Novel 7305 Menjaga Asa Dalam Doa: BAB 4 -- Jangan Takut Pada Lara
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
BAB 4: Jangan Takut Pada Lara
"Ada luka yang tak pernah ingin tampil di permukaan. Ia memilih mengendap di antara jeda-jeda kalimat yang tak selesai, bersembunyi di balik senyum yang terburu-buru. Namun bahkan luka paling sunyi pun, diam-diam berharap ditemukan oleh seseorang yang tidak terburu-buru menghakimi."
"Ada luka yang tak pernah ingin tampil di permukaan. Ia memilih mengendap di antara jeda-jeda kalimat yang tak selesai, bersembunyi di balik senyum yang terburu-buru. Namun bahkan luka paling sunyi pun, diam-diam berharap ditemukan oleh seseorang yang tidak terburu-buru menghakimi."
Sore itu, langit di atas kampus menggantung rendah. Awan kelabu bergerak lambat, seolah enggan melapangkan jalan bagi malam. Cahaya matahari jatuh pudar di antara sela-sela daun trembesi, meninggalkan garis-garis bayangan yang memanjang di atas tanah basah.
Di depan gerbang utama, Asa berdiri menggenggam tali ranselnya. Angin sore menepis pelan ujung kemejanya. Ia menatap lurus ke arah jalan raya, pada deretan kendaraan yang merambat pelan. Ada firasat yang berdesir halus di dadanya—firasat yang, untuk kali ini saja, ia berharap sangat keliru.
Sebuah sepeda motor tua berhenti tepat di pinggir trotoar.
Seorang lelaki paruh baya turun perlahan. Kemeja linennya yang pudar tampak lecek oleh peluh, dan gurat-gurat di wajahnya seperti dipahat oleh lelah yang menumpuk bertahun-tahun. Itu ayahnya. Lelaki yang sejak kepergian Ibu, tak pernah lagi menemukan cara untuk bersikap lembut.
"Ayo pulang," ucap ayahnya datar. Matanya tidak langsung menatap Asa.
Asa membasahi bibirnya yang kering. "Asa belum bisa sekarang, Yah. Ada penyusunan laporan BEM dan rapat dengan adik-adik panitia."
Ayahnya terkekeh tipis. Senyum yang terbit di bibirnya lebih mirip garis luka daripada kebahagiaan.
"Rapat," bisik ayahnya, melafalkan kata itu seperti sebuah kesalahan besar. "Sejak kapan tempat ini lebih butuh kamu daripada rumah?"
"Bukan begitu, Yah..." suara Asa melemah. "Asa cuma butuh sedikit waktu lagi. Nanti malam Asa pasti pulang."
Lelaki itu melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya selangkah, cukup dekat untuk Asa bisa mencium aroma minyak angin dan asap jalanan yang melekat pada tubuh ayahnya.
"Ayah tidak butuh kamu pulang nanti malam, Asa. Ayah butuh kamu sadar. Seharusnya kamu bekerja membantu Ayah, bukan menghabiskan waktu di sini berpura-pura jadi pahlawan untuk orang lain."
Kalimat itu menghantam dada Asa tanpa ampun. Udara di sekitarnya mendadak terasa karib dengan rasa sesak.
"Asa cuma mau menyelesaikan apa yang sudah Asa mulai..."
"Cukup!" Suara ayahnya meninggi, tertahan di kerongkongan. "Kamu selalu punya alasan untuk lari."
"Asa tidak lari, Yah," sahut Asa pelan, hampir berupa bisikan. "Asa cuma... belum sanggup melihat rumah yang selalu sepi."
Kalimat jujur itu meluncur tanpa sempat ia tahan. Dan justru kejujuran itulah yang meretakkan sisa kesabaran ayahnya.
Sebuah dorongan keras mengenai bahu Asa. Ranselnya terlepas, jatuh di tanah basah. Sebelum Asa sempat membenahi posisinya, jemari ayahnya yang kasar dan bergetar sudah meremas kerah kemejanya.
