Novel 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: BAB 2 -- Hujan yang Datang Terlalu Pagi
BAB 2
Hujan yang Datang Terlalu Pagi
"Barangkali pertemuan bukan tentang siapa yang pertama datang. Melainkan siapa yang diam-diam mengubah cara kita memandang dunia."
Tahun 2007.
Kampus selalu memiliki bau yang sama setiap awal semester.
Bau buku-buku baru yang masih menyimpan wangi kertas.
Bau cat tembok yang mulai mengelupas, seperti waktu yang diam-diam mengikis segalanya.
Bau rumput yang basah oleh embun pagi.
Dan bau mimpi-mimpi muda yang masih rapuh, belum tahu akan dibawa angin ke mana.
Asa Farid Ramadhan datang paling pagi.
Jam di pergelangan tangannya bahkan belum menunjukkan pukul tujuh ketika ia sudah membuka pintu sekretariat BEM.
Ruangan itu masih sepi, seperti dada yang belum sempat diisi suara.
Di atas meja, proposal kegiatan menumpuk seperti gunung kecil yang menunggu didaki. Sebuah papan tulis dipenuhi daftar pekerjaan yang belum selesai. Di sudut ruangan, sajadah masih terlipat rapi, menjadi saksi malam-malam panjang yang pernah dihabiskan di sana, malam ketika lelah, doa, dan tanggung jawab saling bertemu dalam diam.
Asa menarik napas panjang.
Rumah selalu membuatnya lelah bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.
Di rumah, ayah dan ibunya seperti dua garis yang dipaksa tinggal dalam satu atap, tetapi tak pernah benar-benar bertemu. Suara mereka lebih sering terdengar sebagai pertengkaran daripada percakapan. Ibunya kerap pergi lebih pagi daripada matahari, dan pulang lebih lambat daripada malam. Kadang-kadang, berhari-hari Asa hanya melihat punggungnya. Kadang-kadang, berminggu-minggu ia hanya mendengar namanya disebut orang lain.
Sejak kecil, Asa belajar satu hal: jangan terlalu berharap pada rumah yang retak.
Maka ia tumbuh menjadi anak yang tenang.
Anak yang lebih sering mendengar daripada bicara.
Anak yang lebih sering menahan daripada meminta.
Anak yang diam-diam belajar bahwa kenyamanan tidak selalu datang dari tempat yang seharusnya.
Ia menunduk, lalu berdoa pelan.
"Ya Allah... jangan biarkan jabatan ini membuatku lupa bahwa aku hanyalah hamba."
Itu selalu menjadi doa pertamanya setiap pagi.
Bukan doa agar dipuji.
Bukan doa agar berhasil.
Melainkan doa agar tetap rendah hati.
Karena ia tahu, yang paling berbahaya dari sebuah amanah adalah ketika seseorang mulai merasa dirinya lebih penting daripada orang lain.
Dan pagi itu, di antara tumpukan kertas dan sunyi yang belum pecah, Asa kembali mengingat bahwa manusia hanyalah pengembara singkat di jalan yang panjang. Jabatan hanyalah bayangan. Amanah hanyalah titipan. Yang abadi hanyalah bagaimana seseorang menjaga hatinya agar tetap tunduk di hadapan Allah.
Pagi itu hujan turun lebih cepat.
Langit seperti lupa menahan air matanya sendiri.
Mahasiswa yang baru datang berlarian mencari tempat berteduh.
Sebagian masuk ke perpustakaan.
Sebagian berhenti di kantin.
Sebagian lagi memilih berdesakan di serambi mushala.
Di antara mereka, seorang mahasiswi baru berdiri sambil memeluk map biru agar tidak terkena air.
Kerudung kremnya sedikit basah di bagian ujung.
Sepasang matanya justru sibuk memandangi papan pengumuman, seolah di sana tersimpan jawaban atas kegelisahan yang belum sempat ia beri nama.
Namanya...
Nika Ulima Farchah.
Ia datang bukan untuk mencari teman.
Bukan pula untuk mencari perhatian.
Ia datang membawa satu niat sederhana.
