Manusia Yang Mulia itu bernama Muhammad. Sungguh luar biasa Rasullulah SAW itu, hatinya lembut dan penuh dengan kehangatan. Beliaulah suri teladan terbaik bagi seluruh umat Manusia. Semakin hari, dunia fatamorgana ini semakin membuat manusia lupa keberadaan Allah, lupa kewajibannya terhadap Allah, bahkan mungkin lupa pada manusia paling mulia, suri teladan terbaik sepanjang masa, Nabi Muhammad SAW. Hati sanubarinya yang peka tidak pernah luput memperhatikan dambaan dan dukacita orang lain. Beliau shalat sangat khusuk, yang dilakukannya dengan hati senang dan bukan karena mendambakan mahkota kerajaan ataupun kekayaan dunia. Meskipun dalam shalatnya itu beliau senang membaca surah-surah yang panjang, namun ia segera melepaskan kebahagiaannya yang besar itu (dengan mempercepat shalatnya) hanya karena mendengar bayi menangis menunggu sang ibu yang ikut shalat bersama beliau. Yaitu karena kasih beliau pada bayi yang menangis memanggil sang ibu. Beliaupun seorang manusia yang kalbunya berget...
Masa Pralatih usia 0-7 tahun Penekanan pada permainan imajinasi, banyak menstimulasi sensorik dan motorik anak. Hingga usia 7 tahun anak belum memiliki tanggungjawab moral. Peran orang tua cukup sebagai fasilitator yang mengawasi dan mendokumentasikan anaknya bermain bebas dan spontan. Jadi jangan pusing dan terpenjara dengan jadwal kaku hari ini harus main apa, besok main apa. Fitrah keimanan: Membangkitkan kesadaran Allah sebagai Robb dengan keteladanan, kisah inspiratif dan kepahlawanan, membangkitkan imaji positif terhadap Diri, Allah, Ibadah, Agama. Fitrah Belajar: Membangkitkan logika dasar dan nalar melalui bahasa ibu sehingga sempurna ekspresinya, belajar bersama alam, belajar bersama kehidupan, imaji positif tentang alam, kehidupan dan belajar, belajar dari mencoba. Fitrah Bakat: Membangkitkan kesadaran bakat melalui aktifitas dan wawasan, dan mendokumentasikan aktifitas anak. Masa Pra Aqilbaligh I usia 7-10 tahun Penekanan pada belajar tentang sistem...
Andai matahari di tangan kananku Takkan mampu mengubah yakinku Terpatri dan takkan terbeli dalam lubuk hati Bilakah rembulan di tangan kiriku Takkan sanggup mengganti imanku Jiwa dan raga ini apapun adanya Andaikan seribu siksaan terus melambai-lambaikan derita yang mendalam Seujung rambut pun aku takkan bimbang jalan ini yang kutempuh Bilakah ajal kan menjelang jemput rindu-rindu Syahid yang penuh kenikmatan Cintaku hanya untukMu tetapkan muslimku selalu [Haris Isa: Keimanan] Entah, setiap mendengar lagu ini ada desiran halus dalam hati. Flashback moment kembali bagaimana merintis segala perjuangan yang pernah ditorehkan. Dengan air mata yang tak terhenti, dengan hati dan pikiran yang tak pernah tumpul. Perjuangan ini memang tidak bisa dibandingkan dengan jaman Rasullulah dan sahabat-sahabatNya, juga tidak sehebat perjuangan alim ulama hingga mengorbankan jiwa dan r...
Tidak ada keinginan terbesar dan harapan termegah tahun ini selain mengajukan proposal hidup ke Baitullah. Beribadah bersama orang yang dicintai melalui perjalanan umroh. Tidak ada hal yang paling diinginkan tahun ini selain mengiba dengan rintihan doa di depan ka'bah, memohon teramat dalam di Raudhoh dan sholat Sunnah di Hijr Ismail. Tidak ada hal yang sangat diimpikan selain berdoa di Multazam dengan air mata pertaubatan paling syahdu sedunia. Tidak ada hal yang sungguh didambakan selain mencium Hajar Aswad dan mengajukan proposal dunia akhirat kepada Rabb semesta alam langsung di depan ka'bah, bersama ia yang dicintai. Bersama ia yang tertulis di Lauhul Mahfuzh. Bersama ia yang mencintai Allah dan RasulNya, yang sungguh mendambakan pertemuan mesra dengan IllahNya. Ya Robbanaa, undang aku bersama yang kucintai ke Baitullah. Aku ingin berpeluk mesra dengan langitMu yang senantiasa bertasbih mengagungkanMu. Aku ingin berzikir melantunkan asmaMu di Masjid Nabawi yang k...
Kata orang, ketika kita mencintai keluarga kita, mencintai yang kelak akan menjadi suami kita, anak-anak kita, mencintai sesuatu tidak perlu ada alasannya, padahal menurutku alasan yang paling benar adalah Karena Allah. bener ga sih? mempertimbangkan seluruhnya karena Allah. kalau Allah suka, maka cintailah, kalau Allah tidak suka maka bencilah... jadi mencintai dan membenci karena Allah. menurutku ini alasan paling logis kok... :) Mencintai karena Allah tidak mungkin akan sakit hati apalagi sampe galau dan jadi stress, setauku mencintai Karena Allah pasti bahagia deh, hehe :). belakangan ini aku teringat pada kisah cinta Ali dan Fatimah, subhanallah kan ya? ternyata mereka mencintai sejak sebelum menikah, aku juga pengen kaya gitu, juga cinta Ibrahim kepada anaknya Ismail, karena cinta pada Allah lah Ibrahim rela mau menebas leher anaknya sendiri Ismail karena perintah Allah dalam mimpinya, kalo bukan cinta karena Allah ga mungkin kaya gitu kan? Mencintai ka...
Komentar