Kita Tidak Bisa Memilih, Tapi Bisa Memutuskan
Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari keluarga yang seperti apa. Apakah dari keluarga dengan Islam yang sangat kuat sehingga membentuk anak-anak menjadi Akhlakul Karimah, rajin beribadah, pintar mengaji, aktif di masjid atau dari keluarga yang biasa-biasa saja. Bahkan tidak pernah melaksanakan sholat berjamaah di rumah, orang tua tidak bisa mengaji, dari kecil penuh penderitaan. Kita tidak bisa memilih. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari keluarga yang bagaimana. Apakah penuh cinta dan kasih sayang sedari kecil, semuanya serba ada, berkecukupan atau justru dilahirkan dari keluarga yang amat sangat miskin, orang tua bekerja serabutan, kekerasan rumah tangga sudah menjadi biasa bahkan cinta dan kasih sayang orang tua tidak pernah dirasakan. Kita memang tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari keluarga seperti apa, bagaimana atau yang mana. Namun kita bisa memutuskan, kelak kita ingin menjadi orang tua yang bagaimana, keluarga yang seperti apa dan anak-anak yang akan t...
Komentar
Awalnya beban batin ini cukup mengganggu setiap aktivitas di tiap waktu, bahkan hingga kesehatan fisik pun terpengaruh. Mungkin karena belum siapnya menerima kenyataan antara cita, cinta, dan asa tidak sinkron. Hingga aku buat sebuah kalimat penyemangat diri sendiri " Lakukan Sekarang, Ikhlas karena Allah, YAKIN BISA !!!".
Namun, hingga saat masih belum optimal konsisten dengan kalimat itu. Yang jelas hingga detik ini tetap mencari dimana semangat, salah satunya buku La Tahzan karya DR. Aidh al-Qarni ini yang benar2 cukup menggambarkan maslah dan nasehat seharusnya. Sekarang udah di re-posting di http://www.ekosmax.com/tag/la-tahzan