Novel 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa: Ambang Kisah

 PROLOG

"Ada cinta yang memilih bersujud begitu lama, hingga ketika ia berdiri, Allah telah lebih dahulu mengubahnya menjadi doa yang dikabulkan."


Konon, ada doa yang tidak pernah selesai diucapkan. Bukan karena lisannya kehabisan kata. Melainkan karena langit belum selesai menulis jawabannya. Orang-orang sering mengira bahwa cinta selalu dikenali dari seberapa berani ia diucapkan. Padahal, ada cinta yang justru tumbuh paling subur di tempat yang tidak pernah terdengar oleh manusia.

Di antara desir tasbih yang diputar perlahan.

Di sela air mata yang jatuh tanpa saksi.

Di penghujung tahajud ketika dunia masih begitu sunyi,  

Sementara langit sibuk mencatat nama-nama yang disebut dengan penuh harap. Barangkali begitulah cara Allah menjaga sebagian hati. Bukan dengan mempercepat pertemuan. Bukan pula dengan mengabulkan seluruh keinginan. Melainkan dengan membiarkan waktu mengikis segala yang fana, hingga yang tersisa hanyalah doa. Sebab doa tidak pernah tergesa. Ia tahu jalan pulang.


Aku pernah mengenal dua manusia. Mereka tidak pernah berjanji untuk saling menunggu. Tidak pernah saling meminta. Tidak pernah saling menggenggam. Bahkan, mereka nyaris tidak pernah berbicara tentang cinta.
Yang satu memanggil dengan sederhana,

"Kak."

Yang satu menjawab dengan biasa saja,

"Dek."

Sesederhana itu.

Namun bertahun-tahun kemudian, aku menyadari bahwa panggilan itulah yang diam-diam menyimpan musim paling panjang dalam hidup mereka. Mereka tumbuh bersama di halaman sebuah kampus. Membagi teh hangat di depan mushala. Menertawakan mimpi-mimpi yang terasa terlalu besar bagi usia dua puluh tahun. Lalu, tanpa pernah saling meminta, kehidupan membawa mereka ke arah yang berbeda. Masing-masing membangun rumah. Masing-masing memikul amanah. Masing-masing belajar mencintai orang yang Allah titipkan kepadanya dengan sebaik-baiknya. Dan begitulah seharusnya.

Karena cinta yang benar tidak pernah meminta seseorang mengkhianati amanah yang telah Allah letakkan di pundaknya. Namun ada satu hal yang bahkan waktu tidak mampu menghapusnya.

Doa.

Ia tetap berangkat ke langit setiap malam. Tenang. Diam. Tanpa nama pengirim. Tanpa pernah berharap diketahui oleh orang yang didoakannya. Seperti embun yang rela lenyap sebelum matahari datang, hanya agar daun tetap hijau ketika pagi menjelang.


Banyak orang mengira keajaiban selalu datang dengan dentuman. Padahal, keajaiban terbesar sering kali lahir dalam kesunyian. Ketika seseorang memilih menahan kata yang ingin diucapkan. Ketika seseorang memilih menjaga langkah daripada mengejar rasa. Ketika seseorang lebih rela kehilangan kesempatan daripada kehilangan ridha Tuhannya. Sebab ada cinta yang tidak pernah meminta untuk dimiliki. Ia hanya ingin memastikan bahwa orang yang dicintainya selalu berada dalam penjagaan Allah. Dan barangkali... cinta seperti itulah yang paling lama dikenang langit.


Jika suatu hari nanti engkau menemukan seseorang yang namanya tetap terucap setelah doa untuk kedua orang tua, pasangan, dan anak-anakmu selesai dipanjatkan...jangan tergesa menyebutnya sebagai kenangan.

Bisa jadi... ia hanyalah seorang musafir yang pernah Allah kirim untuk mengajarkanmu arti ikhlas.

Atau mungkin... ia adalah jawaban doa yang belum selesai ditulis oleh waktu.

Karena sesungguhnya... kisah ini bukan tentang dua manusia yang saling menunggu.

Kisah ini adalah tentang dua doa yang sejak muda telah berjalan dari arah yang berbeda, lalu Allah mempertemukannya tepat di atas takdir. Dan sebelum engkau membuka halaman berikutnya...

izinkan aku bertanya satu hal.

Pernahkah engkau mencintai seseorang sedemikian dalam... hingga akhirnya engkau memilih menyebut namanya hanya di hadapan Allah?


Love,
Ken Ulinnuha
Juli 2026
(Jujur, menulis ambang kisah ini entah kenapa dadaku bergemuruh hebat dan air mata yang tak pernah berhenti kuseka)


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Overture Menuju Novel Blog Pertamaku: 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa

Fitrah Based Education [Part 3]: Framework

Kebaikan Yang Sederhana

Kita Tidak Bisa Memilih, Tapi Bisa Memutuskan

Si Penyembunyi Amal