PROLOG "Ada cinta yang memilih bersujud begitu lama, hingga ketika ia berdiri, Allah telah lebih dahulu mengubahnya menjadi doa yang dikabulkan." Konon, ada doa yang tidak pernah selesai diucapkan. Bukan karena lisannya kehabisan kata. Melainkan karena langit belum selesai menulis jawabannya. Orang-orang sering mengira bahwa cinta selalu dikenali dari seberapa berani ia diucapkan. Padahal, ada cinta yang justru tumbuh paling subur di tempat yang tidak pernah terdengar oleh manusia. Di antara desir tasbih yang diputar perlahan. Di sela air mata yang jatuh tanpa saksi. Di penghujung tahajud ketika dunia masih begitu sunyi, Sementara langit sibuk mencatat nama-nama yang disebut dengan penuh harap. Barangkali begitulah cara Allah menjaga sebagian hati. Bukan dengan mempercepat pertemuan. Bukan pula dengan mengabulkan seluruh keinginan. Melainkan dengan membiarkan waktu mengikis segala yang fana, hingga yang tersisa hanyalah doa. Sebab doa tidak pernah tergesa. Ia tahu jal...
"Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang disembunyikan di dalam dada manusia." Ada doa yang tidak pernah berhenti, meskipun bibir telah lama diam. Ada rindu yang memilih bersujud daripada mencari jalan pulang. Ada cinta yang tidak tumbuh untuk dimiliki, melainkan untuk menjaga seseorang tetap baik-baik saja, meski dari kejauhan. Barangkali begitulah cara Allah mendidik sebagian hati. Bukan dengan mempercepat pertemuan, melainkan dengan mengajarkan kesabaran. Bukan dengan mengabulkan semua harapan saat itu juga, melainkan dengan membentuk manusia agar kelak mampu menerima jawaban-Nya dengan penuh syukur. Novel ini lahir dari keyakinan sederhana bahwa tidak semua kisah memiliki akhir yang sempat disaksikan oleh mata manusia. Sebagian berhenti di sebuah perpisahan. Sebagian selesai pada selembar doa setelah shalat malam. Sebagian lagi tetap hidup di dalam ingatan, tanpa pernah meminta untuk dimiliki. Mungkin, di antara kita pernah ada yang mengenal seseorang yang ...
Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari keluarga yang seperti apa. Apakah dari keluarga dengan Islam yang sangat kuat sehingga membentuk anak-anak menjadi Akhlakul Karimah, rajin beribadah, pintar mengaji, aktif di masjid atau dari keluarga yang biasa-biasa saja. Bahkan tidak pernah melaksanakan sholat berjamaah di rumah, orang tua tidak bisa mengaji, dari kecil penuh penderitaan. Kita tidak bisa memilih. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari keluarga yang bagaimana. Apakah penuh cinta dan kasih sayang sedari kecil, semuanya serba ada, berkecukupan atau justru dilahirkan dari keluarga yang amat sangat miskin, orang tua bekerja serabutan, kekerasan rumah tangga sudah menjadi biasa bahkan cinta dan kasih sayang orang tua tidak pernah dirasakan. Kita memang tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari keluarga seperti apa, bagaimana atau yang mana. Namun kita bisa memutuskan, kelak kita ingin menjadi orang tua yang bagaimana, keluarga yang seperti apa dan anak-anak yang akan t...
BAB 3 Bangku yang Selalu Menunggu "Ada tempat yang dibangun dari semen dan batu. Ada pula tempat yang dibangun dari perjumpaan. Yang kedua, biasanya lebih sulit ditinggalkan." Tidak ada yang istimewa dari bangku itu. Panjangnya bahkan tak sampai tiga meter. Permukaannya mulai diselimuti lumut tipis setiap musim hujan datang, dan di sisi kanannya akar trembesi tua perlahan mendorong tanah, membuat semen di bawahnya retak seperti garis-garis usia pada wajah orang yang terlalu lama menunggu. Namun justru karena kesederhanaannya itulah bangku itu seperti tahu cara menjadi rumah bagi lelah. Setiap sore, ia selalu terisi. Kadang oleh mahasiswa yang sedang menatap proposalnya dengan mata kosong. Kadang oleh mereka yang baru saja kalah dalam debat, lomba, atau hidup. Kadang oleh seseorang yang hanya ingin duduk tanpa harus menjelaskan apa-apa kepada siapa pun. Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, waktu mulai belajar berjalan lebih pelan bagi Asa dan Nika. Hari-hari sebagai Presiden...
Masa Pralatih usia 0-7 tahun Penekanan pada permainan imajinasi, banyak menstimulasi sensorik dan motorik anak. Hingga usia 7 tahun anak belum memiliki tanggungjawab moral. Peran orang tua cukup sebagai fasilitator yang mengawasi dan mendokumentasikan anaknya bermain bebas dan spontan. Jadi jangan pusing dan terpenjara dengan jadwal kaku hari ini harus main apa, besok main apa. Fitrah keimanan: Membangkitkan kesadaran Allah sebagai Robb dengan keteladanan, kisah inspiratif dan kepahlawanan, membangkitkan imaji positif terhadap Diri, Allah, Ibadah, Agama. Fitrah Belajar: Membangkitkan logika dasar dan nalar melalui bahasa ibu sehingga sempurna ekspresinya, belajar bersama alam, belajar bersama kehidupan, imaji positif tentang alam, kehidupan dan belajar, belajar dari mencoba. Fitrah Bakat: Membangkitkan kesadaran bakat melalui aktifitas dan wawasan, dan mendokumentasikan aktifitas anak. Masa Pra Aqilbaligh I usia 7-10 tahun Penekanan pada belajar tentang sistem...
Komentar