"Kamu pikir cuma kamu yang kehilangan?" napas ayahnya berburu. "Kamu pikir Ayah tidak hancur?"
Suara itu pecah di udara sore. Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Asa.
Plak.
Suaranya tidak begitu keras, tetapi mendadak membungkam hiruk-pikuk jalanan di sekitar mereka. Pipi kiri Asa terasa kebas dan panas membakar. Refleks jemarinya mengambang di udara, hendak mengusap wajahnya yang terlempar ke samping, namun ia tahan di pertengahan jalan. Beberapa mahasiswa yang melintas menghentikan langkah dan berbisik-bisik. Asa memilih memejamkan mata erat-erat, menelan bulat-bulat rasa sakit yang menjalar hingga ke rahangnya.
"Kamu bikin Ayah makin terasa sendirian..." lirih ayahnya, kini suaranya meluruh menjadi getaran yang penuh keputusasaan.
Cengkeraman itu perlahan mengendur. Ayahnya menarik tangannya kembali, menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar seolah asing dengan apa yang baru saja dilakukannya. Lelaki itu memandang Asa selama beberapa detik—sebuah tatapan yang menyembunyikan penyesalan yang terlalu gengsi untuk diucapkan.
Tanpa sepatah kata lagi, ayahnya berbalik, menaiki motornya, dan berlalu menyusut di dalam arus lalu lintas. Meninggalkan debu tipis yang perlahan larut bersama gerimis halus.
Asa tetap berdiri di tempatnya. Dada dan pipinya masih berdenyut linu. Ia menunduk pelan, memungut ranselnya yang berdebu dan basah, lalu mengibaskannya tanpa bersuara. Bukan rasa sakit di pipinya yang membuat dadanya ngilu, melainkan kesadaran bahwa lelaki yang amat dicintainya itu sedang hancur, dan ia tidak tahu bagaimana cara memeluknya.
Dari sudut koridor perpustakaan, Nika menyaksikan seluruh kejadian itu.
Map tebal di pelukannya perlahan meluncur turun sedikit sebelum ia meremasnya erat-erat. Ia tidak berteriak, tidak pula mendekat saat peristiwa itu terjadi. Ada kesadaran halus dalam dirinya: beberapa penderitaan sangat mengharamkan penonton.
Namun menatap Asa yang berdiri sendirian di bawah rindang trembesi membuat dada Nika berdenyut nyeri. Ada semacam tarikan asing yang ngilu di balik rusuknya. Ia belum pernah melihat seseorang menanggung luka dengan begitu patuh. Tidak ada kemarahan di wajah Asa. Hanya ada keheningan yang teramat dalam.
Nika membiarkan Asa melangkah lebih dulu.
Dengan bahu yang sedikit membungkuk dan langkah yang berat, Asa berjalan menelusuri koridor samping menuju mushala. Nika memberi jeda yang cukup, mengekor dari jarak jauh yang aman, membiarkan waktu menyapu bekas-bekas panggung yang menyakitkan itu.
Di area wudhu, suara kucuran air terdengar konstan.
Asa membasuh wajahnya. Air dingin meresap ke dalam pori-pori, menyentuh kulit pipinya yang hangat dan sedikit bengkak. Ia memejamkan mata rapat-rapat saat air mengalir melintasi kelopak matanya, menyamarkan butiran hangat yang ikut keluar dari sudut matanya tanpa suara.
Ia menatap genangan air di tangannya.
Ibu... bisiknya dalam hati, amat lirih. Seandainya Ibu masih di sini... mungkin Ayah tidak perlu menanggung beban ini sendirian.
Selesai berwudu, Asa tidak langsung masuk ke ruang salat utama. Ia berjalan menuju serambi belakang mushala—sebuah sudut sepi yang hanya berisi dua bangku kayu lapuk dan taman kolam teratai yang tenang. Ia duduk di sana, menopang kedua siku di atas lutut, menatap daun-daun teratai yang mengapung diam.
"Assalamu'alaikum, Kak Asa."
Suara itu datang bagai embun sore. Lembut, tidak mengejutkan.
