Postingan

Apa Kabar Calon Pendampingku?

Allah, bagaimana kabar calon pendampingku saat ini? Apakah hatinya sedang belajar untuk bersabar? Apakah jiwanya juga sedang belajar untuk menguatkan diri? Allah, apakah dia juga sedang berproses untuk lebih baik sepertiku? Aku merindukannya Allah, tapi aku tak tahu siapa yang dapat kurindukan. Bukankah sudah tertulis dalam lauh Mahfuzku dan saatnya nanti kau akan perlihatkan padaku pada pertemuan suci bernama pernikahan. Allah, apakah calon pendampingku adalah orang yang jujur seperti khalifah Abu Bakar, yang juga sangat setia pada Rasullulah, yang ikhlas menginfakkan seluruh hartanya untuk dakwah? Atau seperti umar, yang tegas dan keras namun hatinya sangat lembut? Atau seperti Usman yang dermawan dan penuh kebaikan atau seperti Ali Bin Abi Thalib yang sangat beruntung mendampingi putri Rasullulah, Fatimah. Aku iri dengan Fatimah, dia begitu mengagumi Ali dan mencintai Ali sebelum menikah, sehingga setelah menikah Fatimah pun berkata pada Ali bahwa Ali adalah orang yang dicintainy...

Al Qur'an Ku Sayang :)

Aku suka sekali dengan Al Quran, entah kenapa aku sangat rindu dengannya. Sehari saja tidak menyentuh dan membacanya, rasanya ada separuh hatiku yang kosong. Aku suka sekali dengan keindahan bahasanya. Masya Allah, ini adalah kitab yang luar biasa dan ini adalah satu-satunya kitab yang benar-benar sempurna, yang datang dari kelembutan jiwa. Al Quran, kitab suci Allah yang diturunkan untuk Rasulnya, Nabi Muhammad SAW. Kitab yang menyingkap semua tabir kehidupan manusia, kitab yang demikian hebatnya. Dan kalau aku bilang, Al Quran itu unik, keunikan itu aku dapatkan dari sebuah buku yang baru-baru ini sedang aku baca. Kosa kata dalam Al Quran seimbang jumlahnya, seperti kata hayat terulang sebanyak antonimnya maut masing-masing 145 kali, akhirat terulang 115 kali sebanyak kata dunia, malaikat terulang 88 kali sebanyak kata setan. Kemudian fenomenal keajaiban angka 19 seperti dalam bismillahir rahmaanir rahiim, jumlahnya ada 19 angka, nah kata-kata ismi, Allah, Ar Rahmaan da...

Untukmu Ibu...

ibu... terima kasih atas kebahagiaan hari ini... mendampingi berdiri bersama bapak karena kelulusanku... ibu... aku mencintaimu, seperti cinta laut kepada airnya, tak pernah mau kering selamanya... ibu.... terima kasih atas setiap air mata dan peluhmu... pengorbanan yang luar biasa kepadaku... ibu... ibu,,, ibu,,, Engkaulah alasan terindahku untuk tetap berjuang dengan hatiku...

Berjanjilah padaku Ya Rabb

Ya Rabbi,,,, aku menahannya hingga menjadi karang dalam hati.. namun aku melakukannya untukMu Ya Rabb untuk menjalankan setiap syariatMu.. Ya Rabbi,,,, aku menahannya hingga menjadi luka dalam hati... tapi biar saja luka itu menganga karena Engkau akan mengobati.. Ya Rabbi,,,, kuatkanlah kesabaran ini untuk tetap pada syariatMu... yakinkan padaku bahwa janjiMu pasti tidak mungkin tidak terjadi Ya Rabbi,,, aku melihat begitu banyak umatMu yang melakukan hal2 yang tidak kau sukai namun mereka tetap tertawa dan bahagia, bahkan tidak peduli... ya Rabb, tidakkah mereka tau bahwa itu adalah kesalahan? maafkanlah karena mereka tidak mengerti... Ya Rabbi,,, biarlah aku menjadi sangat sakit asal kau menjamin kebahagiaanku  biarlah aku menjadi sangat menderita asal kelak aku bisa berjumpa denganMu... Ya Rabbi,,, bisakah kau berjanji bahwa semua ini adalah tidak abadi? dan yakinkanlah padaku bahwa keabadian ada di dekatku kelak... Ya Rabbi,,, aku sangat takut pad...

