah menyerah memaksaku untuk mengikuti ambisinya agar aku, Ezra Farid ...