Asa menoleh. Nika berdiri beberapa langkah di belakangnya, memeluk buku dan mapnya. Ujung jilbabnya tampak sedikit lembap oleh sisa gerimis.
"Wa'alaikumussalam," sahut Asa, mencoba mengukir senyum paling wajar yang ia miliki meski sudut bibirnya terasa agak kaku. "Dek Nika."
Nika sempat ragu sejenak sebelum menunjuk bangku kayu yang berjarak sekitar dua meter dari tempat Asa duduk. "Boleh Dek Nika duduk di bangku sebelah, Kak?"
Asa mengangguk singkat. "Silakan, Dek."
Nika duduk perlahan, meletakkan mapnya di pangkuan. Dari kantong samping tasnya, ia meraih sebuah botol air mineral yang belum terkelupas segelnya. Ia berdiri sebentar, melangkah dua langkah, lalu meletakkannya di ujung bangku kayu tempat Asa duduk—tetap menjaga jarak yang santun.
"Air adem," ujar Nika pelan sambil menundukkan pandangan. "Bukan untuk menyembuhkan apa-apa. Cuma supaya tenggorokan Kakak tidak kering."
Asa menatap botol air itu sejenak. Tangannya terulur mengambilnya, mengusap embun dingin yang menempel di dinding plastik, lalu meminumnya beberapa teguk. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat. Hanya ada bunyi angin sore yang menggeser dedaunan dan harum melati air dari tepi kolam.
"Ternyata," Nika akhirnya memecah sunyi tanpa mengalihkan pandangan dari kolam, suaranya tenang dan teratur, "air kolam ini tenang sekali ya, Kak. Padahal di bawahnya, ada akar yang harus berjuang menembus lumpur hitam supaya bunganya bisa mekar di atas."
Asa perlahan menoleh menatap Nika dari samping. Ada kedalaman yang tak terbiasa pada diri gadis itu.
"Mungkin..." suara Asa agak parau, ia berdeham pelan untuk menetralkannya, "...sebab teratai tahu, lumpur itu bukan tempatnya mengutuk, tapi tempatnya berakar."
Nika menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman teduh yang penuh pengertian.
Saat Asa mendongak, matanya tak sengaja beradu pandang dengan Nika. Tatapan gadis itu tidak menunjukkan rasa kasihan yang merendahkan, melainkan empati yang sangat bersih. Di saat itulah Asa sadar, gadis itu telah menyaksikan seluruh peristiwa pahit di depan gerbang tadi.
Ada sedikit rasa canggung yang melintas di dada Asa. Namun, keheningan Nika yang tidak menghakimi perlahan meruntuhkan rasa enggan itu.
"Terima kasih airnya, Dek Nika..." suara Asa amat pelan, larut dalam desir angin. "Dan... maaf kalau Dek Nika harus lihat hal yang kurang menyenangkan sore ini."
Nika tertegun sejenak. Jemarinya meremas pelan kain di atas pangkuannya. "Dek Nika yang minta maaf, Kak Asa... tidak sengaja melihatnya tadi dari koridor. Dek Nika tidak bermaksud mencampuri."
"Tidak apa-apa," hela Asa panjang. Kesadaran bahwa Nika tahu justru membuat dinding ganjal di dadanya perlahan meluruh.
"Dulu..." Asa memulai cerita, matanya menatap lurus ke depan. Suaranya rendah dan tenang. "...waktu Kakak masih kecil, Ayah adalah orang pertama yang mengajari Kakak memegang kemudi sepeda. Kalau Kakak jatuh dan lutut Kakak berdarah, Ayah tidak pernah marah. Beliau cuma mengusap kepala Kakak dan bilang, 'Anak laki-laki boleh merasa sakit, Asa. Tapi jangan biarkan sakit itu membuatmu lupa cara berjalan.'"
Asa jeda sejenak. Jemarinya menggenggam botol air mineral itu agak erat.
"Tapi hari ini Kakak sadar... kadang-kadang, orang yang paling keras menghantam kita adalah orang yang paling lelah menanggung luka dalam hidupnya sendiri. Ayah tidak benci Kakak, Dek Nika. Ayah cuma... kehilangan Ibu terlalu cepat, dan dunia menuntutnya terlalu keras."
