Novel 7.305 Hari Menjaga Asa dalam Doa: BAB 1 -- Saat Doa Bergemuruh Di Langit

Saat Doa Bergemuruh Di Langit 

"Barangkali Allah tidak pernah benar-benar memisahkan dua hati yang saling menjaga. Dia hanya menanam jarak agar rindu belajar menjadi sabar, lalu sabar belajar menjadi cahaya."


Hari itu hujan turun pelan.

Bukan hujan yang jatuh seperti amarah langit, melainkan seperti seseorang yang sedang belajar menangis tanpa suara tetesnya halus, rapi, nyaris sopan, seolah bumi pun harus diberi waktu untuk menerima duka yang turun dari atas.

Di pelataran sebuah masjid tua, seorang perempuan berdiri memeluk map berwarna biru tua. Kerudung krem yang dikenakannya beberapa kali terangkat angin, lalu jatuh kembali ke bahunya seperti ombak kecil yang tak pernah benar-benar pergi dari pantai.

Usianya empat puluh tahun.

Di sela hijabnya, beberapa helai rambut putih mulai tampak—seperti serpihan salju yang tersesat di musim yang terlalu lama menunggu. Di jemarinya masih melingkar cincin yang sudah lama kehilangan pasangan untuk digenggam. Lingkar kecil itu terasa seperti sisa musim semi yang tak sempat pulang.

Namanya Nika Ulima Farchah.

Sudah hampir lima belas menit ia berdiri di sana.

Bukan karena terlambat.

Melainkan karena sedang mengumpulkan keberanian sebab ada pertemuan yang tidak pernah benar-benar selesai di dalam dada, meski kalender sudah berkali-kali berganti wajah.

Di tangannya ada sebuah buku yang sampulnya mulai pudar.

Resep Hidup Bahagia Menurut Al Quran.

Di halaman pertama, tinta hitam itu masih sangat jelas.

"Untuk Adek... semoga tetap menjadi perempuan yang tak pernah lelah menyalakan harapan. — Kakak."

Nika tersenyum.

Senyum yang tipis, seperti cahaya pagi yang malu-malu menyelinap di celah jendela.

Lalu ia menutup buku itu perlahan, seolah sedang menutup pintu pada sebuah masa yang tak pernah benar-benar pergi.

"Masih saja memanggilku Adek..."

Suara itu nyaris hilang bersama hujan.

Sudah dua puluh tahun.

Namun tidak sekali pun ia sanggup menghapus tulisan itu.

Tidak juga lelaki yang menuliskannya.

Karena ada nama yang tidak tinggal di kertas ia tinggal di dada. Ada kenangan yang tidak menua ia hanya berubah menjadi doa.


Di sudut kota yang lain...

Seorang lelaki menatap sebuah kemeja putih yang tergantung rapi di dalam lemari.

Warnanya sudah tidak sebening dulu. Putihnya telah sedikit memudar, seperti bulan yang terlalu sering dipandang dari kejauhan. Di bagian kerah masih tersimpan aroma kapur barus, bercampur samar dengan bau waktu yang diam-diam mengendap di kain.

Ia mengusapnya pelan, seolah takut merusak kenangan yang menempel di setiap seratnya.

"Itu masih disimpan?"

Suara anak perempuannya membuatnya tersenyum kecil.

"Iya."

"Kenapa?"

Lelaki itu terdiam cukup lama.

Matanya jatuh pada kemeja itu, lalu naik ke langit-langit kamar, seolah jawaban yang ia cari sedang tergantung di sana bersama debu dan cahaya.

"Karena ada hadiah yang nilainya bukan pada barangnya..."

"...tetapi pada orang yang memberikannya."

Anaknya mengangguk, meski belum benar-benar mengerti.

Ia hanya tahu ayahnya tidak pernah membuang kemeja itu, bahkan setelah dipakai puluhan tahun lalu. Padahal hidup telah berjalan jauh. Padahal waktu seharusnya sudah mengikis semuanya. Padahal banyak hal lain telah datang dan pergi seperti musim yang tak sempat berpamitan.

Namun ternyata...

Ada kenangan yang tidak meminta untuk dilupakan.

Ada benda yang menjadi rumah bagi doa-doa lama.

Lelaki itu bernama...

Asa Farid Ramadhan.

Dan di dalam dadanya, nama itu hidup seperti bara kecil yang tak pernah padam.


