Novel 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: BAB 3 -- Bangku Yang Selalu Menunggu

BAB 3

Bangku yang Selalu Menunggu

"Ada tempat yang dibangun dari semen dan batu. Ada pula tempat yang dibangun dari perjumpaan. Yang kedua, biasanya lebih sulit ditinggalkan."


Tidak ada yang istimewa dari bangku itu.

Panjangnya bahkan tak sampai tiga meter. Permukaannya mulai diselimuti lumut tipis setiap musim hujan datang, dan di sisi kanannya akar trembesi tua perlahan mendorong tanah, membuat semen di bawahnya retak seperti garis-garis usia pada wajah orang yang terlalu lama menunggu.

Namun justru karena kesederhanaannya itulah bangku itu seperti tahu cara menjadi rumah bagi lelah.

Setiap sore, ia selalu terisi.

Kadang oleh mahasiswa yang sedang menatap proposalnya dengan mata kosong.

Kadang oleh mereka yang baru saja kalah dalam debat, lomba, atau hidup.

Kadang oleh seseorang yang hanya ingin duduk tanpa harus menjelaskan apa-apa kepada siapa pun.

Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, waktu mulai belajar berjalan lebih pelan bagi Asa dan Nika.


Hari-hari sebagai Presiden BEM tidak pernah benar-benar memberi Asa kesempatan untuk beristirahat.

Pagi rapat.

Siang audiensi.

Sore mendampingi panitia.

Malam menyusun laporan.

Ketika mahasiswa lain mulai pulang dan langit mulai merapikan warna jingganya, lampu sekretariat BEM justru baru dinyalakan. Di ruangan itu, Asa sering merasa hidup seperti daftar tugas yang tak pernah selesai, tetapi ia tidak pernah benar-benar mengeluh. Ada semacam keyakinan diam-diam di dadanya: bahwa setiap lelah yang dipakai untuk memudahkan orang lain, entah bagaimana, akan kembali sebagai doa.

"Asa..."

Seorang teman menepuk bahunya dari belakang.

"Pulanglah. Besok saja dilanjutkan. Kamu ini bukan mesin fotokopi."

Asa tersenyum sambil tetap mengetik.

"Kalau proposal ini belum selesai malam ini, besok adik-adik panitia tidak bisa mengajukan izin ke fakultas."

Temannya mendengus kecil.

"Kamu ini terlalu rajin. Nanti kalau tua, jangan-jangan masih mau rapat juga."

Asa menutup laptopnya sejenak, lalu menatap temannya dengan senyum yang tenang.

"Kalau kita pernah dibantu senior, masa sekarang kita menutup pintu untuk yang di bawah?"

Temannya mengangkat kedua tangan, menyerah.

"Baiklah. Aku kalah. Kamu memang terlalu susah disuruh berhenti."

Asa hanya tertawa kecil.

Ia memang sulit mengatakan "tidak" jika urusannya adalah membantu orang lain. Baginya, kepemimpinan bukan soal duduk paling tinggi, melainkan soal paling cepat menunduk ketika ada yang perlu diangkat.


Di sisi lain kampus, Nika mulai menemukan dunianya sendiri.

Perpustakaan.

Mushala.

Dan ruang kecil tempat komunitas karya tulis berdiskusi hingga menjelang Magrib.

Ia belum memiliki jabatan apa pun. Belum banyak yang mengenalnya. Namun hampir setiap dosen yang mengajar mulai mengingat satu hal tentang dirinya: perempuan itu selalu bertanya.

Bukan untuk menyanggah.

Melainkan untuk memahami.

"Bu, kalau ekonomi syariah itu bicara keadilan..."

"...mengapa kemiskinan masih banyak terjadi?"

Ruang kelas mendadak sunyi.

Dosen itu menatap Nika beberapa detik, lalu tersenyum dengan mata yang lembut.

"Karena ilmu tidak selalu langsung mengubah dunia, Nika. Tapi ilmu yang benar akan mengubah cara kita memandang dunia. Dan dari cara memandang itulah, perubahan mulai tumbuh."

Nika menunduk.

Baginya, ilmu bukan untuk membuat seseorang terlihat pintar. Ilmu harus membuat seseorang lebih peduli. Lebih rendah hati. Lebih sadar bahwa di balik setiap teori ada manusia yang sedang berjuang.

Ia sering berpikir, mungkin orang yang benar-benar berilmu bukanlah yang paling banyak bicara, melainkan yang paling cepat merasa kecil di hadapan kebenaran.


Suatu sore, langit kembali mendung.