"Semoga aku pulang dari kampus ini menjadi manusia yang lebih bermanfaat daripada ketika aku datang."
Doa itu begitu pendek.
Tetapi Allah sering kali menumbuhkan takdir besar dari doa-doa yang sederhana.
Nika juga datang dari rumah yang tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah.
Ayahnya jarang pulang.
Dan ketika pulang, yang dibawa bukan kehangatan, melainkan suara keras, wajah muram, dan amarah yang seperti tidak pernah habis. Di rumah, Nika belajar mengecilkan langkah. Belajar menahan napas. Belajar membaca suasana sebelum membuka mulut. Belajar bahwa diam kadang lebih aman daripada menjelaskan apa pun.
Ia tumbuh menjadi gadis yang lembut, tetapi bukan karena hidupnya mudah.
Ia lembut justru karena terlalu sering berhadapan dengan kerasnya keadaan.
Maka ketika ia melangkah ke kampus pagi itu, ia seperti membawa seluruh luka rumahnya dalam lipatan map biru yang ia peluk erat-erat.
Dan di balik langkahnya yang pelan, ada hati yang diam-diam berdoa agar dunia tidak terlalu keras hari ini.
"Adik, orientasinya di aula sebelah."
Suara seorang petugas membuat Nika menoleh.
"Oh... terima kasih, Pak."
Ia tersenyum lalu berjalan pelan.
Namun langkahnya berhenti ketika melihat seorang lelaki sedang membantu petugas kebersihan mengangkat kursi-kursi lipat menuju aula.
Lelaki itu mengenakan jaket almamater yang sama.
Tidak ada yang istimewa pada penampilannya.
Kemejanya sedikit kusut.
Lengan bajunya digulung.
Keringat membasahi pelipis.
Tetapi ia tertawa bersama petugas kebersihan seolah mereka telah lama bersahabat.
Nika memperhatikan beberapa detik.
Ada sesuatu pada lelaki itu yang membuat pagi terasa tidak lagi sekadar pagi.
Bukan karena wajahnya terlalu tampan.
Bukan karena sikapnya terlalu mencolok.
Melainkan karena ada keteduhan yang aneh—keteduhan yang lahir dari seseorang yang tidak merasa lebih tinggi hanya karena sedang memimpin.
"Siapa beliau?"
Seorang mahasiswa di sampingnya menjawab pelan.
"Itu Presiden BEM."
Nika sedikit terkejut.
"Presiden BEM?"
"Iya."
"Kirain dosen."
Mahasiswa itu tertawa.
"Bukan. Dia memang begitu. Kalau ada kerjaan, biasanya ikut angkat kursi dulu sebelum menyuruh orang lain."
Nika kembali menatap lelaki itu.
Untuk pertama kalinya, ia berpikir...
"Kalau pemimpinnya seperti itu... mungkin organisasi bukan tempat yang menakutkan."
Lelaki itu kemudian menoleh.
Pandangan mereka bertemu.
Tidak lama.
Hanya beberapa detik.
Namun cukup untuk membuat sesuatu di dada Nika bergerak pelan, seperti pintu yang baru saja dibuka sedikit oleh angin.
Asa juga merasakannya.
Bukan karena wajah itu terlalu cantik.
Bukan karena senyumnya terlalu manis.
Melainkan karena ada sesuatu pada tatapan Nika yang terasa akrab.
Tatapan seseorang yang terlalu sering belajar kuat sendirian.
Tatapan yang tidak meminta dikasihani.
Tatapan yang diam-diam menyimpan letih.
Dan Asa, yang sejak kecil terbiasa hidup di tengah rumah yang tak pernah benar-benar teduh, mengenali tatapan seperti itu tanpa perlu dijelaskan.
Ada luka yang tidak perlu diumumkan untuk bisa dikenali.
Ada kesepian yang tidak perlu diteriakkan untuk bisa dipahami.
Dan pagi itu, di antara hujan dan kursi-kursi lipat, Asa merasa seperti baru saja melihat cermin yang tidak memantulkan wajahnya, melainkan sesuatu yang lebih dalam: kesamaan yang belum sempat diberi nama.
