Overture Menuju Novel Blog Pertamaku: 7305 Hari Menjaga Asa Dalam Doa

"Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang disembunyikan di dalam dada manusia."

Ada doa yang tidak pernah berhenti, meskipun bibir telah lama diam. Ada rindu yang memilih bersujud daripada mencari jalan pulang. Ada cinta yang tidak tumbuh untuk dimiliki, melainkan untuk menjaga seseorang tetap baik-baik saja, meski dari kejauhan. Barangkali begitulah cara Allah mendidik sebagian hati. Bukan dengan mempercepat pertemuan, melainkan dengan mengajarkan kesabaran. Bukan dengan mengabulkan semua harapan saat itu juga, melainkan dengan membentuk manusia agar kelak mampu menerima jawaban-Nya dengan penuh syukur.

Novel ini lahir dari keyakinan sederhana bahwa tidak semua kisah memiliki akhir yang sempat disaksikan oleh mata manusia. Sebagian berhenti di sebuah perpisahan. Sebagian selesai pada selembar doa setelah shalat malam. Sebagian lagi tetap hidup di dalam ingatan, tanpa pernah meminta untuk dimiliki. Mungkin, di antara kita pernah ada yang mengenal seseorang yang mengajarkan arti perjuangan, keikhlasan, atau keberanian untuk menjadi lebih baik. Seseorang yang tidak pernah benar-benar hilang, tetapi juga tidak lagi berjalan di samping kita. Seseorang yang namanya tetap terucap lirih di sela doa, bukan karena kita ingin mengubah takdir, melainkan karena kita bersyukur pernah dipertemukan dengannya.

Kisah yang akan dibaca bukanlah catatan tentang cinta yang melawan takdir. Bukan pula kisah tentang dua hati yang mengabaikan amanah kehidupan. Sebaliknya. Ini adalah kisah tentang dua manusia yang memilih menjaga kehormatan cintanya, meski harus menguburnya di tempat paling sunyi: di dalam doa. Mereka tidak pernah berjanji untuk saling menunggu. Tidak pernah saling meminta. Tidak pernah saling memiliki. Mereka hanya sama-sama percaya bahwa setiap pertemuan adalah amanah, dan setiap perpisahan adalah bagian dari pendidikan Allah kepada hamba-Nya.

Apakah kisah ini benar-benar pernah terjadi? Barangkali.
Apakah tokoh-tokohnya sungguh ada? Mungkin.
Namun setelah halaman pertama dibuka, itu tak lagi menjadi hal yang penting.

Karena pada akhirnya, setiap pembaca akan menemukan dirinya sendiri di dalam cerita ini. Mungkin pada bangku tua yang menyimpan kenangan. Mungkin pada sebuah buku yang tak pernah sanggup dibuang. Mungkin pada sehelai kemeja putih yang diam-diam dijahit bersama doa. Atau mungkin... Pada satu nama yang hingga hari ini masih sesekali disebut setelah doa untuk orang tua, pasangan, dan anak-anak selesai dipanjatkan bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dititipkan kepada Allah. Jika nanti, di tengah perjalanan membaca novel ini, mata Anda tiba-tiba berkaca-kaca tanpa tahu sebabnya... Jangan buru-buru menghapus air mata itu.

Barangkali Allah sedang mengingatkan bahwa setiap hati pernah belajar tentang rindu. Tentang ikhlas. Dan tentang doa yang tidak pernah benar-benar hilang. Selamat datang di sebuah kisah yang dijaga oleh waktu selama **7.305 hari**. Semoga, ketika halaman terakhir ditutup, yang tersisa di hati kita bukan penyesalan karena terlambat mengucapkan cinta. Melainkan keyakinan bahwa tidak ada satu pun doa yang dipanjatkan dengan tulus yang sia-sia. Sebab di sisi Allah, cinta yang paling indah bukanlah yang paling cepat dipertemukan. Melainkan yang paling lama menjaga kehormatannya.

Selamat Membaca :)
Love
Ken Ulinnuha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebaikan Yang Sederhana

Mengapa Takut Pada Lara?

Si Penyembunyi Amal

Fitrah Based Education [Part 3]: Framework

Pendidikan Indonesia yang Mekhawatirkan