Pukul sembilan pagi.

Universitas itu kembali ramai.

Spanduk besar terbentang di depan gerbang.

REUNI AKBAR ALUMNI 20 TAHUN

Mahasiswa baru berlalu-lalang seperti daun-daun muda yang belum tahu bahwa tanah tempat mereka berpijak pernah menyimpan begitu banyak cerita. Kampus itu tampak sama sekaligus berbeda seperti wajah seseorang yang dicintai lama: masih dikenali, tetapi waktu telah menambahkan garis-garis halus yang membuatnya semakin manusiawi.

Nika melangkah perlahan melewati lorong fakultas.

Gedung-gedung sudah berubah.

Cat-cat baru menutupi dinding lama.

Sekretariat organisasi tampak lebih megah.

Namun satu tempat tidak berubah.

Bangku semen di depan Gedung BEM.

Masih di sana.

Masih dinaungi pohon trembesi yang kini jauh lebih besar, seolah waktu pun ikut tumbuh bersama akar-akar kenangan.

Nika berhenti.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Bangku itu...

Masih mengingat semuanya.

Tempat seorang kakak selalu duduk sambil menunggu rapat.

Tempat seorang adik sering datang membawa segelas teh hangat dan tumpukan proposal.

Tempat mimpi-mimpi mereka pernah tumbuh seperti benih yang disiram diam-diam oleh harapan.

Dan tempat...

Di mana satu kata seumur hidup tidak pernah berhasil mereka ucapkan.

"Adek..."

Suara itu.

Begitu pelan.

Begitu akrab.

Begitu mustahil untuk dilupakan.

Nika menoleh perlahan.

Di bawah rindang trembesi itu berdiri seorang lelaki dengan rambut yang mulai dipenuhi uban, mengenakan kemeja putih yang sangat dikenalnya.

Kemeja yang ia hadiahkan dua puluh tahun lalu.

Mata mereka bertemu.

Tidak ada yang berlari.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada musik.

Hanya dua pasang mata yang sama-sama belajar menahan air mata, seperti dua cangkir yang terlalu penuh tetapi tetap berusaha tidak tumpah.

Lalu...

Asa tersenyum.

Persis seperti senyum yang selalu diingat Nika selama 7.305 hari.

"Adek..."

Nika membalas senyum itu.

Masih sama.

Masih seperti dulu hangat, pelan, dan membuat dada terasa seperti disapu angin sore.

"Sudah lama ya, Kak..."

Asa mengangguk.

"Iya..."

"...dua puluh tahun."

Nika menunduk sejenak. Dalam hatinya, ia berkata lirih: Ternyata waktu tidak pernah benar-benar memisahkan. Ia hanya memindahkan pertemuan ke tempat yang lebih sunyi, agar doa bisa tumbuh tanpa gangguan.

Asa pun diam. Dalam dadanya, ada suara yang tak terdengar oleh siapa pun: Aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku hanya belajar menunggu dengan cara yang diajarkan langit.

Bahwa dua puluh tahun yang mereka lewatkan bukanlah kisah tentang dua orang yang saling melupakan.

Melainkan kisah tentang dua orang yang memilih saling menjaga dalam doa.


Dua puluh tahun sebelumnya...

Tahun 2007.

Hujan baru saja berhenti di sebuah kampus kecil.

Tanah masih basah.

Daun-daun trembesi masih menyimpan sisa air di ujungnya, seperti mata yang belum selesai menangis.

Seorang mahasiswa bernama Asa Farid Ramadhan baru saja dilantik menjadi Presiden BEM.

Ia berdiri di depan sekretariat dengan dada yang masih penuh gemuruh muda seperti laut yang belum belajar tenang.

Ia belum tahu...

Bahwa sore itu Allah akan mempertemukannya dengan seorang mahasiswi baru bernama Nika Ulima Farchah.

Dan sejak hari itu...

Akan dimulailah hitungan yang kelak mereka kenang sebagai:

7.305 Hari Menjaga Asa dalam Doa.



Love,
Ken Ulinnuha
Juli 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Overture Menuju Novel Blog Pertamaku: 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa

Fitrah Based Education [Part 3]: Framework

Kebaikan Yang Sederhana

Kita Tidak Bisa Memilih, Tapi Bisa Memutuskan

Si Penyembunyi Amal