Siang harinya.
Hujan reda.
Langit mulai membuka sedikit cahaya, seperti dada yang perlahan belajar lapang.
Di depan Gedung BEM, Asa duduk sendirian sambil membuka buku catatan kecil.
Buku itu berisi daftar mahasiswa baru yang mendaftar organisasi.
Bukan untuk memilih siapa yang paling pintar.
Melainkan siapa yang nanti perlu lebih banyak didampingi.
Di halaman terakhir, ia menulis satu kalimat.
"Pemimpin bukan orang yang paling banyak didengar. Pemimpin adalah orang yang paling banyak mendengar."
Ia baru saja menutup buku itu ketika angin menerbangkan beberapa lembar kertas dari map seseorang.
"Lho..."
Lembaran-lembaran itu melayang ke halaman, seperti burung-burung kecil yang kehilangan arah.
Asa segera berdiri dan mengejarnya.
Selembar.
Dua lembar.
Tiga lembar.
Sampai akhirnya ia berhadapan dengan pemilik map itu.
Mata mereka bertemu untuk kedua kalinya hari itu.
"Ini kertas-kertas punyamu ya?" tanya Asa sambil menyerahkan kertas-kertas itu.
Nika mengangguk cepat.
"Iya. Terima kasih banyak."
"Lengkap?"
Nika menghitungnya cepat.
"Lengkap."
Syukurlah.
Kalau satu lembar saja hilang, ia harus mengetik ulang malam ini.
Asa tersenyum ringan.
"Kalau begitu, aman."
Ia hendak melangkah pergi.
Tetapi langkahnya kembali berhenti.
"Namanya siapa?"
"Nika."
"Asa."
Nika mengangguk pelan.
"Saya tahu."
Asa sedikit heran.
"Tahu?"
"Bapak tadi bilang Presiden BEM."
Asa tertawa kecil.
"Wah... berarti saya sudah tidak bisa sembunyi."
"Tidak juga."
Nika menjawab lirih.
"Yang saya lihat bukan jabatannya."
"Lalu?"
"Orang yang tadi mengangkat kursi."
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi tinggal lama di dada Asa.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia kehilangan jawaban.
Bukan karena ia tidak pandai berbicara.
Melainkan karena ada sesuatu dalam kalimat itu yang terasa seperti doa yang diam-diam dikirimkan Tuhan lewat mulut seseorang.
Ia hanya tersenyum.
Senyum yang tidak terlalu lebar.
Tetapi cukup untuk membuat hujan pagi itu terasa membawa sesuatu yang baru.
Bagi Asa, kalimat itu sederhana.
Namun justru karena kesederhanaannya, kalimat itu tinggal lebih lama di dadanya daripada yang ia kira.
Selama ini, orang-orang lebih sering melihatnya sebagai ketua, pengurus, atau mahasiswa yang dianggap mampu.
Jarang ada yang melihatnya sebagai seseorang yang lelah.
Sebagai seseorang yang diam-diam ingin dipahami tanpa harus menjelaskan terlalu banyak.
Dan Nika, tanpa sadar, telah melakukan itu hanya dengan satu kalimat.
Di dalam hati Asa, ada sesuatu yang bergerak pelan seperti daun yang disentuh angin pertama setelah musim kemarau panjang.
Hari-hari berikutnya mempertemukan mereka lagi.
Bukan dengan cara yang besar.
Bukan dengan adegan yang dramatis.
Melainkan dengan pertemuan-pertemuan kecil yang justru lebih mudah tinggal di ingatan.
Di mushala kampus, Nika pernah melihat Asa duduk paling belakang setelah salat Zuhur, menunduk lama sekali sebelum bangkit. Seolah ia sedang meletakkan seluruh lelahnya di atas sajadah, lalu bangun dengan dada yang sedikit lebih ringan.
Di perpustakaan, Asa pernah melihat Nika menyalin catatan dengan wajah serius, lalu tersenyum kecil ketika menemukan kalimat yang ia cari. Senyum itu singkat, tetapi cukup untuk membuat halaman-halaman buku terasa lebih hidup.
