Palimpsest

Palimpsest

Barangkali hati adalah palimpsest.

Setiap musim datang membawa ejaannya sendiri. Ia menulis, menghapus, lalu menulis kembali seolah segala sesuatu dapat dimulai dari halaman yang bersih.

Namun hati bukan kertas.

Ia menyimpan apa yang tak lagi terbaca, merawat apa yang tak lagi disebut.

Di bawah kalimat-kalimat baru, selalu ada sebuah aksara yang bertahan dengan kesunyian seorang batu.

Aku telah menempuh begitu banyak mata angin.

Menyaksikan dedaunan berganti warna, mendengar laut mengucapkan namanya dalam bahasa yang tak pernah kupahami, dan melihat waktu mengajari setiap luka cara menyebut dirinya sebagai "masa lalu."

Akan tetapi, ada sesuatu yang tak pernah benar-benar menjadi lampau.

Ia tidak mengetuk.

Ia tidak meminta dikenang.

Ia hanya hadir seperti aroma kayu tua di sebuah perpustakaan sunyi—

tak terlihat, namun mengubah seluruh udara menjadi ingatan.

Barangkali memang demikian cara beberapa hal bertahan.

Bukan dengan menolak waktu,

melainkan dengan menjadi lapisan paling awal yang tak pernah dapat dipindahkan, betapa pun banyak kisah dituliskan di atasnya.

Aku tak sedang memanggil siapa pun.

Tak pula berharap langkah-langkah lama kembali menemukan jalannya.

Sebab ada jarak yang lebih arif daripada pertemuan.

Ada diam yang lebih jujur daripada segala pengakuan.

Dan ada nama yang tak membutuhkan suara untuk tetap hidup di dalam bahasa hati.

Malam ini, aku hanya duduk bersama diriku sendiri.

Membaca kembali halaman-halaman yang kukira telah selesai.

Lalu kusadari,

bukan waktu yang gagal menghapus.

Melainkan aku yang sejak awal tak pernah benar-benar ingin kehilangan cara sebuah cahaya pernah jatuh ke dalam hidupku.

Maka biarlah.

Tak semua aksara ditakdirkan menjadi kalimat.

Tak semua kalimat ditakdirkan selesai.

Ada yang cukup menjadi jejak tinta

samar, namun abadi

di dalam hati yang terus belajar ditulisi oleh kehidupan.


Sedang Rindu, itu saja

-Ken

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Dada: BAB 5 -- Ayat-Ayat yang Disimpan dalam Sunyi

Sabar Seluas Lautan dan Hati Sejernih Langit

Fitrah Based Education [Part 3]: Framework

Would The World Be Better Without Islam? Absolutely No!

Sekuat Apa Jika Kau Seorang Diri?