Awan menggantung rendah seperti pikiran yang belum selesai diputuskan. Asa keluar dari sekretariat sambil membawa setumpuk proposal. Belum sempat melangkah jauh, ia melihat seseorang duduk di bangku depan BEM.

Nika.

Ia sedang memandangi halaman kosong sebuah buku tulis. Pensil di tangannya tidak bergerak. Wajahnya tampak tenang, tetapi ada sesuatu yang seperti sedang berkelahi diam-diam di dalam kepalanya.

"Asyik melamun?"

Nika menoleh lalu tersenyum kecil.

"Bukan melamun."

"Lalu?"

"Lagi kehilangan kalimat."

Asa tertawa pelan.

"Penulis memang sering begitu. Kalimatnya kadang sembunyi seperti kucing, harus dipanggil pelan-pelan."

Nika menatapnya, sedikit terkejut.

"Kakak tahu saya suka menulis?"

"Waktu formulir orientasi."

Nika mengernyit.

"Kakak membaca sampai bagian hobi?"

"Bukan."

"Terus?"

"Kakak membaca semuanya."

Jawaban itu sederhana, tetapi membuat Nika diam sejenak. Ada rasa hangat yang pelan-pelan naik dari dadanya. Bukan karena dipuji. Melainkan karena ada orang yang benar-benar memperhatikan hal-hal kecil. Dan perhatian, bagi hati yang lelah, kadang lebih menggetarkan daripada kata-kata besar.


"Asa..."

Seorang mahasiswa memanggil dari kejauhan.

"Sebentar lagi rapat dimulai."

"Iya."

Asa mengangguk, tetapi ia tidak langsung pergi. Matanya jatuh pada buku yang ada di pangkuan Nika.

"Apa yang sedang ditulis?"

Nika menghela napas.

"Lomba karya tulis."

"Tema?"

"Pemberdayaan zakat produktif untuk ekonomi ummat."

Asa duduk kembali di ujung bangku, seolah rapat yang menunggunya di ruangan lain tiba-tiba menjadi kurang mendesak.

"Boleh lihat?"

Nika menyerahkan beberapa lembar.

Asa membacanya perlahan. Tidak buru-buru. Tidak seperti orang yang sekadar ingin tahu. Sesekali ia mengangguk. Sesekali bibirnya membentuk senyum kecil. Sesekali alisnya naik, seperti menemukan kalimat yang membuatnya berhenti sejenak untuk berpikir.

Lalu ia menutup lembaran itu.

"Bagus."

"Cuma bagus?"

"Bagus sekali."

Nika tertawa kecil.

"Kakak sedang menyemangati atau benar-benar membaca?"

"Kakak tidak pernah memuji tulisan yang belum layak."

Kalimat itu membuat Nika terdiam.

Ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Bukan karena dipuji, melainkan karena percaya. Jika Asa berkata "bagus", berarti ia memang telah membaca dengan sungguh-sungguh. Dan bagi Nika, ketulusan seperti itu jauh lebih berharga daripada sanjungan yang mudah diucapkan.


Azan Asar berkumandang.

Suara itu mengalun dari mushala kampus, lembut namun tegas, seperti pengingat bahwa dunia boleh sibuk, tetapi jiwa tetap perlu pulang. Mereka berjalan bersama menuju mushala. Di pelatarannya, mahasiswa mulai berwudu. Air mengalir di sela-sela jari, membawa debu, lelah, dan sedikit kegelisahan yang tak sempat diberi nama.

Langkah Asa sedikit melambat ketika melihat seorang petugas kebersihan kesulitan mengangkat galon air.

Tanpa diminta, ia membantu.

Tanpa banyak bicara.

Tanpa menunggu dilihat.

Nika memperhatikan dari kejauhan.

Ia kembali teringat hari pertama kuliah. Lelaki ini memang selalu begitu. Membantu lebih dulu. Bercerita belakangan. Seolah baginya, kebaikan tidak perlu menunggu panggung.

Mungkin begitulah seharusnya seorang pemimpin.

Bukan yang paling keras suaranya.

Melainkan yang paling ringan tangannya.


Selesai salat, hujan turun lagi.

Mereka berteduh di serambi mushala. Angin membawa aroma tanah yang basah, aroma yang selalu membuat hati merasa sedang diingatkan bahwa bumi pun punya cara sendiri untuk berzikir.

Nika memeluk buku tulisnya ke dada.

"Kak Asa..."

"Hm?"

"Menurut Kakak..."

"...orang yang paling kuat itu seperti apa?"