Di sekretariat BEM, Nika pernah datang membawa daftar hadir, dan Asa menyambutnya dengan secangkir teh hangat yang ia ambil dari kantin.
"Silakan."
Nika menatap cangkir itu.
"Untuk saya?"
Asa mengangguk.
"Kelihatannya Anda lelah."
Nika terdiam sejenak.
Tidak ada yang pernah berkata seperti itu padanya dengan nada yang begitu tenang.
Ia menerima cangkir itu dengan kedua tangan.
"Terima kasih."
Asa hanya mengangguk.
Di kantin, Asa pernah melihat Nika makan sendirian sambil membaca buku, seolah dunia di sekelilingnya tidak cukup penting untuk mengganggu halaman yang sedang ia baca.
Dan setiap kali melihat itu, Asa merasa ada sesuatu yang lembut sekaligus rapuh pada diri Nika seperti bunga yang tumbuh di tepi jalan, tetap mekar meski angin sering lewat tanpa permisi.
Pertemuan demi pertemuan itu tidak pernah mereka sebut sebagai sesuatu yang istimewa.
Tetapi justru karena tidak pernah diumumkan, kenangan itu terpatri lebih dalam.
Seperti hujan yang tidak datang untuk membuat orang berteriak kagum, melainkan untuk diam-diam menyuburkan tanah yang kering.
Suatu sore, Nika pulang lebih lambat dari biasanya.
Rumahnya sedang tidak baik-baik saja.
Ayahnya baru saja pulang setelah beberapa minggu menghilang, dan seperti biasa, kepulangannya tidak membawa damai. Suara pintu dibanting. Suara ibunya menahan tangis. Suara gelas yang hampir jatuh. Suara langkah kaki yang berat. Nika berdiri di ambang kamar, memeluk buku catatannya erat-erat, berharap dinding bisa menelan semua suara itu.
Ia tidak menangis.
Ia sudah terlalu sering menangis untuk hal yang sama.
Maka ia memilih diam.
Diam yang bukan berarti kuat.
Kadang diam hanyalah cara terakhir agar hati tidak pecah di tempat yang sama.
Keesokan harinya, ia datang ke kampus dengan mata yang sedikit sembap.
Asa melihatnya dari kejauhan.
Ia tidak bertanya.
Ia hanya menaruh sebotol air mineral di meja Nika, lalu berkata pelan, "Kalau capek, jangan dipaksa kuat terus."
Nika menatap botol itu lama.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi entah mengapa, dada yang sejak tadi sesak mendadak terasa sedikit longgar.
Seperti seseorang baru saja membuka jendela di ruangan yang terlalu lama tertutup.
Nika menunduk.
"Terima kasih."
Asa mengangguk.
Ia tidak tahu apa yang terjadi di rumah Nika.
Dan Nika tidak pernah menceritakannya.
Namun sejak hari itu, Nika mulai merasa bahwa kampus bukan sekadar tempat belajar.
Kampus adalah tempat ia bisa bernapas tanpa takut dimarahi.
Dan di antara semua sudut kampus, ada satu sosok yang membuat napas itu terasa lebih mudah.
Asa.
Bagi Nika, lelaki itu seperti pohon yang tumbuh di tengah panas: tidak banyak bicara, tetapi cukup teduh untuk membuat siapa pun ingin duduk di bawahnya sebentar.
Asa pun merasakan hal yang sama.
Di rumah, ia sering merasa seperti tamu.
Ayahnya sibuk dengan amarah yang tak pernah selesai.
Ibunya sibuk dengan jarak yang tak pernah dijelaskan.
Asa tumbuh tanpa benar-benar tahu bagaimana rasanya dipeluk oleh rumah.
Maka ketika ia bertemu Nika, ada sesuatu yang perlahan mengendap di dadanya.
Bukan cinta yang meledak-ledak.
Bukan pula rasa yang datang seperti petir.
Melainkan rasa nyaman yang pelan-pelan tumbuh seperti cahaya di ujung lorong.
Nika tidak banyak bicara.