Masalah itu manis... :D

 “Jangan katakan kepada Allah kalau kita punya masalah,  tapi katakan kepada masalah kalau kita punya Allah” Kutipan di atas saya  copas  dari status  Facebook  salah satu teman saya. Setelah membaca status itu saya langsung me-like-Nya padahal baru beberapa detik muncul di laman  Facebook . Karena menurut saya kata-kata di atas sangat luar biasa. Iya, di tengah banyak dinding-dinding  Facebook  digunakan sebagai luapan keluh kesah, kekesalan, dsb. Yang seolah-olah menunjukkan ketidakikhlasan kita dalam menerima segala takdir ketentuan Allah Swt, teman saya ini meng-update status dengan nilai optimis. Status teman saya di atas  sangat luar biasa menurut saya, dan status seperti itulah yang semestinya kita  publish  ke depan  facebooker mania . Karena dengan membaca status yang luar biasa itu, teman kita yang membacanya mungkin akan tercerahkan walau boleh jadi sebelum membaca status kita itu dia sedang kegu...

[PUISI] Aku Lebih Mencintai Allahku...

Berjalan di atas pasir, rasanya seperti berdesir Melahirkan asa, berbisik memulai cerita Angan dan janji telah ditorehkan sepanjang penantian Ingatlah ketika kita duduk bersama Berbagi cerita tentang mimpi dan harapan Seperti rona jingga dalam wajah seorang pujangga Berbagi bersama berlayar menyusuri derita Menemukan oase yang lama telah kita cari Lidah kita seperti kelu tak bertandu Kita masih disini Merangkai kata menjadi sebuah bait Yang tak kunjung terselesaikan Ingatlah pada Rabb kita yang senantiasa membuncah dalam dada? Aku berkata pada langit yang mulai suram, Pada bintang yang sedang tidak bersahabat Dan kau hanya terdiam Aku lebih mencintai Allahku, Bagaimanapun juga aku lebih memilihNya… Mungkin maav bukan kata yang dapat kurangkai Menjadi sajak yang lebih indah Namun sejenak saja pikirkan dengan hati sebening embun Tak pernahkah kau ingat bahwa aku bersama keegoisanku Digenangi butiran debu dan asap yang mulai memudar ...

istiqomah :)

Ketika dunia menyatakan sikap bahwa keberhasilan seseorang sebanding dengan ikhtiar dan doa serta takdir dari Sang Maha Daya, aku tetap disini, tetap seperti ini, seperti manusia yang berhenti di persimpangan tapi tak tau arah dan harus berjalan menuju simpang yang mana. Ketika dunia berdiri tegak dengan angkuh karena kesombongan menjadi keagungan, hukum tidak lagi berpihak pada kebenaran, aku tetap disini, seperti ini, seperti manusia yang menunggu kebenaran yang tak seorangpun tau kapan segalanya dipertanggungjawabkan. Ketika dunia sibuk merangkai kata-kata palsu nan penuh dusta, aku tetap disini, seperti ini, seperti manusia yang sibuk pada puisinya sendiri, merangkai syair demi syair tapi tak pernah mau membacakannya di depan para perangkai kata. Ketika dunia memiliki seribu alasan untuk membuat penghuninya menangis karena tak tau menangis untuk apa dan siapa, aku tetap disini, tetap seperti ini, seperti peri yang tak pernah berhenti menyeka air mata kesedihan karena seribu alasan...