Kesedihan Nurani

Kesedihan itu tak dapat didefinisikan. Dia mengalir begitu saja dalam relung jiwa, menerjemahkan dengan sesak Dada Dan tetesan air mata. Entah darimana datangnya, mungkin dalam nurani yang tercabik-cabik. Mungkin juga nurani yang memberontak, seperti desakan yang terpaksa Dan lama dipendam.

Kesedihan itu tak bernyawa, dia mungkin saja menjadi sembilu yg menggoreskan Lara namun bisa saja menggelorakan desahan napas, tersengal Dan tak dapat berbicara. Seperti kelu Dan membisu. Mungkin nurani sedang teriris perih.

Kesedihan itu tak berwarna. Dia menggumpal begitu saja tak berpendar menjadi Cahaya keabadian. Hanya mengelompok mnjdi satu warna yang menghadirkan tanda tanya.

Kesedihan itu fitrah. Bahwa masing2 Dr kita memiliki nurani, dapat merasakan luka yang menganga. Namun apa yg lbh indah jika kesedihan adalah panji perjuangan. Menapaki setiap mozaik kehidupan dengan air mata keimanan. Menjadikan dakwah sebagai laku utama.

Kesedihan nurani membingkai kita mnjadi makhluk yang dicintaiNya, bahwa setiap air mata yang menetes disebabkan karena mencintaiNya. Tidak ada yg lbh indah. Tanpa tapi Dan tanpa nanti. Lillahi ta'ala.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keinginan Termegah: Pergi Ke Baitullah Bersama Yang Dicintai

Would The World Be Better Without Islam? Absolutely No!

Sekuat Apa Jika Kau Seorang Diri?

Muhasabah Diri

Siapakah Yang Paling Baik Akhlaknya?