Tetapi setiap kali berbicara, ia mendengar.
Nika tidak pernah memaksa Asa menjelaskan isi kepalanya.
Tetapi setiap kali Asa diam, Nika tidak membuatnya merasa aneh.
Nika tidak pernah menuntut Asa menjadi orang lain.
Dan bagi seorang lelaki yang sejak kecil hidup di tengah rumah yang tak pernah akur, itu adalah anugerah yang sulit dijelaskan.
Bersama Nika, Asa merasa seperti menemukan ruang yang tidak menuntutnya menjadi kuat setiap saat.
Ruang yang tidak memaksanya menjawab semua pertanyaan.
Ruang yang cukup tenang untuk membuatnya percaya bahwa hidup mungkin memang bisa terasa lebih ringan.
Di dalam hati Asa, ada doa yang belum berani ia sebut sebagai doa cinta.
Ia hanya tahu, setiap kali Nika lewat, dadanya seperti disapu angin yang membawa harum hujan.
Dan setiap kali Nika tersenyum, ada bagian dari dirinya yang ingin percaya bahwa Allah mungkin sedang memperlihatkan bentuk lain dari rahmat.
Mereka mulai saling mengenal lewat hal-hal kecil.
Asa tahu Nika selalu membawa pulpen cadangan di dalam map.
Nika tahu Asa selalu datang lebih awal daripada yang lain.
Asa tahu Nika suka duduk dekat jendela.
Nika tahu Asa selalu memastikan semua orang pulang lebih dulu sebelum dirinya sendiri.
Asa tahu Nika menyukai teh hangat tanpa terlalu banyak gula.
Nika tahu Asa sering membaca buku catatan kecilnya sebelum tidur.
Dan tanpa mereka sadari, kebiasaan-kebiasaan kecil itu mulai menjadi bagian dari hari-hari mereka.
Bukan karena mereka sengaja mencari satu sama lain.
Melainkan karena setiap pertemuan meninggalkan jejak.
Jejak yang tidak terlihat oleh orang lain.
Tetapi sangat jelas bagi hati yang mengalaminya.
Seperti hujan yang jatuh di tanah kering: tidak terdengar oleh semua orang, tetapi mengubah seluruh aroma bumi.
Suatu malam, setelah rapat organisasi selesai, hujan turun lagi.
Kampus mulai sepi.
Lampu-lampu jalan memantulkan genangan air di halaman, seperti bintang-bintang yang jatuh dan lupa pulang.
Nika berdiri di serambi gedung, menunggu hujan reda.
Asa datang membawa payung.
"Kalau mau, saya antar sampai gerbang."
Nika menoleh.
"Terima kasih."
Mereka berjalan berdampingan.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Cukup untuk membuat langkah mereka seirama.
Di tengah perjalanan, Nika berkata pelan, "Kampus ini terasa lebih tenang kalau ada orang yang tahu cara diam."
Asa menoleh.
"Kalau begitu, saya harus berterima kasih."
"Kenapa?"
"Karena Anda juga tahu cara diam."
Nika tersenyum kecil.
"Kadang diam bukan pilihan."
Asa mengangguk.
"Kadang diam adalah cara paling aman untuk bertahan."
Nika tidak menjawab.
Tetapi kalimat itu tinggal lama di kepalanya.
Karena ia tahu, lelaki di sampingnya bukan hanya sedang berbicara tentang kampus.
Ia sedang berbicara tentang hidup.
Tentang rumah.
Tentang luka yang tidak selalu punya nama.
Tentang orang-orang yang belajar bertahan tanpa pernah benar-benar diberi tempat untuk pulang.
Dan untuk pertama kalinya, Nika merasa ada seseorang yang mengerti tanpa perlu dijelaskan.
Di bawah payung itu, langkah mereka seperti dua garis yang untuk sesaat berjalan di jalan yang sama.
Tidak saling mendahului.
Tidak saling meninggalkan.
Hanya berjalan.
Dan kadang, bagi hati yang lelah, itu sudah cukup untuk terasa seperti pulang.
Malam itu, ketika Nika sampai di rumah, pertengkaran belum juga selesai.
Suara ayahnya masih keras.
Ibunya masih menangis.
Nika menutup pintu kamar perlahan.
Lalu duduk di tepi ranjang sambil memeluk map birunya.
Entah mengapa, ia teringat payung Asa.
Terbayang langkah mereka yang berjalan berdampingan di bawah hujan.
Terbayang suara tenang lelaki itu ketika berkata bahwa diam kadang adalah cara paling aman untuk bertahan.
Nika menunduk.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa sendirian.
Bukan karena rumahnya berubah.
Bukan karena ayahnya tiba-tiba menjadi lembut.
Melainkan karena di luar rumah itu, ada seseorang yang membuat luka-luka di dalamnya terasa tidak terlalu bising.
Seperti oase kecil di tengah padang yang terlalu panas.
Ia memejamkan mata.
Dalam hatinya, ia berbisik lirih, hampir seperti doa:
"Ya Allah, jika Engkau kirimkan ketenangan lewat manusia, jangan biarkan aku salah mengenalinya."
Asa pun pulang malam itu dengan hati yang tidak sama.
Di rumah, ayahnya masih marah.
Ibunya masih tidak ada.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Ada suara Nika yang masih tinggal di kepalanya.
Ada cara Nika menatap dunia yang membuatnya ingin percaya bahwa hidup tidak selalu harus keras untuk bisa bertahan.
Ada ketenangan yang tidak ia temukan di rumah, tetapi ia temukan dalam percakapan singkat di bawah hujan.
Asa duduk di meja belajarnya.
Membuka buku catatan kecil.
Lalu menulis satu kalimat.
"Ada orang yang tidak datang untuk mengubah hidup kita. Ia hanya datang untuk membuat luka terasa tidak terlalu dingin."
Ia menatap kalimat itu lama.
Lalu menutup buku.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Asa tidur dengan perasaan bahwa esok hari mungkin tidak akan seberat biasanya.
Bukan karena masalahnya selesai.
Tetapi karena ia tahu, di kampus ada seseorang yang membuat dunia terasa sedikit lebih manusiawi.
Di dalam dada Asa, ada sesuatu yang mulai tumbuh pelan-pelan—bukan api yang membakar, melainkan lampu kecil yang menyala di ruang gelap. Tidak besar. Tidak gaduh. Tetapi cukup untuk membuatnya percaya bahwa malam tidak selalu menang.
Hari-hari berikutnya terus berjalan.
Pertemuan demi pertemuan.
Percakapan demi percakapan.
Tatapan demi tatapan.
Tidak ada yang besar.
Tidak ada yang diumumkan.
Tetapi justru di situlah letak kekuatannya.
Karena kenangan yang paling dalam sering kali tidak lahir dari peristiwa yang heboh.
Ia lahir dari hal-hal kecil yang diulang terus-menerus sampai menjadi bagian dari jiwa.
Dan bagi Asa serta Nika, pertemuan-pertemuan itu perlahan menjadi semacam rumah kedua.
Bagi Asa, Nika adalah teduh yang tidak pernah ia temukan di rumahnya sendiri.
Bagi Nika, Asa adalah oase yang membuat luka-luka di rumah seakan tidak terlalu menguasai hidupnya.
Mereka belum tahu ke mana semua ini akan membawa.
Mereka belum tahu bahwa suatu hari nanti, nama yang kini hanya mereka simpan dalam diam akan menjadi bagian dari doa yang panjang.
Mereka hanya tahu satu hal:
setiap kali bertemu, dunia terasa sedikit lebih ringan.
Dan mungkin, bagi dua hati yang sama-sama tumbuh dari rumah yang retak, itu sudah cukup untuk membuat kenangan pertama terpatri selamanya.
Di langit yang mulai cerah, matahari perlahan muncul.
Seolah berbisik kepada bumi:
"Tidak semua yang indah dimulai dengan pelangi. Ada yang dimulai dengan hujan."
Dan tanpa mereka sadari...
Hitungan itu telah dimulai.
Hari pertama.
Dari 7.305 hari menjaga Asa dalam doa.
Komentar