Asa tidak langsung menjawab. Ia memandang titik-titik hujan yang jatuh di halaman, lalu menatap langit yang tertutup awan.

"Lelaki?"

"Atau perempuan."

"Kakak rasa sama."

"Lalu?"

"Kakak rasa..."

"...orang yang paling kuat adalah orang yang tetap bisa menyalakan lampu di dalam dada orang lain..."

"...meski dirinya sendiri sedang berjalan di lorong yang gelap."

Nika menatap hujan.

Kalimat itu terasa singgah lebih lama di dalam hatinya. Seperti ayat yang tidak hanya dibaca, tetapi juga menetap. Ia tidak tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, kalimat itulah yang akan menjadi cara mereka saling menjaga. Bukan dengan pesan yang panjang. Bukan dengan pertemuan yang sering. Melainkan dengan doa yang tak pernah meminta balasan.

Nika menarik napas pelan.

"Berarti orang yang kuat itu bukan yang tidak pernah menangis?"

Asa tersenyum kecil.

"Bukan."

"Terus?"

"Orang yang kuat itu justru yang masih bisa lembut setelah pernah patah."

Nika menunduk.

Ada sesuatu yang bergetar halus di dadanya. Ia tidak tahu apakah itu karena hujan, karena suara Asa, atau karena tiba-tiba hidup terasa lebih masuk akal ketika ada orang yang bisa menjelaskan luka tanpa membuatnya malu.

Lalu ia bertanya lagi, lebih pelan.

"Kalau orang sholeh itu, Kak... apakah dia selalu terlihat tenang?"

Asa menggeleng.

"Belum tentu."

"Lalu bagaimana kita tahu dia sholeh?"

"Kakak rasa..."

"...orang sholeh itu bukan yang tidak pernah jatuh."

"...tapi yang kalau jatuh, ia tahu jalan pulangnya."

Nika menatapnya lama.

"Ke mana?"

"Ke sajadah."

"Ke Al-Qur'an."

"Ke Allah."

Hening turun di antara mereka, tetapi hening itu tidak kosong. Ia justru penuh. Penuh oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata: rasa ingin menjadi lebih baik, rasa ingin pulang, rasa ingin hidup dengan hati yang tidak terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa menengadah.

Nika tersenyum kecil.

"Kalau begitu, saya harus sering-sering dekat dengan orang sholeh."

Asa menoleh padanya, pura-pura berpikir.

"Berarti kamu sedang mengakui sesuatu?"

Nika mengangkat alis.

"Apa?"

"Bahwa kamu sedang dekat dengan orang sholeh."

Nika tertawa kecil, lalu menunduk cepat.

"Astaghfirullah, Kak. Percaya diri sekali."

Asa ikut tertawa.

"Kalau tidak percaya diri, nanti kalah sama hujan."

"Kenapa hujan?"

"Karena hujan selalu datang tanpa ragu."

Nika menggeleng sambil tersenyum.

"Kalau begitu, Kakak harus hati-hati. Nanti saya kira Kakak sedang puitis."

"Kakak memang sedang puitis."

"Sejak kapan?"

"Sejak tahu ada orang yang bisa bertanya tentang hidup sambil menatap hujan seperti itu."

Nika terdiam.

Pipinya menghangat.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa diam pun bisa menjadi bahasa yang indah.


Sore mulai turun.

Hujan mereda.

Mereka berdiri di anak tangga mushala. Udara masih basah, dan langit perlahan membuka celah tipis untuk cahaya yang malu-malu turun.

"Asalamualaikum, Kak."

"Waalaikumsalam, Dek."

Nika tersenyum.

Entah mengapa, panggilan itu membuat kampus yang luas terasa sedikit lebih akrab. Seperti ada ruang kecil di dunia yang tiba-tiba bisa ia sebut pulang.

Dan bangku di depan Gedung BEM...

Diam-diam kembali menunggu esok sore.

Sebab ia tahu, besok dua orang itu akan datang lagi.

Membawa cerita baru.

Membawa lelah yang belum selesai.

Membawa pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak langsung dijawab oleh dunia.

Tanpa menyadari bahwa Allah sedang menulis kisah yang kelak akan mereka hitung hingga puluhan tahun.


Love, 
Ken Ulinnuha
Juli 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Overture Menuju Novel Blog Pertamaku: 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa

Fitrah Based Education [Part 3]: Framework

Kita Tidak Bisa Memilih, Tapi Bisa Memutuskan

Kebaikan Yang Sederhana

Si Penyembunyi Amal