Nika mendengarkan setiap patah kata itu. Dada gadis itu bergemuruh oleh keharuan. Tidak ada dendam dalam nada suara Asa, hanya ada keikhlasan yang begitu lapang.
"Tidak semua orang tahu cara berduka dengan benar, Kak Asa," sahut Nika lembut. "Sebagian orang mengepalkan tangan bukan karena ingin memukul... tapi karena tidak tahu lagi harus berpegangan pada apa."
Asa tertegun. Kalimat Nika merasuk jauh ke dalam jiwanya, menyelimuti bagian-bagian hatinya yang sempat retak.
"Bagaimana Dek Nika bisa meyakini hal itu?" tanya Asa pelan.
Nika menatap langit sore yang kini perlahan memudar menjadi keunguan.
"Karena Dek Nika melihat Kakak," jawab Nika jujur, suaranya terjaga tenang meski matanya berkaca-kaca. "Orang yang paling berhak marah sore ini justru memilih untuk mendoakan ayahnya. Kalimat Kakak tadi... itu bukan ucapan seseorang yang kalah. Itu ucapan seseorang yang cintanya lebih besar daripada rasa sakitnya."
Angin berembus lagi, menggoyangkan dedaunan di atas mereka. Rasa sesak di dada Asa perlahan mereda, berganti menjadi kedamaian asing yang sulit dijelaskan. Di antara bangku kayu yang berjarak itu, ada pemahaman tanpa kata yang terjalin begitu rapuh namun kuat.
Dari dalam mushala, gema azan Magrib mulai mengalun lembut. Suaranya membumbung tinggi, membelah senja yang telah genap menjadi malam.
Asa berdiri perlahan. Ia merapikan pakaiannya dan mengambil ranselnya. "Sudah waktunya," ujar Asa pelan.
Nika ikut berdiri, merapikan buku-bukunya. "Iya, Kak."
Saat mereka berjalan berdampingan menuju pintu masuk mushala—tetap terpisah jarak beberapa jengkal—Asa menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh pada Nika.
"Dek Nika..."
"Ya, Kak Asa?"
"Terima kasih sudah tidak bertanya apa-apa tadi."
Nika tersenyum tulus. "Ibu pernah bilang sama Dek Nika, Kak... kita tidak perlu membedah luka seseorang untuk bisa memeluknya dalam doa. Cukup percaya bahwa Allah sedang membentuknya menjadi manusia yang lebih bernilai."
Asa menatap Nika beberapa detik. Di dalam hatinya yang paling sunyi, sebuah nama terukir semakin dalam. Sebuah rasa syukur yang teramat agung: bahwa di dunia yang kadang terlalu bising dan kasar ini, Allah mengirimkan jiwa sehalus Nika untuk berjalan di bumi yang sama.
"Semoga Allah menjagamu, Dek Nika," bisik Asa lirih.
"Semoga Allah menguatkan langkah Kak Asa," balas Nika lembut.
Mereka pun berpisah di ambang pintu salat. Asa melangkah ke shaf depan jamaah pria, sementara Nika berjalan menuju area wanita.
Di bawah naungan rumah-Nya, di saat kening mereka sama-sama menyentuh sajadah dalam sujud yang panjang, dua hati itu tak lagi merasa asing. Mereka telah dipertemukan oleh luka, dan diajarkan oleh waktu bahwa perasaan paling hakiki tidak selalu bermula dari tawa—ia sering kali tumbuh subur dalam keheningan, disiram oleh air mata yang jatuh dalam doa-doa yang tak bersuara.
Selanjutnya di Bab 5: "Ayat-Ayat Yang Disimpan Dalam Sunyi" Sesuatu yang tak sempat terucap di serambi mushala, ternyata menemukan jalannya sendiri melalui lembaran-lembaran doa. Namun, ketika ujian baru datang mengetuk pintu rumah Asa, sanggupkah jarak dan diam menjaga perasaan yang bahkan belum pernah diberi nama?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar