Novel 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Dada: BAB 5 -- Ayat-Ayat yang Disimpan dalam Sunyi
BAB 5: Ayat-Ayat yang Disimpan dalam Sunyi
"Ada orang yang Allah tumbuhkan bukan di taman yang ramai, melainkan di ruang-ruang sepi. Agar ia belajar, bahwa cahaya paling jernih sering kali lahir dari luka yang dirawat dengan sabar."
"Ada orang yang Allah tumbuhkan bukan di taman yang ramai, melainkan di ruang-ruang sepi. Agar ia belajar, bahwa cahaya paling jernih sering kali lahir dari luka yang dirawat dengan sabar."
Sejak malam ketika tangan ayahnya berubah menjadi badai, Asa seperti pohon yang dipaksa belajar berdiri tanpa tempat berteduh.
Malam itu juga, dengan rahang yang masih menyimpan kebas dan ransel yang bernoda tanah basah, Asa mengemas beberapa lembar pakaiannya. Ia memilih melangkah keluar dari rumah. Bukan untuk lari, dan sama sekali bukan karena membenci ayahnya. Ia tahu, ada beasiswa penuh yang harus diselamatkan, ada impian almarhumah ibunya yang harus diselesaikan tepat waktu. Namun, ada luka yang terlalu bising jika harus terus ditinggali di ruangan yang sama.
Asa menyewa sebuah kamar kos sempit di ujung gang dekat kampus. Dindingnya tipis, catnya mulai mengelupas, dan jendelanya yang berderit menghadap ke arah jalan setapak. Di sana, malam-malamnya tidak pernah benar-benar ramai. Hanya ada kepakan baling-baling kipas angin tua, deru kendaraan dari kejauhan, serta doa-doa yang ia lipat rapi di dalam dada.
Selepas jam kuliah, Asa bekerja. Dari membantu sepupunya menata barang dagangan, mengangkat kardus-kardus berat di pasar, hingga menjaga lapak kecil yang hidup dari keringat dan keikhlasan. Tangannya yang biasa menggenggam pena kini belajar menggenggam kerasnya takdir.
Di luar, orang-orang melihat Asa sebagai Presiden BEM yang tangguh dan selalu sibuk. Namun tak ada yang benar-benar tahu, di balik bahunya yang selalu tegap, ia sedang belajar satu hal yang amat berat: menjadi lelaki yang tidak mewarisi amarah. Ia sedang menempa dirinya untuk menjadi rumah yang teduh, bukan badai yang menghancurkan.
Salah satu tempat yang paling sering menjadi saksi diam dari kelelahan Asa adalah sekretariat BEM.
Ketika semua pengurus telah pulang, saat lampu-lampu koridor mulai diredupkan dan gema riuh diskusi berubah menjadi keheningan yang pekat, Asa sering duduk sendirian di sana. Di atas meja kayu yang sederhana, ia membuka mushaf cantiknya perlahan. Jemarinya yang mulai berkapalan di bagian telapak—bekas gesekan kardus dan beban pasar—menyentuh tepi kertas mushaf dengan sangat hati-hati, seolah takut menggores lembaran suci itu. Setiap huruf ia lafalkan dengan suara parau yang lembut, bagai seseorang yang sedang mengusap air mata di tengah padang pasir.
Lalu, ia menulis.
Di sebuah buku catatan kecil bersampul cokelat lusuh, Asa menyalin kembali ayat-ayat yang paling menggetarkan dadanya. Di samping tulisan arabnya yang rapi, ia memberi garis bawah, lingkaran halus, dan catatan-catatan kecil. Seolah ia sedang merapikan bintang-bintang di dalam jiwanya agar tidak luruh saat malam gelap datang.
Malam itu, Nika berdiri terpaku di ambang pintu sekretariat yang terbuka sedikit.
Langkahnya terhenti total. Di dalam ruangan yang hanya diterangi satu lampu meja berwarna kekuningan, Asa tampak begitu khusyuk. Cahaya temaram itu membingkai garis wajahnya yang tegas, memantulkan ketenangan yang begitu sunyi. Ada pendar kebaikan yang membuat dada Nika mendadak hangat, sekaligus gentar. Bukan karena Asa seorang pemimpin yang karismatik, melainkan karena cara lelaki itu mencintai ayat-ayat Allah begitu tulus dan tersembunyi.
Srett. Ujung sepatu Nika tak sengaja menggeser daun pintu.
Asa menoleh pelan, lalu perlahan menghentikan bacaannya.
"Dek Nika?" panggil Asa. Suaranya serak namun teramat lembut.
Nika tersentak kecil, pipinya seketika merona hangat di balik jilbabnya. "I-iya, Kak Asa..."
Asa mengukir senyum tipis—senyum tulus yang membuat guratan lelah di matanya seolah memudar. "Kenapa berdiri di luar? Kenapa tidak masuk?"
Nika menunduk sedikit, meremas jemarinya yang saling bertaut. "Dek Nika takut mengganggu khusyuknya Kak Asa."
Asa menggeleng pelan. Ia menarik sedikit kursinya. "Membaca Al-Qur'an tidak pernah membuat ruangan ini terasa sempit, Dek Nika. Masuklah."
Kalimat itu jatuh di hati Nika bagai gerimis manis di tengah kemarau. Dengan canggung yang santun, ia melangkah masuk, lalu duduk di kursi seberang meja—tetap menyisakan jarak yang terhormat. Matanya tak sengaja jatuh pada buku catatan lusuh yang terbuka di samping mushaf Asa. Tulisannya sangat rapi, teratur, dan penuh perasaan.
"Kak Asa..." bisik Nika pelan.
"Ya, Dek Nika?"
"Kenapa Kak Asa selalu menyalin ayat-ayat itu setelah membacanya?"
Asa menatap jemarinya yang berada di atas buku catatan. Ia tersenyum samar. "Sebab, kalau hanya dibaca di lidah, kadang ayat itu terbang seperti burung lewat, Dek Nika. Indah, tapi cepat hilang."
Nika mendengarkan, tak berkedip.
"Kak Asa ingin mengikatnya di sini," lanjut Asa pelan, menyentuh dada kirinya. "Supaya kalau hati Kak Asa sedang gelap dan lelah... Kak Asa masih punya jejak cahaya untuk pulang."
Nika menunduk dalam-dalam. Di salah satu halaman, matanya membaca salinan ayat:
“Fainna ma’al ‘usri yusraa...” (Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan).
Di bawahnya, Asa menulis catatan kecil dengan tinta hitam:
'Kemudahan itu sering kali tidak datang dalam bentuk pintu yang terbuka lebar. Kadang, ia datang sebagai napas yang masih sanggup kita hela di tengah sesak.'
Dada Nika bergetar. Kalimat sederhana itu meremas hatinya dengan cara yang teramat manis.
"Kak Asa menulis seperti orang yang sedang mengobati lukanya sendiri," gumam Nika lirih.
Asa menatap Nika. Matanya teduh, tak ada sedikit pun raut berpura-pura. "Mungkin memang begitu, Dek Nika. Karena tidak semua luka bisa sembuh dengan terburu-buru. Ada luka yang harus diajak bicara pelan-pelan bersama Allah."
Nika terdiam. Di dalam hatinya, rasa kagum itu mekar tanpa bisa ia tahan lagi. Ada banyak lelaki yang pandai memimpin, ada yang pandai beretorika, tetapi Asa... Asa adalah jenis lelaki yang diamnya saja terasa seperti tempat sujud. Menenangkan.
Beberapa malam kemudian, gerimis turun membasahi pelataran mushala kampus selepas Isya.
Mushala sudah hampir kosong. Kipas angin gantung berputar malas, menyebarkan aroma wangi sajadah yang menentramkan. Nika duduk di dekat tiang pembatas wanita, masih mengenakan mukena putihnya.
Malam itu, beban kuliah, rasa rindu pada rumah, dan kelelahan yang bertumpuk mendadak mengepung dadanya. Saat membaca ayat-ayat dalam mushafnya, pertahanan Nika runtuh. Suara mengaji Nika mulai bergetar. Air matanya menetes satu per satu, jatuh membasahi lembaran mushaf. Ia mencoba menahan napas, menekan dadanya agar isakannya tak terdengar. Namun, keheningan malam terlalu bening untuk menyembunyikan tangis seorang perempuan yang sedang rapuh.
