Puisi Menuju Novel Pertamaku 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: Doa yang Berbunga di Langit
Doa yang Berbunga di Langit
Kita adalah dua musim
yang diajarkan langit
untuk tidak saling memiliki hujan.
Engkau menjelma fajar
yang setiap pagi menyapaku tanpa suara,
sedang aku hanyalah embun
yang memilih menguap
sebelum sempat dipungut cahaya.
Maka kita belajar
bahwa rindu tak selalu meminta alamat pulang.
Pernah suatu kali
aku menyulam namamu
dengan benang-benang tasbih.
Bukan pada selembar surat,
melainkan pada sajadah
yang setiap malam menghafal
getar dahiku.
Sebab ada cinta
yang terlalu suci
untuk dititipkan kepada manusia.
Maka kusimpan ia
di telapak langit,
agar hanya Allah
yang mengetahui harum mekarnya.
Waktu kemudian menjelma sungai.
Ia membawa kita
ke muara yang berbeda.
Engkau menjadi teduh
di jendela rumahmu.
Aku menjadi lampu
di beranda rumahku.
Kita sama-sama menyalakan bahagia
bagi orang-orang
yang Allah amanahkan.
Sementara rindu...
tetap menjadi burung migrasi
yang hanya pulang
ke arah doa.
Lalu tujuh ribu tiga ratus lima hari berlalu
seperti daun-daun trembesi
yang diam-diam gugur
tanpa pernah memprotes musim.
Dan ketika takdir
akhirnya mengetuk pintu yang sama,
Aku mengerti
rupanya Allah
tidak sedang menunda pertemuan.
Dia hanya sedang
mematangkan akar
agar pohon cinta ini
tak lagi tumbang
oleh angin dunia.
Kini,
di genggaman yang telah halal ini,
aku tak lagi ingin berkata,
"aku mencintaimu."
Kalimat itu terlalu kecil untuk menjelaskan seluruh penantian kita.
Biarlah aku hanya berbisik,
"Ya Allah..."
"Jika esok Kau panggil salah satu dari kami lebih dahulu,
jadikanlah yang tinggal
tetap menemukan wajah yang lain
pada setiap doa."
Karena sesungguhnya, cinta yang paling abadi bukanlah dua hati yang saling menemukan melainkan dua doa yang sejak awal telah saling mengenali di langit.
Love,
Ken Ulinnuha
Juli 2026
Komentar