Di sudut shaf pria yang terhalang kelir hijau, Asa yang baru saja menyelesaikan salat sunnah mendengar isakan halus itu.
Asa tidak berdiri. Ia tidak menoleh, apalagi berbuat lancang dengan mendekati pembatas. Namun, matanya terpejam erat. Dadanya mendadak terasa ikut ngilu mendengar betapa lirihnya tangis gadis itu. Lelaki itu mengangkat kedua telapak tangannya tinggi-tinggi. Dalam sunyi yang menyayat, Asa berbisik pada Sang Pemilik Jiwa:
"Ya Allah... jika tangis di balik kain itu adalah luka, maka basuhlah ia dengan ketenangan-Mu. Jika ia sedang letih, jadikanlah hamba sebagai penjaga sunyinya dari kejauhan. Jangan biarkan jiwanya merasa sendiri..."
Tanpa Nika sadari, ada seorang lelaki yang sedang menadahkan tangan, meminta langit untuk merengkuh kesedihannya. Dan perlahan-lahan, dada Nika yang sesak terasa makin lapang. Tangisnya mereda, berganti dengan helaan napas yang lega.
Saat Nika mengusap air matanya, terdengar desah napas halus dan suara lipatan sajadah dari balik kelir hijau. Kesadaran bahwa ada orang lain di sana membuat Nika tertunduk malu.
"Maafkan Dek Nika, Kak Asa..." bisik Nika lirih ke arah pembatas. "...terisak di tempat ibadah."
Suara Asa mengalun dari balik kain pembatas. Lembut, dalam, dan teramat menenangkan. "Jangan pernah meminta maaf untuk air mata yang tulus di hadapan Allah, Dek Nika."
Jeda sejenak. Angin malam berembus membawa kehangatan yang aneh.
"Kadang," lanjut Asa pelan, "yang paling melelahkan bukanlah menangis. Melainkan berpura-pura kuat saat hati sedang ingin runtuh. Kalau Dek Nika butuh didengar, Kak Asa ada di sini. Tapi kalau Dek Nika hanya butuh tenang... biarlah doa Kak Asa yang menemani."
Jantung Nika berdegup kencang. Tidak ada kata-kata manis yang murahan di sana, namun ketulusan dan penghormatan dalam suara Asa justru merengkuh bagian terdalam jiwanya.
Sebelum menyapu bersih pelataran mushala malam itu, Asa mengambil buku catatannya. Di bawah pendar lampu luar, jemarinya menari menyalin dua baris kalimat:
'Ada air mata yang tidak perlu dihentikan paksa. Cukup dijaga dengan doa, agar ia tak merasa sendirian di dalam gelap.'
Tanpa saling menyapa lebih lanjut, mereka melangkah keluar mushala. Jarak memisahkan langkah mereka beberapa meter di jalan setapak yang basah oleh sisa gerimis.
Asa berjalan di depan, memegang tali ranselnya. Nika berjalan di belakang, menatap langkah tenang lelaki itu yang dibingkai pendar kuning lampu taman.
Nika menyertakan nama Asa dalam sujud terakhirnya: "Ya Allah... jika Engkau izinkan aku mengagumi seorang hamba, jagalah lelaki yang diamnya adalah doa, dan yang langkahnya selalu mencari rida-Mu..."
Sementara Asa, menatap indahnya dedaunan basah sambil berbisik dalam hatinya: "Ya Allah... lindungilah senyum gadis itu. Dan jika kelak Engkau takdirkan aku untuk memimpin sebuah rumah, izinkan aku menjadi seteduh apa yang ia harapkan..."
Dua hati yang sama-sama belajar dari luka, kini menemukan obatnya dalam diam. Saling merawat rasa dalam doa-doa yang tak bersuara.
Selanjutnya di Bab 6: "Kota yang Diguyur Hujan, Hati yang Belajar Menjaga"
Komentar